Khutbah dan Khatib

Minggu, 28 Juli 2019 19:19 WIB
Penulis: Drs H Iqbal Ali, MM
Khutbah dan KhatibH Iqbal Ali
SEBAGAI salah satu bentuk dakwah, khutbah jumat merupakan kegiatan yang paling banyak menyerap partisipasi umat. Khutbah jumat merupakan rangkaian shalat Jumat, maka setiap orang Islam laki-laki berbondong-bondong ke masjid.

Secara teori, 50% dari jumlah penduduk Indonesia (260 juta) yaitu 130 juta adalah laki laki dan 60% dari jumlah tersebut yaitu 78 juta ikut shalat Jumat. Cukup fantastis jumlah orang yang bersedia menerima informasi tentang Islam melalui khutbah.

Ironisnya, khutbah belum tertangkap secara baik oleh lembaga dakwah dan khatib untuk dikelola secara profesional melalui suatu perencanaan yang sistematis. Jamaah mendengarkan khutbah hanya memenuhi kewajiban syar’i atau hanya sekedar rutinitas.

Padahal, khutbah Jumat bukan sekedar melepaskan beban syar’i, akan tetapi juga harus merupakan teknik memecahkan permasalahan yang dihadapi umat, baik dalam bidang ubudiyah maupun kehidupan sosial ekonomi.

Fakta dan kenyataan bahwa khutbah belum mencapai sasaran, belum berdampak dalam keseharian perilaku umat. Kenapa? Untuk menjawabnya kita kutip pendapat beberap tokoh Islam, antara laian: wartawan 3 zaman H Rosihan Anwar (alm), beliau mengkritik keras kebiasaan para khatib yang biasa bertele-tele, berputar-putar, berulan-ulang tak karuan, sementara jamaah asyik terkantuk-kantuk.

Senada dengan Rosihan Anwar, Djaafar Asegaf, dalam sebuah seminar di Masjid Istiqlal tahun 1995 menyimpulkan: ''Khatib saat ini kurang bisa mengetengahkan materi yang relevan dengan kehidupan dan problematika umat. Konten khutbah berkisar ibadah dan taqwa, belum memberikan nilai positif pada jamaah.''

Dua puluh tahun yang lalu apa yang dikritik oleh dua tokoh Islam di atas, hari ini pun belum benyak perubahan. Apalagi saat ini jamaah salat Jumat bukan hanya berasal dari kelompok bawah, sekarang sudah banyak kaum intelektual ikut salat Jumat. Tentu dibutuhkan khatib intektual pula dan berwawasan luas yang bisa mengetuk kalbu para intelektual tersebut.

Dapat menjadi kebutuhan bagi jamaah, barangkali hal-hal berikut perlu kita simak, terutama bagi para khatib: Pertama, sampaikanlah khutbah secara sistematis tanpa bertele-tele dan berulang-ulang, tidak perlu lama sekitar 15-20 menit. Kedua, materi harus sesuai dengan konteks kehidupan keseharian masyarakat dan tak perlu menghambur-hamburkan ayat dan hadis begitu banyak, secukupnya saja sesuai konteks. Ketiga, Khatib jangan bosan menambah ilmu dan wawasan sekaligus mengikuti perkembangan zaman yang begitu cepat berobah. Empat, tampillah dengan pakaian rapi, utamakan budaya Indonesia, gagah, percaya diri dan tidak kere.

Lima, kita kutip saran dari Tarmizi Taher, mantan Menteri Agama: ”Khutbah harus dirancang secara profesional agar efektif, dikelola dengan serius dan mempesona agar jamaah tidak mengantuk.''

Demikian sedikit seluk beluk khutbah dan khatib, mari kita interospeksi, terutama para khatib, takmirin dan jamaah sendiri. Semoga shalat Jumat dan khutbah betul-betul menjadi kebutuhan umat dan berdampak dalam keseharian kita. Insya Allah.***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah dosen dan pengamat sosial kemasyarakatan.

Kategori:Opini

wwwwww