Loading...    
           

Kisah Nenek Sahnun dan Memudarnya Modal Sosial Kita

Jum'at, 23 Agustus 2019 19:40 WIB
Penulis: Mujiono, SE
Kisah Nenek Sahnun dan Memudarnya Modal Sosial KitaMujiono
SEORANG nenek pemulung berusia 60 tahun di Mataram, Nusa Tenggara Barat, membuat publik terharu dengan kebaikan hatinya.

Dikutip dari Tribunmataram (2/8/2019), nenek bernama Sahnun memberikan uang senilai Rp10 juta untuk berkurban pada Idul Adha tahun ini. Nenek Sahnun sehari-harinya mengumpulkan sampah untuk dijual. Dirinya tinggal sebatang kara tidak memiliki rumah di Mataram dan keluarganya berasal dari Narmada, Lombok Barat. Nenek Sahnun pun menumpang tidur di sebuah kios di samping barat Mal Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Kisah seorang nenek pemulung yang mampu menyumbang Rp10 juta untuk berkurban begitu menghebohkan masyarakat Indo-nesia. Kisah ini begitu fenomenal dan luar biasa mengingat nenek Sahnun yang telah berusia senja bukanlah seorang nenek jutawan, akan tetapi hanya seorang pemulung yang hidup sebatang kara dan hanya berteduh dengan menumpang pada sebuah kios milik warga. Kenapa kisah ini begitu fenomenal dan makna seperti apa yang harus kita petik demi meningkatkan indeks modal sosial kita?

Modal sosial merupakan sumber daya yang melekat dalam hubungan sosial. Modal sosial terbentuk dari hubungan sosial antar individu sehingga besaran modal sosial sangat bergantung pada kemampuan dalam hubungan sosial atau kapabilitas sosial individu.

Pada umumnya, para ahli memandang modal sosial setara dengan modal pembangunan lainnya yaitu modal ekonomi dan modal manusia. Modal sosial bahkan tidak jarang dilihat sebagai katalisator atau perekat yang memungkinkan modal-modal pem-bangunan lainnya bekerja saling memperkuat untuk menghasilkan output yang lebih efektif dan efisien.

Berkurban merupakan sebuah ibadah yang dilakukan umat Muslim seluruh dunia. Berkurban di samping merupakan wujud ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta, berkurban juga merupakan wujud kepedulian kita kepada sesama. Kisah nenek Sahnun yang mampu berkurban dengan uang yang begitu besar telah menyentuh dan menyadarkan diri kita bahwa begitu besar kepedulian beliau kepada sesama. Sebagai masyarakat yang hanya berprofesi sebagai pemulung, jalan kehidupannya mungkin tidaklah semulus yang kita bayangkan.

Masih banyak masyarakat kita yang menganggap bahwa profesi pemulung adalah profesi rendah, bahkan sering pula kita lihat tulisan peringatan di tempat tertentu berbunyi ''pemulung dilarang masuk''. Tetapi semua itu tidak menyurutkan niat nenek Sahnun untuk terus peduli pada sesama.

Nenek Sahnun mungkin bukanlah orang yang berpendidikan tinggi, namun sifat budi pekertinya yang begitu mulia tidaklah sebanding dengan kita yang mungkin ber-pendidikan tinggi dan mungkin setiap waktu selalu berdasi. Kenapa kisah nenek Sahnun ini harus kita jadikan model dalam kehidupan kita. Semua ini tidak terlepas bahwa kondisi hidup bermasyarakat sebagian masya-rakat kita semakin mengendur, rasa percaya kita kepada orang lain semakin menurun, kondisi ini semakin diperparah dengan jiwa tolong menolong sebagian masyarakat kita yang juga semakin menurun.

Pesta demokrasi yang notabene adalah suatu proses pendewasaan kita terhadap politik dengan berdemokrasi, ternyata mau tidak mau telah membuat masyarakat kita menjadi terkotak-kotak sebagai efek dari pilihan yang berbeda. Kondisi diatas semakin membuat modal sosial yang telah kita bangun dan perkuat semakin memudar. Jika kita tidak waspada, seiring waktu modal sosial kita akan jatuh pada titik terendah yang tentunya sangat tidak kita harapkan, padahal kita sepakat bahwa modal sosial yang baik akan mendukung proses pembangunan semakin cepat terwujud.

Secara umum, indeks modal sosial Provinsi Riau berada pada posisi 42,67 pada sekala 0-100. Angka ini berada jauh dibawah angka Nasional yang mencapai 47,86. Provinsi Riau menduduki peringkat ke 28 dari 34 provinsi se Indonesia. Kondisi ini menggambarkan bahwa kondisi modal sosial masyarakat Riau masih harus lebih ditingkatkan lagi agar mampu dijadikan sebagai modal pembangunan.

Jika kita telaah lebih dalam, pada wilayah perdesaan ternyata indeks modal sosial masyarakat Riau lebih tinggi dibandingkan masyarakat yang tinggal di perkotaan. Indeks modal sosial di perdesaan sebesar 44,72 serta perkotaan hanya sebesar 39,48. Selain itu, sikap percaya merupakan unsur utama pembentuk modal sosial.

Tanpa adanya rasa percaya, maka akan sangat sulit terjadinya hubungan yang baik disuatu masyarakat, saat ini indeks sikap percaya masyarakat Riau di perdesaan sebesar 59,41 dan di perkotaan sebesar 52,83. Kondisi sikap percaya masyarakat Riau secara umum lebih rendah jika dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara yang mencapai 63,69 di perdesaan serta 53,35 di perkotaaan. Di samping itu, sikap percaya kita juga berada dibawah Sumatera Barat yang mencapai 62,65 di perdesaan dan 54,61 di perkotaan.

Sikap toleransi beragama masyarakat kita yang menggambarkan sikap mau menerima dan menghargai perbedaan diantara anggota masyarakat juga menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Sikap toleransi beragama di perdesaan hanya sebesar 34,92 dan di perkotaan sebesar 35,96.

Selain itu, dilevel nasional komponen modal sosial yang tidak kalah penting dan patut menjadi perhatian kita adalah semakin memudarnya budaya tolong menolong sesama masyarakat. Kesediaan masya-rakat kita membantu orang lain atau tetangga yang mem-butuhkan pertolongan hanya sebesar 57,19. Kondisi budaya tolong menolong sesama masyarakat juga tergambar dari mudah tidaknya masyarakat mendapatkan bantuan yang hanya mencapai 50,52.

Semakin memudarnya modal sosial masyarakat kita harus menjadi telaah kita bersama. Kisah nenek Sahnun patutlah menjadi motifasi diri, untuk menjadi masyarakat yang peduli tidaklah kita harus menunggu berdasi. Jika kita belum mampu menyembelih hewan kurban seperti nenek sahnun, setidaknya sembelihlah sifat sombong pada diri kita yang selalu merasa benar dan selalu ingin didengar.

Selain itu, jika kita belum mampu untuk melempar jumroh seperti saudara kita yang sedang berhaji, maka setidaknya mari kita lempar sifat iri, dengki, amarah dan dendam pada diri kita, agar kita mampu memandang orang lain atau tetangga kita dengan penuh kasih sayang. Di samping itu, jika kita juga belum mampu untuk mengelilingi ka’bah di musim haji ini, maka setidaknya kunjungilah saudara kita, tetangga kita, sahabat kita agar terjalin silaturahmi yang erat yang pada akhirnya akan menumbuhkan dan memperkuat modal sosial kita.

Mimpi nenek Sahnun bukanlah ingin memperkaya diri, bukan pula ingin membangun rumah megah bak istana raja. Mimpi nenek sahnun hanyalah ingin mencari nafkah memulung dengan damai, tanpa ada perkelahian di masyarakat, serta masyarakat yang semua peduli kepada sesama. Dan mimpi itu akan terwujud jika modal sosial kita bangun serta tetap kita jaga bersama-sama.***

Mujiono, SE adalah Statistisi Ahli BPS Provinsi Riau.

Kategori:Opini

       
        Loading...    
           
wwwwww