Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Arema FC Luncurkan Program Inovatif Memeriahkan Hari Ulang Tahun
Sepakbola
13 jam yang lalu
Arema FC Luncurkan Program Inovatif Memeriahkan Hari Ulang Tahun
2
Belasan Tahun Raih WTP, DPD Targetkan Zero Temuan Tahun Depan
Nasional
22 jam yang lalu
Belasan Tahun Raih WTP, DPD Targetkan Zero Temuan Tahun Depan
3
Imbas Pandemi Covid 19, Persaingan Kerja Lulusan Baru Makin Ketat
DPR RI
24 jam yang lalu
Imbas Pandemi Covid 19, Persaingan Kerja Lulusan Baru Makin Ketat
4
Bamsoet Dorong Semua Komunitas Pemukiman Patuhi Protokol Kesehatan  
MPR RI
24 jam yang lalu
Bamsoet Dorong Semua Komunitas Pemukiman Patuhi Protokol Kesehatan  
5
Perkuat Perekonomian Pedesaan Atasi Resesi Ekonomi
MPR RI
24 jam yang lalu
Perkuat Perekonomian Pedesaan Atasi Resesi Ekonomi
6
Waspadai Covid 19, Zohri Tiba di Jakarta, 12 Agustus 2020
Olahraga
14 jam yang lalu
Waspadai Covid 19, Zohri Tiba di Jakarta, 12 Agustus 2020

Kecepatan dan Ketinggian Lion Air JT 610 Tak Menentu Jelang Jatuh, Pakar Menduga Instrumen Ini Malfungsi

Kecepatan dan Ketinggian Lion Air JT 610 Tak Menentu Jelang Jatuh, Pakar Menduga Instrumen Ini Malfungsi
Grafik kecepatan dan ketinggian Lion Air JT 610 menjelang jatuh di perairan Tanjung Karawang. (liputan6.com)
Rabu, 31 Oktober 2018 13:30 WIB
JAKARTA - Pesawat Lion Air JT 610 jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi. Untuk memastikan penyebab jatuhnya, harus membaca data rekaman kotak hitam (black box) yang ada pada pesawat naas tersebut.

Namun demikian, sejumlah analis penerbangan mencoba menyampaikan teori terkait dugaan penyebab kecelakaan Lion Air yang bermuatan 189 orang itu. 

Dikutip dari liputan6.com, malfungsi salah satu instrumen Boeing 737 MAX 8 itu, diduga menjadi penyebab signifikan jatuhnya Lion Air naas tersebut.

Sebelum hilang kontak dan jatuh, pesawat anyar yang baru diproduksi itu menunjukkan perubahan yang tidak menentu dalam kecepatan, ketinggian (altitude) dan arahnya. Hal itu menyebabkan para ahli berspekulasi bahwa ada masalah pada instrumen pesawat yang digunakan untuk menghitung kecepatan dan ketinggian pesawat, yang mungkin telah menyebabkan kecelakaan itu, demikian dilaporkan Russel Goldman untuk the The New York Times, yang dikutip Rabu (31/10/2018).

Malfungsi pada indikator yang bernama tabung pitot (pitot tubes), pernah menjadi penyebab dalam beberapa kecelakaan penerbangan sebelumnya.

Namun, para ahli menegaskan, untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan Lion Air JT 610 pada akhirnya tetap memerlukan perekam data penerbangan pesawat, yang disebut sebagai kotak hitam (black box).

Lion Air JT 610 berangkat dari Jakarta pada hari Senin pukul 6.20 pagi untuk menuju Pangkal Pinang. Setelah lepas landas, pesawat sempat mencapai ketinggian 2.100 kaki sebelum kemudian 'terjun' menjadi sekitar 1.475 kaki, demikian menurut data satelit yang dikirimkan dari pesawat dan ditayangkan oleh situs penerbangan Flightradar 24.

Beberapa saat kemudian, pesawat naik ke ketinggian bervariasi antara 4.500 dan 5.350 kaki. Data kemudian menunjukkan penurunan yang tajam, hingga hilang kontak pada pukul 6.32 pagi. Kapal terbang itu jatuh, dan diduga kuat menewaskan 189 orang di dalamnya.

Dalam penerbangan normal, garis-garis pada grafik Flightradar 24, yang mewakili kecepatan (kuning) dan ketinggian (biru), biasanya akan naik ke relatif halus. Tetapi, pada penerbangan Lion Air JT 610 hari pada Senin, grafik itu menunjukkan fluktuasi, turun naik.

''Grafik penerbangan yang tidak menentu membuat kami mencurigai adanya masalah dengan sistem pitot-static (tabung pitot),'' kata Gerry Soejatman, seorang pakar penerbangan Indonesia, kepada The New York Times.***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:Ragam

wwwwww