Madhumala, Wanita India yang Menaklukkan Keganasan Suku Primitif Sentinel

Madhumala, Wanita India yang Menaklukkan Keganasan Suku Primitif Sentinel
Madhumala Chattopahdyay dan warga Suku Sentinel. (kumparan)
Senin, 10 Desember 2018 17:41 WIB
NEW DELHI - Belum lama ini, seorang turis asal Alabama, Amerika Serikat, bernama John Allen Chau, dikabarkan tewas akibat serangan suku Sentinel di Pulau Sentiel, sebuah pulau terpencil di Kepulauan Andaman, India.

Hingga kini jasad John belum ditemukan. Namun salah seorang nelayan mengaku bahwa pria malang tersebut diduga dibunuh dengan dengan anak panah dan jasadnya dikubur di sekitar pantai. Suku Sentinel memang kerap menyerang siapa pun orang asing yang berani masuk ke daerahnya.

Dikutip dari kumparan.com, Suku Sentinel dikenal berbahaya, bahkan disebut-sebut sebagai suku terganas di dunia. Pasalnya, suku tersebut sangat terisolir dan menolak kontak dengan dunia luar atau kehidupan modern.

Dua orang nelayan juga pernah tewas diserang Suku Sentinel. Mereka pun pernah menyerang dengan anak panah para tim penyelamat pasca-terjadinya tsunami yang datang meggunakan helikopter .

Pemerintah India telah melarang siapa pun berkunjung ke Pulau Setinel karena sangat berbahaya.

Namun meski dikenal sangat berbahaya dan tidak ramah terhadap pendatang, teryata pernah ada seorang wanita yang berhasil mendarat dengan selamat dan 'menaklukkan' hati suku primitif tersebut.

Dilansir laman Thebetterindia.com, wanita itu adalah Madhumala Chattopahdyay, seorang pejabat sekaligus peneliti senior di Kementerian Keadilan dan Pemberdayaan Sosial, India. Tepat pada tanggal 4 Januari 1991, Madhumala adalah orang pertama yang berhasil menjalin hubungan persahabatan dengan suku Sentinel, di Pulau Sentinel, Kepulauan Andaman, India.

Madhumala membuktikan bahwa tindakan yang ia lakukan adalah jauh dari anggapan yang selama ini menjadi ketakutan, karena sejatinya suku tersebut adalah suku paling berbahaya dan terganas di dunia.

''Tidak pernah dalam enam tahun saya melakukan penelitian sendiri dengan suku-suku Andaman. Tidak ada pria yang bertingkah laku dengan saya. Suku-suku mungkin primitif dalam pencapaian teknologi mereka, tetapi secara sosial mereka jauh di depan kita,'' ungkapnya kepada Bengal Publication, pada tahun 2015 lalu.

Tidak hanya itu, Madhumala ternyata sudah sangat tertarik dengan dunia suku-suku di kepulauan Andaman sejak berusia 12 tahun. Di mana saat itu tengah menemukan kliping berita di rumahnya di daerah pinggiran Shibpur, Kolkata, yang berbicara tentang kelahiran seorang anak di atanra suku Onge yang hampir punah.

Dari keinginannya itulah, Madhumala yang telah mempelajari antropologi di bangku kuliah dan berani mengajukan permohonan beasiswa PhD ke Antropological Survey of India untuk melakukan penelitian lapangan di pulau-pulau terpencil ini.

Namun, jalannya untuk melakukan penelitian ternyata tak semulus perkiraannya. Banyak kekhawatiran yang melanda yang memungkinkan hal yang tidak aman untuk melakukan penelitian ke pulau-pulau tersebut.

Tetapi, solusi pun akhirnya datang ketika komite meminta ibu Madhumala untuk menandatangani suatu permohonan bahwa ASI (Antropological Survey of India) tidak akan bertanggung jawab jika ada sesuatu yang tidak menguntungkan yang terjadi selama penelitian.

Pada akhirnya ibu Madhumala menandatangani surat tersebut. Selama enam tahun berikutnya, ia melakukan penelitian tentang suku-suku Andaman. Sampailah pada hari-hari yang ditunggu oleh Madhumala, yaitu tanggal 4 Januari 1991. MV Tarmugli menjatuhkan jangkarnya di dekat bagian barat daya Pulau Sentinel. Dari sana 13 awak dibawa dengan perahu kecil ke pulau.

Ketika mereka melakukan pendekatan, saat itulah para pejabat dan peneliti di kapal pertama kali melihat Sentinelese, beberapa dari mereka bersenjata busur dan panah. Pihak yang berkunjung mengambil inisiatif menjatuhkan kelapa di dalam air. Tiba-tiba, sekelompok kecil Sentinel mendekati mereka dengan sampan dan mengambil persembahan.

Namun, mereka tetap pada senjatanya masing-masing dengan busur panah yang menghadapkan ke para pendatang. Namun, tanpa diduga, ketika penempak panah itu hendak melepaskan panahnya ke arah pendatang, seorang wanita Sentinel berdiri di dekatnya dan melakukan dorongan sehingga panah tersebut meleset tanpa melukai siapapun.

Melihat seorang wanita Senitinel itu dan mengandaikan bahwa mereka tidak mengancam setelah insiden itu, Madhumala langsung masuk ke dalam air dan memberika kelapa secara pribadi.

Ini adalah sejarah dalam pembuatannya. Kontak damai pertama antara sentinelese dan pihak luar yang dipicu oleh kehadiran seorang wanita.

Kasus yang menimpa John Allen Chau, membawa perspektif unik dan sangat dibutuhkan.

''Tetapi bukan seperti mereka menyerang pertama kali, mereka menunjukkan tanda-tanda peringatan melalui gerakan wajah, pisau, busur dan panah dan kemudian mengambil tindakkan jika mereka tidak dihargai. John Allen Chau pasti menghadapi situasi yang sama,'' katanya kepada The Print.***

Editor:hasan b
Sumber:kumparan.com
Kategori:Ragam

GoNews Nekat Masuki Pulau Terpencil yang Terlarang, Misionaris Muda Tewas Dipanah Suku Sentinel
GoNews Tak Merasa Hamil dan Siklus Haid Lancar, Gadis 18 Tahun Ini Kaget Tiba-tiba Melahirkan Bayi, Begini Penjelasan Dokter
GoNews Ibu Mertua Kepergok Menantu Lubangi Semua Kondom di Kamar, Ternyata Ini Tujuannya
GoNews Ingat, Supermoon Terbesar dan Paling Terang Terjadi Besok Malam
GoNews Wanita Cantik Ini Hembuskan Nafas Terakhir Beberapa Jam Usai Dinikahi Tunangannya
GoNews Kasur Ini Bisa Deteksi Pasangan Berselingkuh, Begini Sistim Kerjanya
GoNews Rasulullah SAW Suruh Umatnya Duduk Saat Buang Air Kecil, Ternyata Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Pria
GoNews Tradisi Unik, Para Wanita di Pegunungan Himalaya Miliki Beberapa Suami, Ini Sejumlah Alasannya
GoNews Unik, Wanita Suku Ini Boleh Berganti Suami Setiap Malam
GoNews Rutinlah Konsumsi Buah Nangka, Ini 8 Khasiatnya bagi Kesehatan, Termasuk Cegah Kanker dan Turunkan Berat Badan
GoNews Masyarakat Korsel Pilih Pelihara Hewan dari pada Punya Anak, Ini Penyebabnya
GoNews Tunda Pengobatan Leukimia Demi Bayinya, Brianna Meninggal Bebeberapa Hari Usai Melahirkan
GoNews Model Supercantik Ini Ternyata Bukan Manusia, Melainkan . . . .
GoNews Dihujat karena Masih Susui Putranya Berusia 7 Tahun, Begini Jawaban Wanita Ini
GoNews Cerai dengan Jeff Bezos, MacKenzie Mendadak Jadi Wanita Terkaya di Dunia, Hartanya Rp978,24 Triliun
GoNews Mengenang Ayah Prabowo Subianto, Sumitro Djojohadikusumo Sang Begawan dan Arsitek Ekonomi Indonesia, Mengubah Struktur Kolonial ke Nasional
GoNews Tampil Kompak, Prabowo - Sandiaga Dinilai Paling Cocok Pimpin Indonesia
GoNews Cerai dengan Jeff Bezos, Wanita Ini Bakal Terima Rp967,5 Triliun
wwwwww