Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sultan Najamudin: Jangan Cuma Paket Pelatihan, Hentikan Program Kartu Prakerja
Politik
22 jam yang lalu
Sultan Najamudin: Jangan Cuma Paket Pelatihan, Hentikan Program Kartu Prakerja
2
Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
Kesehatan
2 jam yang lalu
Rencana Kementan Luncurkan Kalung Antivirus Corona, #KalungAntiBego jadi Trending di Twitter
3
XL Axiata Ajak Mahasiswa Pahami Dunia Bisnis
Ekonomi
19 jam yang lalu
XL Axiata Ajak Mahasiswa Pahami Dunia Bisnis
4
Sisa 20 Hari Tentukan RUU HIP, Bamsoet: Bola Ada di Tangan Pemerintah
Politik
17 jam yang lalu
Sisa 20 Hari Tentukan RUU HIP, Bamsoet: Bola Ada di Tangan Pemerintah
5
Syarief Hasan: MPR dan PBNU Satu Pandangan soal Pembatalan RUU HIP
Politik
17 jam yang lalu
Syarief Hasan: MPR dan PBNU Satu Pandangan soal Pembatalan RUU HIP
6
Kalung Anti Corona Kementan Tak Masuk Akal, Praktisi Medis: Ketakutan di-Reshuffle?
Pemerintahan
2 jam yang lalu
Kalung Anti Corona Kementan Tak Masuk Akal, Praktisi Medis: Ketakutan di-Reshuffle?

Debat Capres, Pengamat: Ma'ruf Banyak Diam, Sandi Lebih Fokus dan Terukur

Debat Capres, Pengamat: Maruf Banyak Diam, Sandi Lebih Fokus dan Terukur
Jokowi dan Prabowo berangkulan usai debat pertama Capres-Cawapres 2019, Kamis malam. (liputan6.com)
Jum'at, 18 Januari 2019 07:48 WIB
JAKARTA - Secara keseluruhan, dari awal hingga akhir debat pertama calon presiden dan wakil presiden di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1) malam, dinilai membosankan.

Penilaian itu disampiakan pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syahid Jakarta Adi Prayitno. Dijelaskan Adi, kedua pasangan calon, baik Joko Widodo-Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, tidak bisa mengelaborasi proposal kebijakan yang akan mereka lakukan lima tahun ke depan jika mereka terpilih.

''Kedua Paslon di babak awal terlihat kaku dan jaim. Ini sangat terkait peraturan KPU yang rigit hingga mempersempit ruang manuver paslon,'' kata Adi menanggapi debat capres, di Jakarta, Kamis (17/1) malam, seperti dikutip dari republika.co.id.

Dilihat dari gaya debat, lanjut dia, Jokowi nisbi banyak menyerang dengan intonasi dan mimik yang tak biasanya. Sementara Prabowo nisbi kalem dan bisa menahan diri. 

''Efek kehati-hatian itu membuat pernyataan Prabowo kurang nendang. Malah Jokowi yang banyak nyerang balik,'' ujarnya.

Ia mengatakan, secara substansi ada tiga isu yang berbeda cara menyikapinya dan kurang diekspolitasi. Ketiganya, yakni isu deradikalisasi, tumpang tindih aturan, dan reformasi birokrasi. 

''Jokowi-Ma'ruf menyikapi deradikalisasi dengan pendekatan holistik seperti agama, sosial, dan ekonomi. Sementara Prabowo perspektifnya lebih pada fokus keamanan,'' ujar analis politik Parameter Politik Indonesia ini.

Menyikapi tumpang tindih aturan, Jokowi-Ma'ruf mengajukan revisi dan evaluasi. Selain itu, paslon 01 itu akan membentuk Badan Pusat Legislasi Nasional yang terintegrasi satu pintu di bawah pengawasan presiden. Sementara Prabowo Sandi lebih fokus sinkronisasi dan tak tebang pilih.

Pada reformasi birokrasi, Jokowi-Ma'ruf lebih mengedepankan transparansi, submit online, rekrutmen berbasis miritokrasi dan profesionalisme. Sedangkan Prabowo-Sandi lebih pada peningkatan kesejahteraan aparatus negara yang dianggap kurang layak.

Keempat, di level cawapres Sandi tampil memukau yang bisa berbagi peran dengan Prabowo. Bahkan dalam banyak sesi, justru pernyataan Sandi lebih fokus dan terukur.

''Sementara Ma'ruf Amin lebih banyak diam dan hanya mengamini Jokowi. Hanya sekali saja statemennya menukik tajam soal solusi deradikalisasi. Debat selanjutnya porsi Ma'ruf mesti lebih banyak karena secara substansi menguasai,'' tuturnya.

Adi menambahkan, Prabowo blunder bikin ''gol bunuh diri'' dengan bilang Jateng lebih luas daripada Malaysia. ''Ini debat mesti hati-hati soal data,'' tuturnya.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww