Tanam dan Jual Ganja, Sekelompok Biarawati Hasilkan Rp14 Miliar Setahun

Tanam dan Jual Ganja, Sekelompok Biarawati Hasilkan Rp14 Miliar Setahun
Suster Kate Meeusen. (intisari.grid.id)
Sabtu, 20 April 2019 15:41 WIB
CALIFORNIA - Sekelompok biarawati di California, Amerika Serikat, menghasilkan sekitar Rp14 miliar dalam setahun dari kegiatan menanam dan menjual ganja.

Dikutip dari sindonews.com, Suster Kate Meeusen memulai Sisters of the Valley pada 2011 dengan hanya dua belas tanaman ganja. Namun sekarang tanaman ini menjadi operasi internasional guna membantu merawat orang dengan masalah kesehatan atau kecanduan.

Kisah biarawati itu pun kemudian diabadikan dalam sebuah film dokumenter yang akan dirilis pada akhir pekan ini untuk menandai penggunaan ganja pada 20 April.

Film dokumenter berjudul Breaking Habits, disutradarai oleh pembuat film Inggris Rob Ryan, mengeksplorasi sejarah dan kelangsungan hidup para biarawati yang menanam ganja tersebut.

''Saya sudah sering menonton film itu, saya tidak menyukainya, tetapi semua orang menyukainya, jadi saya senang tentang itu,'' kata Kate Meeusen (60) yang tinggal di Merced County, California dengan komunitas saudara perempuannya.

Film ini mengeksplorasi bagaimana Kate dan timnya telah bertempur dengan sengit melawan 'aturan orang kulit putih' termasuk sheriff negara dan pencuri pasar gelap.

''Kami tidak suka aturan pria kulit putih,'' kata Kate, yang membuat dan menjual produk CBD seperti salep dan minyak dengan saudari-saudarinya.

''Orang-orang pertanian sangat lambat beradaptasi dengan ide-ide baru, orang-orang terjebak pada 1950-an dengan ide-ide mereka terhadap tanaman ganja untuk penggunaan obat,'' imbuhnya seperti dikutip dari Metro, Sabtu (20/4/2019).

Sejauh ini Kate telah berusaha untuk menyembuhkan delapan orang kecanduan menggunakan produk CBD-nya, dan dia mengatakan mereka semua sudah pulih.

''Kami memiliki tingkat keberhasilan 100% dalam menyembuhkan orang dari kecanduan mereka, tentu saja kami tidak memiliki ukuran sampel yang besar,'' ungkapnya.

''Kami bekerja dengan delapan orang yang kecanduan alkohol, tembakau, atau met, tetapi mereka semua menjadi lebih baik,'' kata Kate, yang dulu bekerja sebagai eksekutif perusahaan besar sebelum beralih ke pertanian ganja.

''Itu tingkat keberhasilan yang lebih baik daripada Alcoholics Anonymous,'' tambahnya.

Biarawati itu juga menggunakan CBD untuk mengobati semuanya, mulai dari epilepsi hingga kanker.

''Ini adalah tanaman penyembuhan yang luar biasa, lambat laun dunia mulai membuka diri terhadap gagasan ganja sebagai obat, daripada memperlakukannya sebagai obat berbahaya,'' ujarnya.

Sutradara Breaking Habits, Rob Ryan, mengatakan bahwa perjuangan Kate untuk mengubah industri ganja dari 'candu menjadi penyembuh' sangat ikhlas dan tulus.

''Ini adalah cerita tentang seorang wanita yang mengambil pendirian lokal untuk mengubah hukum ganja dalam arti penyembuhan,'' ucapnya.

Rencananya para suster itu akan memperluas kerajaan obat ganja mereka.

''Kami bermaksud memiliki kantong di setiap kota dan provinsi dalam 20 tahun ke depan. Kami akan melakukan lebih banyak dan lebih banyak lagi dengan Hollywood, karena itu adalah megafon bagi dunia,'' ujar Kate.

''Kami juga merencanakan serial politik yang edgy, dilakukan dalam bentuk kartun,'' imbuhnya.

Pada hari Senin suster aktivis ganja akan memprotes hak istimewa gerejawi, yang memungkinkan beberapa pelecehan tidak dilaporkan.

''Kami terbiasa memperjuangkan hak-hak kaum terpinggirkan,'' kata Kate.

''Ini adalah RUU penting yang akan memungkinkan California untuk bergabung dengan sekitar 20 negara bagian dan Kanada dalam menolak hak istimewa ini sebagai alasan untuk tidak melaporkan penyalahgunaan,'' tuturnya.

''Jika seorang ulama, seorang penatua, seorang pendeta, seorang pastor melihat pelecehan, mereka harus melaporkannya. Seperti halnya polisi, perawat, dan guru juga harus melakukannya,'' ucapnya.

''Mereka tidak bisa bersembunyi di balik kode suci mereka untuk saling melindungi. Ini adalah zaman feminin ilahi dan tidak ada keilahian dalam melukai anak-anak,'' sambungnya.

''Tidak ada keilahian dalam memberikan laki-laki akses ke anak-anak untuk viktimisasi sesat, untuk penghancuran hidup mereka,'' katanya.

''Namun, organisasi yang dikelola pria ini, yang didirikan pria, dan dilindungi pria tidak ingin kita mengacaukan keistimewaan mereka,'' tukasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:Ragam

wwwwww