Ibu Osama Bin Ladin Sebut Ada yang Mencuci Otak Anaknya

Ibu Osama Bin Ladin Sebut Ada yang Mencuci Otak Anaknya
Ibu Bin Ladin, Alia Ghanim. (webtopnews)
Sabtu, 04 Agustus 2018 15:17 WIB
RIYADH - Pada 11 September 2001 Gedung World Trade Center (WTC) di New York dan Washington, Amerika Serikat, ditabrak dua pesawat. Serangan tersebut menyebabkan hampir 3.000 orang tewas dan 6.000 lainnya terluka. Osama Bin Ladin, pemimpin Al Qaida, dituduh sebagai dalangnya.

Dikutip dari merdeka.com, tujuh belas tahun setelah peristiwa serangan WTC itu berlalu, keluarga Osama Bin Ladin masih menjadi bagian penting dari masyarakat Arab Saudi.

Dalam wawancara dengan media Inggris, The Guardian di Jeddah, ibu Bin Ladin, Alia Ghanim, mengatakan putranya dicuci otak oleh kaum ekstremis ketika kuliah di Jeddah.

Bertahun-tahun Ghanim menolak bicara soal Osama. Sebagai salah satu keluarga kaya raya dan berpengaruh, pemerintah Saudi hingga kini masih mengawasi kegiatan keluarga Osama.

Keluarga Bin Ladin memiliki perusahaan konstruksi yang ikut membangun Kerajaan Saudi modern. Pejabat senior Saudi meyakini dengan memberi izin keluarga Bin Ladin bicara kepada media bisa menunjukkan bahwa Osama pribadi yang bertanggung jawab atas peristiwa serangan 11 September, bukan pemerintah Saudi sebagaimana dituduhkan sejumlah pihak. Lima belas dari 19 pembajak pesawat itu adalah warga Arab Saudi.

'''Setiap orang yang bertemu dengannya hormat kepada dia (Bin Ladin). Awalnya kami sangat bangga dengan dia. Bahkan pemerintah Saudi memperlakukannya seperti bangsawan dan terhormat. Lalu setelah itu Usamah menjadi mujahid,'' ujar perempuan berusia 70-an tahun itu ketika diwawancara, seperti dilansir laman the Guardian, Jumat (3/8).

''Dia anak yang baik sampai akhirnya dia bertemu orang yang mencuci otaknya ketika berusia 20-an tahun. Anggap saja orang itu dari sekte. Mereka dapat uang dari kegiatan mereka,'' kata Ghanim.

''Saya selalu bilang, jauh-jauh dari mereka dan dia tidak pernah menceritakan apa yang dia lakukan kepada saya, karena dia begitu mencintai saya.''

Bin Laden kuliah ekonomi di Universitas Raja Abdulaziz di Jeddah. Dia kemudian terlibat dalam perang melawan Rusia di Afghanistan dan dia dihormati oleh orang Saudi karena tindakannya itu.

''Tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya,'' kata Ghanim soal putranya yang menjadi radikal. ''Orang-orang di kampus mengubahnya. Dia jadi orang yang berbeda.''

Salah satu orang yang dikenal Bin Ladin di kampus adalah Abdullah Azzam, anggota Ikhwanul Muslimin yang kemudian tinggal di pengasingan dan menjadi penasihat spiritual Bin Ladin.

''Kami sangat marah. Saya tidak ingin semua ini terjadi. Mengapa dia melakukannya begitu saja?''

Kakak tiri Bin Ladin, Hassan dan Ahmad, yang tinggal bersama ibu mereka di Jeddah mengakui pendapat ibunya itu bias.

''Sudah 17 tahun sejak kejadian itu dan dia masih menyangkal soal Osama. Dia sangat mencintainya dan menolak menyalahkannya. Dia malah menyalahkan orang di sekitarnya. Dia hanya melihat sisi baik Osamah. Dia tidak pernah tahu dari sisi jihadisnya," kata Ahmad.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww