Gempa 6,9 SR di Lombok Ahad Malam Bukan Susulan, Ini Penjelasan BMKG

Gempa 6,9 SR di Lombok Ahad Malam Bukan Susulan, Ini Penjelasan BMKG
Rumah-rumah yang hancur akibat gempa di Lombok. (tempo.co)
Senin, 20 Agustus 2018 12:23 WIB
JAKARTA - Gempa 6,9 skala Richter (SR) yang mengguncang Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTT) dan sekitarnya, Ahad (19/8/2018) malam, merupakan gempa baru. Jadi, jadi bukan susulan dari gempa besar 7,0 SR yang mengguncang 5 Agustus lalu.

Dikutip dari sindonews.com, Kepala BMKG Dr Daryono mengatakan, ada beberapa fakta yang perlu dipahami terkait gempa besar tersebut. Pertama, memerhatikan lokasi episenter gempa Lombok 6,9 SR yang terletak di ujung timur Pulau Lombok dan diikuti sebaran episenter gempa yang mengikutinya dan membentuk kluster episenter dengan sebaran ke arah timur (di laut) hingga di sebelah utara Sumbawa Barat maka disimpulkan gempa yang terjadi merupakan aktivitas 'gempa baru' yang berbeda dari gempa 7,0 SR dan susulanya yang terjadi sejak 5 Agustus.

''Antara gempa magnitudo 7,0 yang terjadi pada 5 Agustus 2018 dengan gempa magnitudo 6,9 yang terjadi pada 19 Agustus 2018 tadi malam memiliki keterkaitan erat,'' ungkap Daryono, Senin (20/8/2018).

Dijelaskan, munculnya aktivitas gempa baru dengan pusat di ujung timur Pulau Lombok berkekuatan 6,9 SR diduga akibat trigger statis (static stress) dari rangkaian gempa kuat di Lombok berkekuatan 6,4; 7,0; 6,3; dan 5,9 SR yang terjadi sebelumnya.

''Menariknya, rekahan (rupture) batuan yang ditimbulkan kedua gempa tersebut masih terjadi pada satu sistem sesar yang sama yaitu masih dalam kerangka sistem Sesar Naik Flores. Ini tempak jelas dari mekanisme pusat gempa yang terjadi,'' papar Daryono.

Dalam ilmu gempa bumi/seismologi, aktivitas kedua gempa kuat semacam ini disebut 'gempa kembar' (doublet earthquakes) mengingat kekuatannya tidak terpaut besar, lokasi dan kedalamannya yang berdekatan, serta terjadi dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama.

Tetapi jika melihat banyaknya rangkaian gempa kuat yang terjadi maka boleh saja menyebutnya sebagai aktivitas 'multigempa' (multiplet earthquakes).

''Gempa baru ini sejak tadi malam hingga pagi ini pukul 7.00 WIB sudah membangkitkan 88 kali gempa susulan (aftershocks). Delapan gempa susulan di antaranya memiliki kekuatan signifikan dan dirasakan guncangannya oleh masyarakat,'' terang Daryono.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww