Pasukan Suriah dan Sekutu Bombardir Wilayah Berpenduduk 2,9 Juta Jiwa, PBB: Ini Bencana Kemanusiaan Terburuk Abad 21

Pasukan Suriah dan Sekutu Bombardir Wilayah Berpenduduk 2,9 Juta Jiwa, PBB: Ini Bencana Kemanusiaan Terburuk Abad 21
Sukarelawan White Helmets mencari korban setelah ledakan di Idlib, Suriah, April lalu. (republika.co.id)
Selasa, 11 September 2018 08:58 WIB
IDLIB - Pasukan rezim Suriah dan Sekutu membombardir terhadap wilayah Idlib melalui udara dan darat. Setidaknya, 30.542 orang dari 2,9 juta warga Idlib memutuskan mengungsi sejak terjadinya serangan tak manusiawi itu sejak pekan lalu.

Dikutip dari republika.co.id, juru bicara Kantor PBB untuk Urusan Kemanusiaan (OCHA), David Swanson mengatakan pada Ahad (9/9), serangan besar-besaran ke Idlib merupakan bencana kemanusiaan terburuk abad 21.

''Serangan militer habis-habisan di Idlib dapat memprovokasi bencana kemanusiaan terburuk abad ke-21 dan harus dihindari,'' kata Swanson seperti dilansir dari Reuters, Senin (10/9).

Apalagi, dia menambahkan, sekitar 2,9 juta orang tinggal di daerah yang dikuasai oposisi itu. Wilayah yang dikuasai oposisi ini terdiri dari sebagian besar provinsi Idlib dan bagian kecil yang berdekatan dari provinsi Latakia, Hama dan Aleppo.

Koordinator darurat PBB Mark Lowcock juga mengatakan sekitar 800 ribu dari mereka dapat meninggalkan rumah mereka saat ini dalam sebuah eksodus yang dipicu oleh pertempuran besar.

''Kami sangat aktif mempersiapkan kemungkinan bahwa warga sipil bergerak dalam jumlah besar ke berbagai arah,'' kata Lowcock dalam jumpa pers di Jenewa.

''Harus ada cara untuk mengatasi masalah ini yang tidak akan berubah beberapa bulan ke depan di Idlib ke dalam bencana kemanusiaan terburuk dengan hilangnya nyawa terbesar abad ke-21,'' lanjut dia lagi.

Sementara itu Swanson mengatakan bahwa sejak hari Jumat lalu, serangan mortir dan roket telah meningkat, terutama di pedesaan Hama utara dan daerah pedesaan Idlib selatan.

''47 persen dari mereka yang mengungsi telah pindah ke kamp, 29 persen tinggal dengan keluarga, 14 persen telah menetap di kamp-kamp informal dan 10 persen berada di akomodasi sewaan,'' terang dia.

Salah satu pemimpin pemberontak di Hama utara, Abu al-Baraa al-Hamawi, mengatakan sekitar 95 persen orang telah meninggalkan sejumlah desa di provinsi Hama utara dan barat dan di provinsi Idlib selatan dalam tiga hari terakhir akibat serangan udara intensif.

Christy Delafield dari Mercy Corps, salah satu organisasi terbesar yang mengirim bantuan di Suriah, mengatakan sulit bagi pekerja bantuan dan masyarakat untuk mengikuti pemindahan itu. Karena ada kekurangan kapasitas penyimpanan air di banyak wilayah di mana kami beroperasi, dengan hanya dua atau tiga hari air yang tersedia bagi warga sipil.

''Titik-titik persimpangan di sepanjang garis depan antara pemerintah dan daerah-daerah yang dikuasai oposisi telah ditutup, dan sebagai hasilnya, harga makanan telah meningkat secara dramatis,'' ungkap dia.

Utusan Khusus PBB, Staffan de Mistura memulai pembicaraan dua hari di Jenewa pada Senin dengan para pejabat senior dari Rusia, Iran dan Turki untuk membentuk Komite Konstitusi di Suriah, tetapi yang diperkirakan akan dibayangi oleh krisis Idlib.

Teheran dan Moskow telah membantu Assad mengubah arah perang melawan berbagai musuh mulai dari pemberontak yang didukung Barat hingga militan Islam, sementara Turki adalah pendukung oposisi terkemuka dan memiliki pasukan di negara itu.

Lebih dari setengah juta orang telah tewas dan 11 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam perang tujuh tahun. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww