Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Cegah Gelombang Kedua Pandemi Covid-19 saat 'New Normal' dengan...
Pemerintahan
21 jam yang lalu
Cegah Gelombang Kedua Pandemi Covid-19 saat New Normal dengan...
2
WOM Kembalikan Motor Ojol yang Sempat Ditarik
Ekonomi
22 jam yang lalu
WOM Kembalikan Motor Ojol yang Sempat Ditarik
3
Indonesia Belum Siap Hadapi 'New Normal' menurut Pakar Kesehatan Masyarakat
Kesehatan
23 jam yang lalu
Indonesia Belum Siap Hadapi New Normal menurut Pakar Kesehatan Masyarakat
4
8 atau 5 Juni Mal Jakarta Dibuka Kembali, APPBI Siap Ikuti Pemerintah
Ekonomi
21 jam yang lalu
8 atau 5 Juni Mal Jakarta Dibuka Kembali, APPBI Siap Ikuti Pemerintah
5
Taat PSBB, Warga Pilih Berdoa di Rumah meski TPU di Depan Mata
Lingkungan
22 jam yang lalu
Taat PSBB, Warga Pilih Berdoa di Rumah meski TPU di Depan Mata
6
Kisah Mualaf Penemu Rapid Test Jacky Ying saat Memutuskan Pakai Jilbab
Internasional
19 jam yang lalu
Kisah Mualaf Penemu Rapid Test Jacky Ying saat Memutuskan Pakai Jilbab

Djoko Santoso Sebut Ada VOC Baru, Ini yang Dimaksudkannya

Djoko Santoso Sebut Ada VOC Baru, Ini yang Dimaksudkannya
Djoko Santoso diwawancarai wartawan. (detik.com)
Jum'at, 26 Oktober 2018 09:02 WIB
MALANG - Pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2019 mendatang harus berlangsung lancar dan damai. Jangan sampai menimbulkan kekisruhan. Sebab, bila terjadi kekisruhan, maka 'VOC' baru akan menangguk keuntungan.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga S Uno, Djoko Santoso, usai bertemu ribuan purnawirawan dan warakawuri di Griya Bina Lawang Kabupaten Malang, Selasa (24/10) lalu.

''Ini bukan sekadar Pilpres tapi adalah menyelamatkan negara. Kita dalam Pilpres tidak boleh terpecah, nanti yang ketawa dan senang VOC baru tadi itu,'' kata Djoko Santoso.

VOC adalah singkatan dari Vereenogde Oostindische Compagnie, perusahaan Belanda pelaku penjajahan di Indonesia di masa lalu. Tapi jelas, bukan VOC ini yang dimaksudkan Djoko Santoso.

Saat ditanya tentang penjajahan baru, Djoko menyebutkan bahwa kekayaan Indonesia dari pertambangan hingga perkebunan sudah menjadi milik pihak asing. Apalagi dengan kondisi dolar yang sudah lebih Rp15 ribu, harus diwaspadai.

Menurutnya, semua itu terjadi akibat pemimpin bangsa yang salah urus, sehingga utangnya sangat tinggi. Ditambah lagi, harga barang-barang kebutuhan masyarakat terus naik dan tentu saja makin menyusahkan masyarakat.

Djoko mengatakan, para purnawirawan TNI dan warakawuri memiliki kesadaran dan terpanggil setelah melihat kondisi bangsa saat ini. Mereka pun sadar dengan sendirinya atas panggilan tersebut.

''Itu sebenarnya kesadaran sendiri, mereka lebih tahu bagaimana situasi bangsa, kondisi bangsa, hambatan dan tantangan bangsa dari masyarakat kebanyakan,'' katanya.

Djoko juga menyebut, jumlah purnawirawan TNI tidak begitu besar dibandingkan jumlah kelompok masyarakat kebanyakan. Tetapi mereka memiliki potensi besar yang harus diperhatikan dan dirawat.

''Purnawirawan itu punya anak, istri, purnawirawan juga masih punya pengaruh di sekelilingnya. Pernah jadi Babinsa dan lain sebagainya, yang pasti ada pengikutnya,'' kata Djoko.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:Ragam

wwwwww