Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
HNW: Tragedi Ledakan Dahsyat di Beirut Harus Diusut Tuntas
MPR RI
9 jam yang lalu
HNW: Tragedi Ledakan Dahsyat di Beirut Harus Diusut Tuntas
2
Simpati Indonesia Untuk Para Korban Ledakan Lebanon
DPR RI
9 jam yang lalu
Simpati Indonesia Untuk Para Korban Ledakan Lebanon
3
Perlu Terobosan Kreatif untuk Hindari Resesi Ekonomi
MPR RI
9 jam yang lalu
Perlu Terobosan Kreatif untuk Hindari Resesi Ekonomi
4
Kawal RUU Ciptakerja, Ketua DPD Minta Senator Fokus di Kepentingan Daerah
DPD RI
9 jam yang lalu
Kawal RUU Ciptakerja, Ketua DPD Minta Senator Fokus di Kepentingan Daerah
5
Hasan Basri: Ada 174 Pasal Yang Akan Kami Pelototi
DPD RI
9 jam yang lalu
Hasan Basri: Ada 174 Pasal Yang Akan Kami Pelototi
6
Pandemi dan Bagaimana Negara beserta Masyarakat Memenuhi Hak Anak
DPR RI
23 jam yang lalu
Pandemi dan Bagaimana Negara beserta Masyarakat Memenuhi Hak Anak

Salah Seorang Pramugari Lion Air JT 610 Berasal dari Surau Gadang, Sang Ayah Harapkan Keajaiban

Salah Seorang Pramugari Lion Air JT 610 Berasal dari Surau Gadang, Sang Ayah Harapkan Keajaiban
Keluarga Shintia Melina, menunggu kabar terbaru tentang nasib pramugari Lion Air JT 610 tersebut di rumahnya di Kelurahan Surau Gadang, Padang, Senin sore. (republika.co.id)
Senin, 29 Oktober 2018 21:13 WIB
PADANG - Shintia Melina (25 tahun), salah seorang diantara lima pramugari yang bertugas dalam pesawat Lion Air JT 610, yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10) pagi.

Dikutip dari republika.co.id, Ayah Shintia, Melwani (58 tahun), menunggu kabar terbaru di rumahnya di Kelurahan Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat. Pada Senin (29/10) sore, hanya ibu Shintia dan dua anggota keluarga lainnya yang terbang ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk mendatangi Crisis Center Lion Air.

Melwani mengaku tak menaruh curiga saat mendengar kabar adanya pesawat Lion Air yang hilang kontak pagi tadi. Menurutnya, seringnya maskapai Lion Air mengalami gangguan membuatnya tak terlalu khawatir soal nasib anaknya.

Namun kondisinya berubah 180 derajat saat telepon rumahnya berdering sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak Lion Air memberi kabar bahwa Shintia adalah salah satu awak kabin yang bertugas dalam pesawat naas itu.

''Pagi tadi nggak apa-apa. Karena biasa saja kan, pesawat sering 'jatuh' kan. Saya biarin saja. Terus ditelpon pihak Lion pukul sepuluh, baru hati saya berdebar,'' ujar Melwani dengan suara bergetar, Senin (29/10) sore.

Melwani menceritakan, anaknya sudah lima tahun terakhir bekerja sebagai pramugari di Lion Air. Shintia yang merupakan anak pertama dari empat bersaudara sempat menempuh kuliah di Yogyakarta sebelum akhirnya diterima bekerja di maskapai Lion Air.

Keluarga, ujar Melwani, masih berhadap ada keajaiban dari Allah SWT untuk keselamatan Shintia. ''Ya harapan kami anak saya selamat,'' katanya.

Apalagi, lanjutnya, Shintia sendiri berencana mau melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat.

Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Cengkareng-Pangkalpinang mengalami kecelakaan 13 menit setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (29/10) pukul 06.20 WIB. Pesawat dengan personal on board sebanyak 189 orang itu jatuh di kawasan Perairan Karawang.

Pesawat dikomandoi Capt. Bhavye Suneja dengan copilot Harvino bersama enam awak kabin atas nama Shintia Melina, Citra Noivita Anggelia, Alviani Hidayatul Solikha, Damayanti Simarmata, Mery Yulianda, dan Deny Maula. Kapten pilot sudah memiliki jam terbang lebih dari 6.000 jam terbang dan copilot telah mempunyai jam terbang lebih dari 5.000 jam.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww