39 Persen Mahasiswa di 15 Provinsi Tertarik Paham Radikal, Termasuk di Riau

39 Persen Mahasiswa di 15 Provinsi Tertarik Paham Radikal, Termasuk di Riau
Diskusi Peran Ormas-ormas Islam dalam NKRI di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Jakarta Pusat, Sabtu (16/11). (sinarharapan.co)
Sabtu, 17 November 2018 20:24 WIB
JAKARTA - Staf Khusus Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Arief Tugiman mengatakan, menurut data BIN ada 500 masjid di Indonesia terpapar paham radikalisme. Dari 500 masjid itu, 41 diantaranya berada di kompleks kantor pemerintahan.

Dijelaskan Tugiman, masjid yang terpapar radikalisme di kantor kompleks pemerintahan itu adalah kantor kementerian, lembaga dan BUMN. Namun, dia tidak menyebut detil kementerian, lembaga, dan BUMN yang dimaksud.

''Berdasarkan level radikalisme dari 41 masjid tersebut, 7 masjid kategori rendah, 17 masjid kategori sedang dan 17 masjid kategori tinggi,'' ucap Tugiman dalam Diskusi 'Peran Ormas-ormas Islam dalam NKRI' di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI), Jakarta Pusat, Sabtu (16/11), seperti dikutip dari kumparan.com.

Bukan hanya di masjid kantor pemerintahan, kelompok radikal dipandang BIN juga bergerak di kampus-kampus. Tugiman memaparkan, 39 persen mahasiswa di 15 provinsi di Indonesia tertarik paham radikal. Daerah itu diantaranya Jawa Barat, Banten, Lampung, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah dan Riau.

''Riau termasuk yang dalam 15 daerah yang dikaji,'' ujarnya.

Menurutnya, pemahaman itu harus diperbaiki dan dicegah agar tidak meluas. Arief meminta agar adanya peran Ormas-ormas Islam dalam menanggulangi paham radikalisme tersebut. Sebab, kata dia, radikalisme mengancam NKRI, dapat merusak kerukunan umat dan mengancam keamanan negara.

''Dai-dai kami mohon bisa di berdayakan untuk bisa memberikan dakwah yang menyejukan dan sekaligus meng-counter paham-paham radikal yang sekarang beredar,'' tegasnya.

Selain itu, BIN mengingatkan bahaya perpecahan akibat ormas Islam yang saling klaim pada kebenaran. Ia meminta agar 396.236 ribu Ormas di Indonesia menjaga keamanan bangsa.

''Yang muncul adalah kalau kemudian masing- ormas itu menyebut dirinya paling benar, paling baik, paling hebat, paling berjasa, maka yang akan muncul apa? pasti perpecahan, saling gontok-gontokan,'' ujarnya.

''Maka sikap hidup yang harus kita lakukan adalah hidup saling isi, saling melengkapi, hidup dalam susana kedamaian kesejukan dan kebersamaan karena sejatinya islam adalah rahmatan lil alamin,'' sambungnya.

Sementara Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Soedarmo mengungkapkan, 7,7 persen orang Indonesia mau bertindak radikal. Sedangkan 0,4 persen orang pernah berbuat radikal.

Menurut dia, data itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Wahid Institute pada 31 Oktober 2018.

''Kita semua harus menjaga komitmen dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa, serta mencegah radikalisme menyebar,'' kata Soedarmo.***

Editor:hasan b
Sumber:kumparan.com
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww