Bantah Data BIN, Waketum DMI: Masjid Itu Tempat Suci, Tidak Mungkin Ada Nuansa Negatif

Bantah Data BIN, Waketum DMI: Masjid Itu Tempat Suci, Tidak Mungkin Ada Nuansa Negatif
Wakil Ketua Umum DMI Syafruddin. (int)
Selasa, 20 November 2018 21:12 WIB
JAKARTA Wakil Ketua Umum (Waketum) Dewan Masjid Indonesia, (DMI) Syafruddin membantah data yang diungkapkan pihak Badan Intelijen Nasional (BIN) bahwa ada 41 masjid di lingkungan pemerintahan yang terpapar radikalisme berat.

Dikutip dari merdeka.com, Syafruddin menegaskan, masjid tak mungkin terpapar radikalisme.

''Masjid itu tempat suci, tidak mungkinlah masjid itu ada nuansa negatif,'' kata Menteri PAN RB tersebut, di Jakarta Pusat, Selasa (20/11/2018)).

Menurut mantan Wakil Kapolri itu, yang terpapar bukanlah masjid. Yang bisa terpapar paham radikal itu adalah orang atau kelompok-kelompok yang mengisi kegiatan di masjid.

''Saya rasa apa yang disampaikan oleh aparat bahwa ada unsur-unsur kegiatan radikalisme tidak ditujukan kepada masjid, tapi orang-orang. Masjid saya yakin, dan jaminlah clear,'' tutur dia.

Oleh karena itu, Syafruddin mengajak umat Muslim untuk menjaga kesucian dan kebersihan masjid supaya beribadah dengan nyaman.

''Jadi kita harus jaga bersama. Jaga juga kebersihan hati kita,'' tandas dia.

Untuk diketahui, Kasubdit di Direktorat 83 Badan Intelejen Negara (BIN) Arief Tugiman mengungkap ada 41 masjid di lingkungan pemerintah yang terpapar radikalisme. Menurut Jubir Kepala BIN Wawan Hari Purwanto, data itu merupakan hasil survei terhadap kegiatan khotbah yang disampaikan beberapa penceramah.

Survei itu, sambung Wawan, dilakukan P3M NU yang hasilnya disampaikan kepada BIN sebagai early warning dan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penelitian lanjutan oleh BIN.

''Keberadaan masjid di Kementerian/Lembaga dan BUMN perlu dijaga agar penyebaran ujaran kebencian terhadap kalangan tertentu melalui ceramah-ceramah agama tidak mempengaruhi masyarakat dan mendegradasi Islam sebagai agama yang menghormati setiap golongan,'' ujar Wawan dalam keterangan tertulisnya yang diterima Liputan6.com, Minggu (18/11/2018).

''Hal tersebut adalah upaya BIN untuk memberikan early warning dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, tetap menjaga sikap toleran dan menghargai kebhinnekaan,'' imbuh dia.

Selanjutnya, perlu dilakukan pemberdayaan Da'i untuk dapat memberikan ceramah yang menyejukkan dan mengkonter paham radikal di masyarakat.

Wawan menambahkan, ada pula data tujuh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terpapar radikalisme. Bahkan 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi di Indonesia tertarik dengan paham radikal.

''Namun data PTN dimaksud hanya disampaikan kepada Pimpinan Universitas tersebut untuk evaluasi, deteksi dini dan cegah dini, tidak untuk konsumsi publik, guna menghindari hal-hal yang merugikan universitas tersebut,'' kata Wawan. ***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww