Menristekdikti Tak Tolerir Staf Khusus Terlibat Terbitkan Ijazah Bodong

Menristekdikti Tak Tolerir Staf Khusus Terlibat Terbitkan Ijazah Bodong
Menristekdikti M Nasir. (int)
Kamis, 29 November 2018 14:48 WIB
JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir tidak akan menolerir staf khusus Kemenristekdikti terlibat penerbitan ijazah bodong (palsu).

''Kami tidak pernah toleran ijazah bodong ini. Gak boleh mau itu staf khusus atau staf kemenristekdikti lain terlibat dengan perguruan tinggi untuk ijazah bodong,'' tegas Nasir di Gedung Kemenristekdikti Jakarta, Kamis (29/11), seperti dikutip dari republika.co.id.

Staf khusus yang dimaksud Menristekdikti yakni Abdul Wahid Maktub, yang diduga secara tidak langsung ikut ‘bermain’ memuluskan perguruan tinggi bermasalah seperti STKIP Sera, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia School of Management (STIE ISM), dan kampus lain yang dimiliki Mardiyana dan isterinya, Koes Indrati Prasetyorini untuk bisa aktif kembali dan mengeluarkan ijazah bodong.

Mardiyana dan isterinya, Koes Indrati Prasetyorini, termasuk pemain lama dalam kasus mendirikan kampis-kampus fiktif dan menerbitkan ijazah bodong sejak tahun 2000 dan kasusnya pernah mencuat tahun 2015 lalu.

Nasir juga secara tegas menginstruksikan agar kampus-kampus yang terbukti mengeluarkan ijazah bodong untuk dicabut izinnya dan segera ditutup. Hal itu dinilai sangat urgen karena kampus tersebut telah melakukan kejahatan, dan hal itu tidak bisa ditolerir.

''Itu orang lama bermain lagi, tapi dia menggunakan universitas lain. Dia membuat universitas lain, padahal yang lama sama juga menerbitkan ijazah palsu sebanyak 700an, dan sudah sudah ditutup. Kita tidak boleh lengah,'' tegas Nasir.

Nasir menyatakan, merger atau penggabungan kampus-kampus kecil memang harus dilakukan. Namun begitu, jika pemilik yayasan yang akan merger memiliki catatan kejahatan, maka tidak boleh dibiarkan. Karena dikhawatirkan, yang bersangkutan akan melakukan kejahatan yang sama dengan menerbitkan ijazah bodong atau lainnya.

''Kalau membuat kampus baru, tidak masalah. Kalau orangnya pernah berbuat jahat itu gak boleh, karena kalah udah pernah buat jahat dia bakal buat jahat lagi,'' jelas dia.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi
wwwwww