Sepekan Pasca Pembantaian oleh KKB, Warga Yigi Masih Sembunyi di Hutan

Sepekan Pasca Pembantaian oleh KKB, Warga Yigi Masih Sembunyi di Hutan
Proses evakuasi korban pembantaian oleh KKB di Nduga. (dok)
Minggu, 09 Desember 2018 19:36 WIB
JAYAPURA - Pasukan gabungan TNI-Polri kembali menemukan jenazah karyawan PT Istaka Karya, korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, Ahad (9/12). Jenazah itu ditemukan di sekitar lokasi pembantaian yang dilakukan KKB, sekira pukul 13.00 WIT.

Dikutip dari merdeka.com, Kapendam Cendrawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi mengatakan, Satgas gabungan TNI-Polri akan terus melaksanakan pencarian sisa korban yang belum ditemukan. Menurutnya, masih ada dua jenazah dan dua korban yang diduga masih hidup belum diketahui keberadaannya.

''Sesuai dengan data bahwa masih tersisa dua orang jenazah yang belum ditemukan dan dua orang korban yang diduga masih hidup hingga sekarang belum diketahui nasibnya,'' kata Kapendam Cendrawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi, Ahad (9/12).

Pasukan gabungan TNI-Polri telah menguasai dan menduduki Distrik Yigi dan Mbua. Menurutnya, situasi di Distrik Mbua pasca penyerangan kelompok pemberontak terhadap pos TNI di Mbua pada 3 Desember lalu, sudah mulai berangsur normal kembali.

Namun di Distrik Yigi sebagian warga masih berlindung di hutan. ''Masyarakat (Di Distrik Mbua) secara umum mengungsi ke hutan namun sejak kemarin hingga sekarang warga Mbua sudah mulai berangsur-angsur kembali ke kampung dan kegiatan sosial serta roda ekonomi mulai berjalan kembali. Sedangkan di Yigi situasi kampung masih sepi hanya beberapa warga yang bertahan di kampung sementara sebagian masyarakat masih berlindung di hutan,'' katanya.

Bantah Gunakan Serangan Udara dan Bom

Pihaknya juga membantah adanya pemberitaan yang menyebut dalam proses evakuasi, pasukan TNI melakukan serangan udara dan bom yang mengakibatkan sejumlah warga sipil tewas.

''Kami perlu tegaskan di sini bahwa TNI tidak pernah menggunakan serangan bom, TNI hanya menggunakan senjata standar pasukan infantri yaitu senapan perorangan yang dibawa oleh masing-masing prajurit. Media dan warga juga bisa melihat bahwa alutsista yang digunakan TNI hanya helikopter angkut jenis bell dan MI-17. Tidak ada heli serang apalagi pesawat tempur atau pesawat pengebom,'' katanya.

Selain itu, dia menegaskan, TNI hingga saat ini belum pernah melakukan serangan. Sebaliknya pada saat melaksanakan upaya evakuasi, pihak pasukan pemberontak justru yang menyerang Tim Evakusi sehingga terjadi kontak tembak dan mengakibatkan satu orang anggota Brimob menderita luka tembak.

''Perlu juga kami gambarkan bahwa lokasi pembantaian di bukit Puncak Kabo adalah kawasan hutan yang terletak sekitar 4-5 km dari pinggir kampung terdekat. Jadi bila ternyata ada laporan telah jatuh korban akibat kontak tembak tersebut maka dapat dianalisa bahwa korbannya bukan warga sipil murni tapi mungkin saja mereka adalah bagian pelaku yang telah melaksanakan pembantaian,'' jelasnya.

Dia juga menanggapi pernyataan Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sabby Sambon yang menyerukan agar TNI bertempur secara benar, tak bertempur di luar zona tempur yang sudah ditentukan yakni di Yigi atau Mbua. Menurutnya, zona tempur tersebut adalah klaim TPNPB sendiri.

''Mereka mengklaim bahwa mereka telah menentukan zona tempur di kawasan Habema sampai dengan Mbua. Walaupun itu hanya klaim sepihak karena tidak pernah ada perjanjian antara TNI dan KKSB tentang zona tempur tersebut,'' katanya.

Dia juga menyatakan, faktanya pihak pemberontak justru yang telah melakukan pembantaian di bukit Puncak Kabo Distrik Yigi dan melakukan penyerangan Pos TNI di Mbua. Menurutnya, pemberontak telah melakukan serangan terhadap pasukan gabungan TNI-Polri yang sedang melakukan upaya evakuasi terhadap korban baik di TKP Puncak Kabo maupun di sepanjang jalur evakuasi Yigi-Mbua.

''Artinya mereka sangat tidak konsisten terhadap pernyataannya sendiri. Ini adalah cara bertempur sistem gerilya di mana tidak dikenal adanya zona tempur, tapi di mana pasukan TNI bertemu dengan KKSB maka di situlah zona tempurnya,'' katanya.

Dia menegaskan segala pernyataan tentang jatuhnya korban sipil, serangan bom dan istilah zona tempur hanyalah upaya propaganda pihak pemberontak Papua untuk berusaha menggiring opini publik guna memojokkan TNI-Polri.

''Seolah-olah TNI-Polrilah yang telah melakukan tindakan pelanggaran HAM, sedangkan mereka yang telah membantai puluhan orang warga sipil yang tidak berdosa seakan-akan bukan suatu kesalahan,'' katanya.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww