Istri dan 2 Anaknya Tewas Diterjang Tsunami, Ustaz Abror Selamat karena Tersangkut Kabel Listrik

Istri dan 2 Anaknya Tewas Diterjang Tsunami, Ustaz Abror Selamat karena Tersangkut Kabel Listrik
Rumah-rumah warga dan fasilitas umum hancur pasca tsunami yang melanda pesisir Pandeglang, Banten, Sabtu (22/12/2018) malam. (tribunnews)
Selasa, 25 Desember 2018 09:46 WIB
JAKARTA - Ustaz Saiful Abror selamat dari terjangan tsunami di Pantai Carita, Banten, Sabtu (22/12) malam, namun istri dan dua anaknya meninggal dunia akibat bencana tersebut.

Dikutip dari tribunnews.com, Ustaz Abror liburan bersama keluarga, jamaah pengajian serta aktivis pesantren di Pantai Carita, Banten. Dari 16 orang anggota rombongan pengajiannya di Kompleks Bukit Nusa Indah, Ciputat yang ikut berlibur, hanya 7 orang yang selamat.

Istrinya, Siti Nur Alfisyah (36) serta dua anaknya Muhamad Zein Karim (3) dan Nihlatuz Zahra (11) meninggal setelah vila tempatnya menginap di Pantai Mutiara Carita Banten diterjang gelombang tsunami.

Ketiga anggota keluarga Ustaz Abrar tersebut telah dikebumikan di Pemakamam Islam Al Hidayah, Kelurah Serua, Ciputat, ‎Tangerang Selatan, pada Senin (24/12/2018).

Usai mengebumikan tiga keluarganya di Pemakaman yang tidak jauh dari rumahnya itu, Ustaz Abror yang mengalami sejumlah luka di kaki kemudian menyambut kedatangan sejumlah pelayat di rumahnya Jalan Pinang, Kompleks Bukit Nusa Indah, Ciputat.

Banyak kerabat dan tetangga bertanya kepada Ustaz Abror mengenai peristiwa tsunami itu.

Duduk di kursi plastik di depan rumahnya di Jalan Pinang, Bukit Nusa Indah Ciputat, Ustaz Abror menceritakan detik detik ombak menerjang penginapannya sekitar pada Sabtu malam (22/12/2018) pukul 19.30 WIB itu.

Saat itu di ruang tamu penginapan ia bersama sejumlah rombongan sedang mengobrol membicarakan masalah pengajian.

Namun, tiba- tiba salah seorang temannya memberi tahu bahwa ada ombak yang dari jauh tampak ketinggiannya sekitar tiga meter.

Tidak lama berselang petugas vila tempat ia menginap memberitahu untuk segera evakuasi. Ustaz Abror lalu berlari ke dalam kamar untuk mengambil kunci mobil.

''Saat di dalam kamar istri saya nanya, 'abi ada apa?' terus saya bilang ada air naik, anak anak tolong dijaga, saya parkir mobil dulu,'' kata Ustaz.

Saat baru menyalakan mesin mobil, suara gemuruh ombak makin nyaring terdengar. Ia pun memutuskan untuk keluar dari dalam mobil.

Tidak lama setelah pintu mobilnya tertutup, ia sudah tersapu ombak. ''Saya buru-buru ke luar mobil, baru saja saya tutup pintu, saya sudah kesapu air,'' katanya.

Saat terseret oleh air laut itu, Ustaz Abro tersangkut kabel listrik yang masih ada aliran listriknya.

Sengatan listrik dari kabel yang menyangkut tersebut terus ia tahan sambil berdoa kepada Tuhan untuk diberi keselamatan. ''Ya Allah ya Allah saya nyebut, terus lepas kabelnya,'' katanya.

Ustaz Abror menunggu air agak surut untuk kemudian bangkit. Setelah air laut surut hingga dengkul ia teringat istri dan ke empat anaknya masih berada di dalam kamar.

Dia berjalan menuju vila tempatnya menginap yang jaraknya kurang lebih 100 meter.

Saat tiba, cotage dengan bentuk bangunan semi permanen itu sudah hancur.

Dalam kondisi gelap ia kemudian memanggil istri dan anaknya. ''Umi, umi dimana, nak-nak,'' kata Ustaz dengan suara bergetar.

Tidak lama ia mendengar suara anak pertanya bernama Lutfathun Nisa (13) memanggil.

Suara itu ternyata berasal di bawah timbunan sampah, kayu, dan material bangunan yang tersapu dan terbawa air laut.

Saat sedang menyingkirkan sampah bangunan yang tingginya lebih dari satu meter itu ia menemukan sejumlah kerabat dan tetangganya.

Salah satunya Suhartini yang tak lain adalah keponakannya dalam posisi tergencet. Namun nahas keponakannya itu tidak terselamatkan.

''Anak saya masih belum kelihatan, ponakan saya di bawah, saat itu ia masih komunikasi, cuma dia bilang saya sudah tidak akan lama lagi,'' katanya.

Setelah menemukan salah satu anaknya, ustaz Abror lalu mencoba mengangkat tumpukan material bangunan yang menghimpit sejumlah keluarganya. Dengan badan penuh luka, tidak banyak benda yang ia bisa singkirkan.

''Saya sudah berusaha menyelamatkan, cuma kita kemampuan terbatas, engga mungkin mengangkat tumpukan sebesar itu. Saya hanya menyebut 'ya Allah, saya datang ke sini bukan untuk maksiat, saya untuk ibadah menghibur keluarga saya, menggemberikan keluarga saya. Berilah kami keselamatan','' katanya.

Sekitar satu jam setelah kejadian datangah sejumlah orang untuk mengevakuasi. Ia kemudian berjalan sambil menggendong anaknya yang paling besar. Saat sedang berjalan ia melihat anak ketiganya Muhamad Ali Rido (4) sedang digendong polisi. Dengan penerang terbatas anak ketiganya itu lalu memanggilnya.

Saat itu kondisi Ustaz Abror tidak bisa membawa ke dua anaknya sekaligus. Ia lalu meminta kepada Polisi, untuk mengantarkan anaknya itu ke Puskesnas.

''Abang (Alif ridho) ini abi, dia jawab 'abi dimana', saya bilang, 'abang maaf Abi tidak bisa tolong abang sekarang'. Saya cuma bisa berdoa selamatkan lah anak saya,'' katanya.

Dengan kondisi sekelilinya porak poranda, Ustaz Abror baru dievakuasi ke Puskesmas Minggu dini hari pukul 01.00 WIB.

Begitu tiba di sana, sudah banyak korban yang sedang dirawat.

Tanpa handphone dan kerabat yang dikenali di Puskesmas yang letaknya sudah hampir masuk Kabupaten Pandeglang itu, ustaz Abror hanya bisa pasrah.

Pada pukul 11 siang, ia baru mengahui bahwa anak pertama dan ketiganya selamat, namun nahas anak ke dua, keempat, serta sang istri meninggal dunia.

Tidak Ada Firasat

Ustaz Abror (38) mengaku tida ada firasat sama sekali sebelum Tsunami menerjang penginapannya di Kawasan Mutiara Ancol, pada Sabtu malam (22/12/2018). Termasuk firasat bahwa istri dan dua anaknya akan meninggal. 

Saat berangkat liburan di hari kejadian sang Ustaz mengaku dalam kondisi berbahagia. Ia dan keluarganya bercanda dan besolawat di dalam mobil.

Apalagi liburan itu menurutnya merupakan momentum berkumpul ia dan keluarganya, karena anak pertamnya belajar di pondok pesantren.

''Tidak ada firasat apapun, kami dalam kondisi berbahagia, kara saya selalu tekankan kepada keluarga saya kalau liburan tidak boleh membuat kesel atau jengkel, sehingga bisa bahagia,'' katanya.

Begitu pula dengan sikap istrinya, Siti Nur Alfisyah (36). tidak ada perubahan sikap atau apapun dari sang istri yang sehari-hari berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu.

Sang istri yang merupakan anak ke 4 dari 9 bersaudara tersebut selalu tampak riang termasuk saat melantunkan solawat dalam perjalanan menuju pantai Carita.

''Komunikasi saya terkahir ya itu saat saya masuk kamar untuk memarkirkan mobil karena ada ombak, ia tanya Abi mau kemana?'' katanya.

Ustaz Abror mengaku tidak mau mencari tahu firasat atau mengait-ngaitkan kejadian sebelum meninggal, karena musibah yang terjadi merupakan kehendak Tuhan. Menurutnya tidak ada yang tahu kapan seseorang meninggal.

''Tidak ada firasat apa apa, kita berhusnudzon pada Allah. Engga ada suara burung macam macam,'' katanya.

Begitu pula dengan firasat atau tanda tanda sebelum ombak pantai Selat Sunda menghantam penginapannya. Tidak ada sama sekali gempa sebelum kejadian tersebut.

Hanya saja sekitar Sabtu sore ia melihat dari kejauhan anak gunung krakatau mengeluarkan api (erupsi). Kejadian itu disertai suara gemuruh menggelegar.

''Hanya saja kata orang setempat, hal itu merupkan kejadian biasa saja, sudah sering terjadi, jadi saya anggap ya biasa saja,'' katanya.

Ustaz Abror mengatakan bahwa kejadian tsunami tersebut merupakan pelajaran berharga bagi dirinya.

Bahwa di atas sana ada Tuhan yang Maha Kuasa. Selain itu menurutnya bahwa apa yang manusia miliki di dunia ini hanyalah sementara.

Oleh karena itu ia berpesan bahwa dalam menjalani kehidupan jangan terlalu fokus pada duniawi saja, melainkan harus ingat pada kehidupan di akhirat.

''Kita tidak ada yang tahu anak saya yang sangat saya cintai, saya belai setiap hari kemudian meninggal, begitu juga istri saya. Mobil saya yang saya lap tiap hari kemudian sekarang udah menyangkut di pohon, jadi semua ini sementara,'' pungkasnya.

Masih Trauma

Ustaz Abror salah seorang penyintas tsunami yang menerjang kawasan pantai Selat Sunda pada Sabtu lalu (22/12/2018) mengaku saat ini masih trauma. Ia sering tiba tiba terbangun dari tidurnya apabila mendengar sesuatu yang gaduh.

''Psikologis saya terganggu, saya kagetan, saya tidur mendengar berisisik saya bangun,'' katanya.

Menurutnya selalu muncul rasa takut apabila ada suara gaduh seperti bunyi seng dan lainnya. Hal itu diakibatkan suara gemuruh air laut yang menerjang penginapannya. Begitu pula dengan kondisi psikologis kedua anaknya yang selamat dari terjangan tsunami tersebut.

Oleh karena itu hingga saat ini ia tidak memberitahu bahwa istrinya dan ibu dari anak-anaknya itu telah meninggal dunia dan dimakamkan.

''Anak saya belum tahu yang paling besar, ibunya sudah meninggal, menunggu dia pulih. Jangankan anak-anak, saya saja yang dewasa tergangu psikologisnya,'' tutur Ustaz Abror.

Ia berharap kedua anaknya segera pulih. Ia juga berharap korban tsunami lainnya yang hilang dapat segera diketemukan. ''Semoga yang lain cepat pulih, dan yang hilang dapat dketemukan,'' pungkasnya.***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:SerbaSerbi

GoNews TGPF Gagal Ungkap Penyerang Novel, KPK Minta Jokowi Bentuk Tim Pencari Fakta Baru
GoNews Pengacara TW Cambukkan Ikat Pinggang ke Jidat Hakim PN Jakpus yang Tengah Bacakan Putusan
GoNews Babi Hutan Berjalan di Atap Rumah Hebohkan Warga Banjarnegara, Begini Penampakannya
GoNews Ketahuan Hamil 4 Pekan, Ketua Rombongan 7 Kloter 38 Dipulangkan
GoNews Mini Bus Bermuatan 25 Penumpang Terjun ke Jurang di Jalan Lintas Sumatera, 4 Tewas
GoNews Cegah Penumpang KM Tidar Bunuh Diri, Kepala Stasiun Radio Pantai Tercebur ke Laut dan Hilang
GoNews Kapolri Ungkap 400 Kombes Berebut Jadi Brigjen, Banyak yang Cari Dukungan dan Keluarkan Uang
GoNews Sempat Terbang dan Kembali ke Embarkasi, Pesawat Garuda Pengangkut Jamaah Haji Delay 11 Jam
GoNews Pemerintah Alokasikan Rp10 Triliun untuk Tunjangan Pengangguran
GoNews Korban Salah Tangkap, Disiksa, Dipaksa Mengaku Membunuh dan Dipenjara 3 Tahun, 4 Pengamen Tuntut Ganti Rugi
GoNews Setelah Kisah Pilunya Tinggal di Toilet Sekolah Diberitakan Media, Bantuan Mengalir kepada Guru Honor Nining
GoNews Arab Saudi dan Negara Teluk Dukung Kebijakan China Penjarakan 1,5 Juta Muslim Uighur dan Dilarang Shalat
GoNews Pembangunan Ibukota Baru di Kalimantan akan Dimulai, Ini Persiapannya
GoNews Bali Pernah Diterjang Tsunami yang Merenggut Ribuan Jiwa
GoNews Ribuan Ikan Terdampar di Pantai Sebelum Gempa M 6,0 Guncang Bali, Begini Penjelasan BMKG
GoNews Anak Guru Mengaji dari Solok Selatan Jadi Lulusan Terbaik Akpol 2019
GoNews Usai Bertemu Prabowo, Amien Rais: Sampai Sekarang Pun Alhamdulillah Masih Istiqomah
GoNews Konsumsi Rokok Penduduk Miskin Indonesia Terbesar Kedua, Kalahkan Telur dan Daging Ayam
wwwwww