Kepala BNPT Tegaskan WNI Tak Terlibat Pengeboman Gereja di Filipina

Kepala BNPT Tegaskan WNI Tak Terlibat Pengeboman Gereja di Filipina
Suhardi Alius. (kompas.com)
Kamis, 14 Februari 2019 22:06 WIB
JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius menegaskan warga negara Indonesia (WNI) tak terlibat dalam pengeboman Gereja Katedral Our Lady of Mount Carmel di Filipina.

Dikutip dari liputan6.com, Suhardi Alius mengatakan, sampai sekarang Pemerintah Filipina tidak bisa membuktikan keterlibatan WNI.

Dia menuturkan, pihaknya sudah sampai turun ke sana. Dan Pemerintah Filipina terlalu dini menyebut WNI terlibat.

''Sudah dicek, bahkan sudah kita cek sana. Terlalu dini. Buktinya sekarang enggak ada kelanjutan lagi,'' ucap Suhardi di Auditorium Lemhanas, Jakarta Pusat, Kamis (14/2/2019).

Suhardi meminta bukti jika pemerintah Filipina menuding pelakunya dari Indonesia. ''Bukan (WNI). Dari mana buktinya, tidak bisa dibuktikan,'' jelasnya.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Syahar Diantono sebelumnya menyampaikan, hingga kini tim masih belum mengenali identitas pelaku yang diduga WNI itu.

''Kami sudah konfirmasi tadi, jadi masih tetap yang pertama proses riksa labfor di Filipina untuk tes DNA. Dan tim Indonesia yang di sana terus mendalami, bekerja sama, berkoordinasi dengan penyidik yang di sana. Untuk mendalami semua informasi dari pemeriksaan saksi,'' tutur Syahar.

Menurut Syahar, hal yang menjadi kendala utama adalah tubuh pelaku yang saat ditemukan sudah tidak utuh. Pecahan bagian tubuh akibat ledakan itu pun tergolong kecil.

''Bagian tubuhnya hanya cuma jari, hanya cuma kaki sepotong-sepotong, itu kan perlu proses waktu,'' jelas dia.

Selain itu, penyidik juga mendalami keterangan dari pemeriksaan lima tersangka yang menyerahkan diri pada 2 Februari 2019. Para anggota Abu Sayyaf itu diduga memiliki keterkaitan dengan teror bom ganda yang menghantam gereja di Jolo, Provinsi Sulu, Filipina, 27 Januari 2019.

''Inilah salah satu materi juga yang sedang dilakukan tim dari Indonesia untuk koordinasi dengan penyidik sana. Salah satunya itu,'' Syahar menandaskan. ***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:SerbaSerbi

GoNews Setelah Kisah Pilunya Tinggal di Toilet Sekolah Diberitakan Media, Bantuan Mengalir kepada Guru Honor Nining
GoNews Arab Saudi dan Negara Teluk Dukung Kebijakan China Penjarakan 1,5 Juta Muslim Uighur dan Dilarang Shalat
GoNews Pembangunan Ibukota Baru di Kalimantan akan Dimulai, Ini Persiapannya
GoNews Bali Pernah Diterjang Tsunami yang Merenggut Ribuan Jiwa
GoNews Ribuan Ikan Terdampar di Pantai Sebelum Gempa M 6,0 Guncang Bali, Begini Penjelasan BMKG
GoNews Anak Guru Mengaji dari Solok Selatan Jadi Lulusan Terbaik Akpol 2019
GoNews Usai Bertemu Prabowo, Amien Rais: Sampai Sekarang Pun Alhamdulillah Masih Istiqomah
GoNews Konsumsi Rokok Penduduk Miskin Indonesia Terbesar Kedua, Kalahkan Telur dan Daging Ayam
GoNews Hasil Kajian KPK, 40 Persen Sektor Industri Kelapa Sawit Tak Patuh Bayar Pajak
GoNews Kata Pengamat, Penumpang Berhak Ambil Gambar dalam Pesawat karena Sudah Bayar Tiket dan Demi Keselamatan
GoNews Garuda Larang Ambil Gambar dalam Pesawat, Ini Alasannya
GoNews Dikirim Sehari Sebelum Bertemu Jokowi, Ini Isi Surat Prabowo kepada Amien Rais
GoNews Dua Tahun Berlalu, Polri Tak Juga Mampu Ungkap Penganiaya Novel, ICW Cs Melapor ke Polisi Tidur
GoNews Gempa Magnitudo 6,0 Guncang Bali, Siswa dan Guru di Jembrana Berhamburan
GoNews Kisah Pilu Nining Suryani, Guru Honor Bergaji Rp350 Ribu yang Terpaksa Tinggal di Toilet Sekolah
GoNews Kesal Tak Dapat Kursi di Kereta, Wanita Muda Ini Nekat Lepas Rok dan Celana Dalam, Begini Penampakannya
GoNews 30 Wanita dan Anak-anak Tewas Dibantai di Papua Nugini, 2 Korban Tengah Hamil
GoNews Fotonya Diedit Jadi Sangat Cantik, Anggota DPD Terpilih Evi Apita Maya Digugat ke MK
wwwwww