Monica Elfriede Witt, Agen Kontra Intelijen Angkatan Udara AS yang Jadi Mualaf dan Dituduh Membelot ke Iran

Monica Elfriede Witt, Agen Kontra Intelijen Angkatan Udara AS yang Jadi Mualaf dan Dituduh Membelot ke Iran
Monica Elfriede Witt. (washingtonpost.com)
Jum'at, 15 Februari 2019 07:35 WIB
WASHINGTON - Monica Elfriede Witt yang kini berusia 39 tahun, sebelumnya merupakan personel Angkatan Udara Amerika Serikat yang menjalankan tugas sebagai agen kontra intelijen. Witt pernah menjalankan misi rahasia di Irak, Arab Saudi dan Qatar.

Namun belakangan, para pejabat AS menjulukinya "wayward storm" atau badai pembangkang.

Dikutip dari merdeka.com, pada pertengahan 2013, Witt kecewa dengan pemerintah - alasannya tetap menjadi misteri - dan dia pun meninggalkan militer. Tuduhan pengkhianatan dilayangkan padanya.

Tuduhan itu diumumkan kepada publik pada hari Rabu ketika Departemen Kehakiman menuduh Witt membelot ke Iran pada Agustus 2013 untuk bekerja dengan Korps Pengawal Revolusi Islam Iran. Witt didakwa dengan dua tuduhan spionase dan kejahatan lainnya. Jaksa menuding Witt membantu pemerintah Iran dalam upaya penangkapan yang menargetkan mantan rekannya. Penyelidik juga mengatakan dia memberi informasi rahasia kepada Iran tentang operasi intelijen Amerika. Dia diyakini masih berada di Iran.

Kasus Witt ini beberapa di antara kasus yang terjadi beberapa tahun belakangan ini di mana menurut jaksa penuntut negara asing, khususnya Tiongkok, telah berusaha merekrut mantan pejabat militer atau intelijen Amerika.

''Kasus yang diungkap hari ini menyoroti bahaya bagi profesional intelijen kami dan sejauh mana musuh kita akan mengidentifikasi mereka, mengekspos mereka, menargetkan mereka, dan, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, pada akhirnya mengubah mereka melawan negara sendiri yang mereka telah bersumpah untuk melindunginya,'' kata kepala divisi keamanan nasional Departemen Kehakiman, John C. Demers dalam pernyataannya, dilansir dari The New York Times, Kamis (14/2/2019).

Pihak berwenang tidak mengungkapkan aksi Witt ini merugikan operasi intelijen Amerika, tetapi program apa pun yang ia akses selama berada di Angkatan Udara mungkin akan dianggap telah dikompromikan. Witt juga bekerja sama dengan FBI tentang masalah kontra intelijen, dan mengetahui identitas informan Iran yang digunakan oleh agen intelijen Amerika.

Witt lahir di El Paso. Dia masuk Angkatan Udara pada 1997 sebagai bagian dari Kantor Investigasi Khusus, yang melakukan penyelidikan kontra intelijen di Amerika Serikat dan luar negeri. Dia belajar bahasa Farsi di Institut Bahasa Pertahanan di Monterey, California, dan kemudian fokus mengumpulkan komunikasi yang dicegat dari musuh-musuh asing.

Dia tak lagi aktif bertugas di Angkatan Udara sejak 2008 dan selama dua tahun bekerja sebagai kontraktor. Dia membantu mengelola program sangat rahasia yang melibatkan informan yang bekerja melawan Iran.

Seseorang yang akrab dengan kasusnya mengatakan dia tidak puas ketika bekerja untuk Angkatan Udara dan terpikat dengan budaya Persia dan masuk Islam. Pada awal 2012, dia pergi ke Iran untuk menghadiri konferensi yang disebut Hollywoodism. Para jaksa penuntut mengatakan konferensi itu disponsori Korps Pengawal Revolusi Islam, sebuah pasukan paramiliter elit Iran, dan dimaksudkan untuk mempromosikan propaganda anti-Amerika.

Saat di konferensi, dia tampil dalam satu video. Di video itu dia disebut sebagai veteran dan membuat pernyataan yang kritis terhadap Amerika Serikat. Video disiarkan oleh kantor berita Iran.

Dalam dakwaan disebutkan, setelah Witt kembali ke Amerika Serikat, FBI mendatanginya. Witt pun menyampaikan peringatan: badan intelijen Iran berusaha merekrutnya. Kepada agen FBI dia berjanji tak akan pernah mengungkapkan pekerjaan yang dia lakukan selama di Angkatan Udara.

Witt kemudian menjadi target Iran. Pada Juni 2012, seorang jurnalis Amerika-Iran, Marzieh Hashemi, berkunjung ke AS dan merekrutnya untuk pengerjaan film anti-Amerika. Pada 2013, Witt berangkat ke Iran untuk menghadiri konferensi Hollywoodisme dan bertemu dengan anggota Garda Revolusi dan menyatakan pandangan kritis terhadap AS. Dia juga menyatakan keinginannya untuk berimigrasi ke Iran, kata jaksa penuntut.

Surat dakwaan mengatakan dia sering berkomunikasi dengan Hashemi, yang diidentifikasi sebagai ''Individu A''. Dia memberi tahu Hashemi bahwa pekerjaan yang pernah dilakukan untuk Angkatan Udara itu hal yang 'jahat'. Dia juga membicarakan pengungkapan program rahasia dan mengatakan "mencontoh Snowden, merujuk pada Edward J Snowden, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional yang mencuri dokumen sensitif dan memberikannya kepada wartawan.

Witt akhirnya pergi ke Afghanistan untuk mengajar bahasa Inggris, dan melakukan kontak dengan Iran. Namun kemudian dia frustrasi ketika orang-orang Iran mencurigainya. Witt kemudian mengungkapkan keinginannya ke Rusia sebagaimana yang dilakukan Snowden.

''Saya pikir saya bisa menyelinap ke Rusia dengan tenang jika mereka membantu saya dan kemudian saya dapat menghubungi wikileaks dari sana tanpa mengungkapkan lokasi saya,'' tulisnya kepada Hashemi.

Rupanya orang Iran menjadi khawatir dan bergerak cepat untuk memastikan itu tidak terjadi, memberinya uang untuk melakukan perjalanan ke Iran.

''Mereka memberi saya uang untuk pergi ke Dubai,'' katanya dalam sebuah pesan kepada Hashemi.

''Saya menunggu persetujuan; dan mendapatkannya dari kedutaan di Dubai. Mereka sangat baik. Bahkan mengantar saya ke bandara.''

Witt diperkirakan berada di Tajikistan saat berkorespondensi melalui surat elektronik dengan Hashemi.

Jaksa menjelaskan bagaimana Witt mengirimi Hashemi surel pada bulan Agustus 2013 berjudul: ''Biodata dan Riwayat Pekerjaan Saya''. Termasuk surat pengunduran dirinya dari militer. Hashemi kemudian meneruskan surat-surat tersebut ke alamat email yang terkait dengan Iran.

Jaksa menuduh Witt membelot ke Iran bulan itu dan bekerja dengan Garda Revolusi untuk mengkhianati negaranya. Kelompok paramiliter diketahui melakukan pembunuhan dan serangan siber di seluruh dunia dan telah dihukum oleh pemerintah Amerika Serikat.

Ketika dia tiba di Iran, para pejabat memberinya perumahan dan peralatan komputer. Jaksa penuntut mengatakan bahwa dia mencari akun Facebook orang Amerika dan membuat ''paket target'' untuk Iran dalam rangka melawan para pejabat kontra intelijen Amerika.

Pada akhir 2014, kata jaksa penuntut, warga Iran yang bekerja atas nama Garda Revolusi mulai menargetkan mantan rekan Witt dengan menggunakan alamat surel Yahoo palsu dan akun Facebook. Para jaksa penuntut mengatakan orang-orang Iran mencoba mengirim malware di komputer Amerika yang bertujuan salah satunya untuk memonitor aktivitas mereka.

Salah seorang mantan pejabat senior pemerintahan mengatakan Witt juga terlibat dalam interogasi 10 pelaut Amerika yang ditangkap pada tahun 2016 saat berpatroli di perairan Iran. Para pelaut dibebaskan setelah sekitar 15 jam.

Witt juga disebut tak menampakkan diri ketika kasus pidana yang membelitnya tengah diproses. Hakim di Washington baru-baru ini meminta keterangan satu saksi yaitu Hashemi.

Hashemi lahir dengan nama Melanie Franklin di Louisiana dan pindah ke Iran lebih dari satu dekade lalu setelah mualaf tmasuk Islam). Saat ini Hashemi merupakan reporter terkemuka Press TV, stasiun televisi berbahasa Inggris di Iran.

Hashemi ditangkap di St. Louis saat dalam perjalanan ke Amerika Serikat untuk mengunjungi kerabat dan dibawa ke Washington. Pejabat kemudian mengungkapkan Hashemi merupakan saksi material dalam kasus kriminal yang tidak disebutkan. Namun kemudian Hashemi dibebaskan setelah ditahan selama 11 hari. ***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi

GoNews Korban Salah Tangkap, Disiksa, Dipaksa Mengaku Membunuh dan Dipenjara 3 Tahun, 4 Pengamen Tuntut Ganti Rugi
GoNews Setelah Kisah Pilunya Tinggal di Toilet Sekolah Diberitakan Media, Bantuan Mengalir kepada Guru Honor Nining
GoNews Arab Saudi dan Negara Teluk Dukung Kebijakan China Penjarakan 1,5 Juta Muslim Uighur dan Dilarang Shalat
GoNews Pembangunan Ibukota Baru di Kalimantan akan Dimulai, Ini Persiapannya
GoNews Bali Pernah Diterjang Tsunami yang Merenggut Ribuan Jiwa
GoNews Ribuan Ikan Terdampar di Pantai Sebelum Gempa M 6,0 Guncang Bali, Begini Penjelasan BMKG
GoNews Anak Guru Mengaji dari Solok Selatan Jadi Lulusan Terbaik Akpol 2019
GoNews Usai Bertemu Prabowo, Amien Rais: Sampai Sekarang Pun Alhamdulillah Masih Istiqomah
GoNews Konsumsi Rokok Penduduk Miskin Indonesia Terbesar Kedua, Kalahkan Telur dan Daging Ayam
GoNews Hasil Kajian KPK, 40 Persen Sektor Industri Kelapa Sawit Tak Patuh Bayar Pajak
GoNews Kata Pengamat, Penumpang Berhak Ambil Gambar dalam Pesawat karena Sudah Bayar Tiket dan Demi Keselamatan
GoNews Garuda Larang Ambil Gambar dalam Pesawat, Ini Alasannya
GoNews Dikirim Sehari Sebelum Bertemu Jokowi, Ini Isi Surat Prabowo kepada Amien Rais
GoNews Dua Tahun Berlalu, Polri Tak Juga Mampu Ungkap Penganiaya Novel, ICW Cs Melapor ke Polisi Tidur
GoNews Gempa Magnitudo 6,0 Guncang Bali, Siswa dan Guru di Jembrana Berhamburan
GoNews Kisah Pilu Nining Suryani, Guru Honor Bergaji Rp350 Ribu yang Terpaksa Tinggal di Toilet Sekolah
GoNews Kesal Tak Dapat Kursi di Kereta, Wanita Muda Ini Nekat Lepas Rok dan Celana Dalam, Begini Penampakannya
GoNews 30 Wanita dan Anak-anak Tewas Dibantai di Papua Nugini, 2 Korban Tengah Hamil
wwwwww