Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pimpin Penangkapan Buronan Nurhadi, Novel Baswedan Jadi Trending
Peristiwa
17 jam yang lalu
Pimpin Penangkapan Buronan Nurhadi, Novel Baswedan Jadi Trending
2
Jelang New Normal, DPD RI Serap Aspirasi Tenaga Pendidik DKI Jakarta
DPD RI
23 jam yang lalu
Jelang New Normal, DPD RI Serap Aspirasi Tenaga Pendidik DKI Jakarta
3
Tahun Ajaran Baru, DPR Dukung Pembelajaran Tetap Jarak Jauh
Politik
18 jam yang lalu
Tahun Ajaran Baru, DPR Dukung Pembelajaran Tetap Jarak Jauh
4
Bamsoet: Sektor Pariwisata Akan Pulih dengan Menerapkan Protokol Kesehatan
Politik
18 jam yang lalu
Bamsoet: Sektor Pariwisata Akan Pulih dengan Menerapkan Protokol Kesehatan
5
Sebelum Kader IMM Bergerak, Ade Armando Diminta Segera Minta Maaf ke Din Syamsuddin
Peristiwa
17 jam yang lalu
Sebelum Kader IMM Bergerak, Ade Armando Diminta Segera Minta Maaf ke Din Syamsuddin
6
Bambang Widjojanto: Meski Mata Novel Baswedan Dirampok, Tapi Berhasil Tangkap Nurhadi
Pemerintahan
17 jam yang lalu
Bambang Widjojanto: Meski Mata Novel Baswedan Dirampok, Tapi Berhasil Tangkap Nurhadi

Jamaah Masjid Miftahul Falah Dibunuh Pakai Kapak Saat Shalat Isya Berjamaah, Polisi Sebut Pelaku Idap Gangguan Jiwa

Jamaah Masjid Miftahul Falah Dibunuh Pakai Kapak Saat Shalat Isya Berjamaah, Polisi Sebut Pelaku Idap Gangguan Jiwa
Kurnaevi (pakai seragam tahanan), pelaku pembunuhan Masikin saat shalat Isya di Masjid Miftahul Falah. (tribunnews)
Sabtu, 16 Februari 2019 09:07 WIB
SUMEDANG - Masikin (54), tewas setelah menjadi korban pembacokan dalam Masjid Miftahul Falah, Dusun Salam RT 002 RW 002, Desa Sindangsari, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Kamis (14/2/2019) malam. Masikin dibunuh saat menunaikan shalat Isya berjamaah.

Dikutip dari tribunnews.com, tetangga korban, Kurnaevi, yang diduga sebagai pelaku pembacokan, sudah ditangkap aparat kepolisian. Kepada polisi, pelaku menceritakan, pembacokan bermula saat dia hendak melaksanakan shalat Isya di Masjid Miftahul Falah, Kamis malam.

Kemudian pelaku kembali ke rumahnya untuk mengambil patik (kapak besar) yang biasa digunakan untuk memotong kayu. Sambil membawa patik, pelaku kembali ke masjid.

''Kemudian si pelaku kembali ke masjid dengan kapak tersebut,'' ujar Kapolres Sumedang, AKBP Hartoyo, ketika ditemui Tribun Jabar di Mapolres Sumedang, Jumat (15/2/2019).

Saat itu dalam masjid ada Maslikhin dan delapan orang lainnya sedang melaksanakan salat isya berjamaah. Dari arah belakang, pelaku datang dan langsung membacokkan patik ke tubuh korban, hingga korban tersungkur.

''Pelaku sendiri merupakan tetangga korban dan tinggal di area yang sama,'' ujar AKBP Hartoyo.

Setelah melakukan perbuatannya, pelaku sempat melarikan diri dan ditangkap petugas di pemakaman umum di Desa Cilayung, Kecamatan Jatinangor.

Kata AKBP Hartoyo, pelaku dendam pada korban. Namun, dendam tersebut merupakan dampak dari kondisi psikologi pelaku yang bermasalah. ''Pelaku memiliki gangguan kejiwaan,'' ujarnya.

Hartoyo mengatakan, dokter yang pernah menangani Kurnaevi menyebutkan, pelaku kerap berhalusinasi. Diduga, pengakuan pelaku yang merasa dipelototi korban hanya halusinasi.

Setelah melakukan perbuatannya, pelaku sempat melarikan diri dan ditangkap petugas di pemakaman umum di Desa Cilayung, Kecamatan Jatinangor.

''Kata dokter spesialis kejiwaan yang sempat menangani pelaku, dia kerap berhalusinasi. Saat kejadian, halusinasi itu yang muncul dan melatarbelakangi pelaku membunuh korban,'' ujarnya.

Dokter spesialis kejiawaan Edi, yang dihadirkan polisi, mengatakan, pelaku datang ke kliniknya untuk berobat pada Juni 2018.

Saat berobat, pelaku mengalami stres berat dan banyak melamun. Edi pernah menyarankan agar Kurnaevi dirawat.

''Pelaku mengalami gangguan jiwa berat. Saat terakhir kali diperiksa, saya sudah menyarankan untuk dirawat. Hal ini (pembunuhan) terjadi mungkin saja karena halusinasi pelaku ini kambuh lagi karena sudah lama tidak berobat lagi,'' kata Edi. ***

Editor:hasan b
Sumber:tribunnews.com
Kategori:Ragam

wwwwww