Dituduh Hina TNI, Dosen UNJ Ditangkap dan Dijadikan Tersangka

Dituduh Hina TNI, Dosen UNJ Ditangkap dan Dijadikan Tersangka
Robertus Robert saat berorasi di acara Kamisan. (tempo.co)
Kamis, 07 Maret 2019 10:53 WIB
JAKARTA - Dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Robertus Robert ditangkap polisi Kamis (7/3) dini hari, sekitar pukul 00.30 WIB, karena diduga melakukan penghinaan terhadap institusi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Polisi bahkan sudah menetapkan Robert sebagai tersangka.

''Iya (ditetapkan tersangka), masih diperiksa,'' kata Karopenmas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Kamis (7/3), seperti dikutip dari merdeka.com.

Polisi menjeratnya dengan pasal ujaran kebencian. ''Dugaan tindak pidana menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), dan/atau berita bohong (hoaks), dan/atau penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia,'' jelas Dedi Prasetyo, dalam keterangan tertulisnya, Kamis.

Sangkaan polisi tersebut tertuang dalam pasal 45 A ayat (2) Jo 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana dan/atau Pasal 207 KUHP. Polisi memeriksa Robert di Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Robert diduga menghina TNI saat orasi di Monas pada acara Kamisan 28 Februari lalu. Robert menyanyikan lagu yang populer di kalangan aktivis 1998, namun isinya dianggap menghina TNI.

''Melakukan orasi pada saat demo di Monas, tepatnya di depan Istana dengan melakukan penghinaan terhadap institusi TNI,'' ucap Dedi.

Dikutip dari kumparan.com, sebelumnya rekan Robert, Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik menyatakan, Robertus ditangkap di kediamannya Kamis dini hari.

''Benar sudah ditangkap, sudah ditetapkan sebagai tersangka di Gedung Bareskrim baru (Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan),'' ungkap Rachlan.

Robert Klarifikasi

Dikutip dari merdeka.com, sesaat sebelum dicokok polisi, Robert telah membuat video berisi klarifikasi dan permintaan maaf terhadap institusi TNI. Ia berdalih dalam orasinya mengkritisi ABRI era 1998. Sejurus dengan itu, lagu yang dinyanyikan Robert bukan ciptaannya dan telah populer sejak aksi 1998.

Berikut klarifikasi dan permintaan Robert dalam video yang beredar:

''Saya Robertus Robert, belakangan ini beredar sebuah video saya di media sosial saya menerima banyak reaksi dan keberatan. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan beberapa klarifikasi:

-Pertama

Lagu dalam orasi tersebut bukan lagu saya juga bukan saya yang membuat. Melainkan sebuah lagu yang populer saat gerakan mahasiswa di Tahun 1998.

-Kedua

Asal usul lagu tersebut sebenarnya juga sudah saya jelaskan dalam pengantar saya dalam orasi tersebut. Namun sayangnya tidak ada dalam rekaman video tersebut.

-Ketiga

Lagu itu dimaksudkan sebagai kritik saya terhadap ABRI di masa lampau, bukan terhadap TNI di masa kini. Sekali lagi saya ulangi lagu itu dimaksudkan kritik saya terhadap ABRI di masa lampau bukan di TNI di masa kini, apalagi dimaksudkan menghina profesi organisasi institusi TNI.

Sebagai dosen saya sungguh tahu persis upaya-upaya reformasi yang sudah dilakukan TNI dan dalam banyak hal. Saya justru memuji dan memberikan apresiasi upaya-upaya reformasi yang dilakukan TNI yang lebih maju dibandingkan yang lainnya.

Demikianlah penjelasan saya, semoga dengan penjelasan saya ini saya bisa menjernihkan berbagai macam reaksi, namun apabila ada yang menganggap itu suatu kesalahan yang menimbulkan kesalahpahaman saya mohon maaf.''

Sebelumnya, beredar video Robertus Robert melakukan orasi dalam acara Kamisan di depan Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu. Robertus menyanyikan mars ABRI, tetapi tidak sesuai liriknya.

Lirik yang benar adalah:

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Siap sedia

Mempertahankan

Menyelamatkan

Negara Republik Indonesia

Oleh Robertus, Mars ABRI ini telah diubah liriknya menjadi:

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Tidak berguna

Bubarkan saja.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com dan kumparan.com
Kategori:SerbaSerbi

GoNews Dituduh Hina TNI, Begini Klarifikasi Dosen UNJ Robertus Robert
GoNews Mahfud Ungkap Tarif Suap Rektor UIN Rp5 Miliar, KPK Diminta Selidiki
GoNews Ditentukan Menag, Busyro Sebut Ada Potensi Suap dalam Pemilihan Rektor UIN
GoNews Orang Misterius Obrak-abrik Isi Masjid di Banyumas, 50 Kitab Kuning dan Alquran Dibuang ke Sumur
GoNews Survei Kompas; Kader Partai Pengusung Jokowi Banyak Membelot, Golkar 41,7%, Hanura 38,9% dan PKB 30,1%
GoNews Waktunya Sudah Dekat, Hampir Semua Agenda Kampanye Prabowo-Sandi Belum Dapat Izin dari Aparat
GoNews Wanita Cantik Ini Lakukan Pemerasan dengan Modus Ajak Pria Tidur di Kamar Kos
GoNews Petani Bawang yang Pernah Mengeluh Sambil Menangis di Hadapan Sandiaga Uno Ditahan Polisi
GoNews Kasus Proyek Meikarta, Demiz Pernah Lapor ke Jokowi Ada Menteri Main Bola Panas, Sebut Nama Luhut, Mendagri dan Sofyan
GoNews Survei Kompas; Prabowo-Sandi Kuasai DKI, Jabar, Banten dan Sumatera
GoNews Ditembak Kelompok Bersenjata, 1 Anggota Brimob Tewas dan 2 Terluka
GoNews Video Polisi Ajak Warga Teriak Jokowi Yes Yes Yes Viral, Polri Akan Cek Akun Penyebar
GoNews Panglima TNI Mutasi dan Promosikan 72 Pati AD, AL dan AU, Ini Daftar Lengkapnya
GoNews Tanah Wakaf yang di Atasnya Berdiri Masjid Dicaplok Warga Asing, Ribuan Jamaah Demo ke Kantor BPN
GoNews Gempa Guncang Pariaman Dinihari Tadi, Berpusat di Darat pada Kedalaman 10 Kilometer
GoNews KPK Temukan Rp180 Juta dan USD 30 Ribu dari Ruang Kerjanya, Menag: Mohon Maaf Saya Belum Bisa Klarifikasi
GoNews KPK Duga Romy dan Pejabat Kemenag Sekongkol, Sejumlah Barang Bukti Ditemukan di Ruang Kerja Menag
GoNews Dukung Prabowo-Sandi, Erwin Aksa Dipecat Golkar
wwwwww