Dalam Sepekan, Badai Siklon Idai Renggut 700 Jiwa

Dalam Sepekan, Badai Siklon Idai Renggut 700 Jiwa
Kerusakan akibat badai siklon Idai. (liputan6.com)
Minggu, 24 Maret 2019 21:02 WIB
MAPUTO - Badai siklon Idai yang menerjang sebagian wilayah Afrika timur dan selatan sejak sepekan lalu telah menyebabkan 700 orang meninggal dunia.

Dikutip dari liputan6.com yang melansir dari BBC pada Ahad (24/3/2019), jumlah korban tewas di Mozambik naik dari 242 menjadi 417 orang, kata Menteri Tanah dan Lingkungan Celso Correia.

Angka baru ini menempatkan jumlah korban jiwa secara keseluruhan sekitar 700 orang di seluruh Mozambik, Zimbabwe dan Malawi.

Proses pencarian yang belum selesai memicu perkiraan jumlah korban akan terus meningkat.

Badai siklon Idai telah menewaskan sedikitnya 259 orang di Zimbabwe, sementara di Malawi 56 orang kehilangan nyawa ketika hujan lebat mengguyur hampir sehari penuh, akibat pengaruh topan.

PBB menambahkan bahwa para pejabat lokal hanya dapat menentukan jumlah pasti korban tewas setelah air banjir surut.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan pada hari Sabtu bahwa sungai Buzi dan Zambezi berisiko kembali meluap dalam beberapa hari ke depan.

''Kita harus menunggu sampai air banjir surut untuk mengetahui dampak keseluruhan yang menimpa orang-orang di Mozambik,'' kata koordinator OCHA Sebastian Rhodes Stampa.

Ribuan orang dilaporkan masih terjebak oleh banjir dan banyak pusat bantuan pemerintah Mozambik baru saja mulai menerima pasokan makanan.

Hantaman badai siklon Idai menyebabkan sekitar 1,7 orang terdampak, dengan listrik dan saluran air terputus di banyak wilayah yang hancur akibat banjir.

Meningkatkan Penularan Penyakit

Pada hari Jumat, tercatat kemunculan kasus penularan penyakit kolera di Beira, Mozambik tengah. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Masyarakat (IFRC) juga memperingatkan risiko wabah lain, seperti malaria yang sudah mulai terlihat.

Badai siklon Idai mendarat di dekat Beira, sebuah kota berpenduduk 500.000 orang, dengan kecapatan angin mencapai 177 kilometer per jam pada 14 Maret.

Relawan secara perlahan memberikan bantuan, tetapi kondisinya dikatakan sangat sulit, dengan beberapa daerah tidak dapat diakses, serta kurangnya ketersediaan helikopter untuk mengangkut.

Kelompok bantuan mengatakan Mozambik telah menanggung beban banjir dari sungai yang mengalir ke hilir dari negara-negara tetangga.

Hampir 90.000 warga Mozambik diperkirakan berlindung di lokasi sementara, sementara ribuan lainnya masih terlantar di daerah banjir, lapor kantor berita AFP. ***

Editor:hasan b
Sumber:liputan6.com
Kategori:SerbaSerbi

       
        Loading...    
           
wwwwww