Andre Rosiade: Orang Minang Tak Pilih Jokowi karena Ekonomi Sulit, Bukan karena Islam Garis Keras

Andre Rosiade: Orang Minang Tak Pilih Jokowi karena Ekonomi Sulit, Bukan karena Islam Garis Keras
Andre Rosiade. (prokabar)
Senin, 29 April 2019 10:12 WIB
JAKARTA - Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin kalah telak di Provinsi Aceh, Sumatera Barat (Sumbar), Jawa Barat (Jabar) dan Sulawesi Selatan (Sulsel). Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD menyebut keempat provinsi yang menjadi lumbung suara pasangan Prabowo-Sandiaga tersebut daerah Islam garis keras.

Dikutip dari pojoksatu.id, pernyataan Mahfud MD ini muncul dalam wawancara di salah satu stasiun televisi. Video potongan wawancara yang berdurasi 1 menit 20 detik itu beredar luas di media sosial.

Berikut pernyataan Mahfud MD tersebut:

''Kemarin itu sudah agak panas dan mungkin pembelahannya sekarang kalau lihat sebaran kemenangan ya mengingatkan kita untuk lebih sadar segera rekonsiliasi. Karena sekarang ini kemenangan Pak Jokowi ya menang dan mungkin sulit dibalik kemenangan itu dengan cara apapun.

Tapi kalau lihat sebarannya di beberapa provinsi-provinsi yang agak panas, Pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi tempat kemenangan Pak Prabowo itu adalah diidentifikasi yang dulunya dianggap provinsi garis keras dalam hal agama, misal Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya, Sulawesi Selatan juga.

Saya kira rekonsiliasinya jadi lebih penting untuk menyadarkan kita bahwa bangsa ini bersatu karena kesadaran akan keberagaman dan bangsa ini hanya akan maju kalau bersatu.''

Dinilai Memecah-belah

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi Dahnil Anzar Simanjuntak mengritik pernyataan Mahfud tersebut.

''Saya menghormati Pak @mohmahfudmd tapi kaget dengan tuduhannya, karena ambisinya sampai tega menggunakan narasi daerah-daerah 02 menang seperti Aceh, Sumbar, Jawa Barat dan sebagainya, sebagai daerah Islam garis keras,” ungkap Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, lewat Twitter, Ahad (28/4/2019).

''Narasi Pak Mahfud ini yang justru memecah-belah dan penuh kebencian,'' katanya lagi.

Dahnil menganggap pernyataan Mahfud itu menunjukkan sikap tak Pancasilais. Dia menyinggung gerakan Suluh Kebangsaan yang digagas Mahfud.

''Apakah sikap Pancasilais itu adalah sikap menuduh dan melabel kelompok lain yang tidak satu garis politik sebagai Islam Garis keras seperti yang dilakukan oleh Pak @mohmahfudmd ketika menyebut daerah di mana Prabowo menang adalah daerah Islam Garis keras?'' ungkapnya.

''Bagaimana mungkin Pak @mohmahfudmd yang menyatakan dirinya menggerakkan suluh kebangsaan justru mengeluarkan pernyataan keruh kebangsaan dengan menuduh daerah seperti Aceh, Sumbar, Jawa Barat dan seterusnya yang dukung Prabowo adalah daerah Islam Garis keras,'' sambung Dahnil.

Sementara Jubir BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade yang berasal dari Sumatera Barat menceritakan latar belakangnya yang pernah sekolah di sekolah Katolik.

''Kami orang Minang memang Alhamdulillah adalah penganut Islam yang taat, tapi kami bukanlah garis keras dan radikal Prof @mohmahfudmd. Kami adalah umat Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Kami orang Minang sangat toleran dalam kehidupan beragama. Semua hidup rukun berdampingan,'' ungkap Andre lewat Twitter.

Andre yang merupakan caleg DPR Dapil Sumbar I ini menyebutkan,Jokowi kalah di provinsi tersebut tidak ada kaitannya dengan agama.

''Alasan masyarakat Minang tidak memilih Pak @jokowi adalah ekonomi. Karena kehidupan ekonomi yang sulit, cari pekerjaan susah, harga sembako di pasar tidak terjangkau, listrik mahal, pupuk mahal, dan lain-lain. Mudah-mudahan Prof @mohmahfudmd paham penjelasan saya ini. Salam hormat,'' ungkapnya.

Sementara mantan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief meminta Prof Mahfud MD tidak melupakan sejarah, terutama pada pembentukan piagam Jakarta.

''Jangan melupakan jasa Islam garis keras yang dimaksud saat mau mengalah demi persatuan Indonesia–dengan berbesar hati menghilangkan 7 kata dalam piagam Jakarta–. Itulah pengorbanan para garis keras pendiri bangsa,'' kata Andi Arief dalam akun Twitter-nya.

Penjelasan Mahfud

Lewat Twitter, Mahfud MD sudah memberi penjelasan. Dia bicara soal istilah ‘garis keras’ yang dimaksudnya.

''Garis keras itu sama dengan fanatik dan sama dengan kesetiaan yang tinggi. Itu bukan hal yang dilarang, itu term politik. Sama halnya dengan garis moderat, itu bukan hal yang haram,'' tulis Mahfud, Ahad (28/4/2019).

''Dua-duanya boleh dan kita bisa memilih yang mana pun. Sama dengan bilang Jokowi menang di daerah PDIP, Prabowo di daerah hijau,'' sambungnya.

Mahfud menegaskan bahwa istilah ‘garis keras’ adalah istilah biasa dalam ilmu politik. Dia mengambil contoh daerah asalnya, Madura.

''Dalam term itu saya juga berasal dari daerah garis keras yaitu Madura. Madura itu sama dengan Aceh dan Bugis, disebut fanatik karena tingginya kesetiaan kepada Islam sehingga sulit ditaklukkan. Seperti halnya konservatif, progresif, garis moderat, garis keras adalah istilah-istilah yang biasa dipakai dalam ilmu politik,'' jelas Mahfud. ***

Editor:hasan b
Sumber:pojoksatu.id
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww