Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Protokol New Normal Driver Ojol: Penumpang Bawa Helm Sendiri
Ekonomi
7 jam yang lalu
Protokol New Normal Driver Ojol: Penumpang Bawa Helm Sendiri
2
Satgas Covid-19 DPR RI Sentil Kemendikbud soal Persiapan 'New Normal'
DPR RI
8 jam yang lalu
Satgas Covid-19 DPR RI Sentil Kemendikbud soal Persiapan New Normal
3
Inikah 'New Normal' di DPR? Penggunaan 'Smartcard' dan Penerapan 'Paperless'
DPR RI
5 jam yang lalu
Inikah New Normal di DPR? Penggunaan Smartcard dan Penerapan Paperless
4
Satgas Covid-19 DPR Tegaskan Pentingnya Satu Panduan Protokol Kesehatan Masuki 'New Normal'
DPR RI
9 jam yang lalu
Satgas Covid-19 DPR Tegaskan Pentingnya Satu Panduan Protokol Kesehatan Masuki New Normal
5
Satgas Covid-19 DPR Terima Paparan Data Pandemi dari Kemenkes
DPR RI
8 jam yang lalu
Satgas Covid-19 DPR Terima Paparan Data Pandemi dari Kemenkes
6
DPR Tak Yakin New Normal Bisa Selamatkan Sektor Ekonomi
Politik
7 jam yang lalu
DPR Tak Yakin New Normal Bisa Selamatkan Sektor Ekonomi

Calon Paskibraka Aurellia Tewas Saat Pelatihan, Korban Pernah Ditampar, Dipaksa Makan Kulit Jeruk dan . . . .

Calon Paskibraka Aurellia Tewas Saat Pelatihan, Korban Pernah Ditampar, Dipaksa Makan Kulit Jeruk dan . . . .
Aurellia Qurratuaini. (baca.co.id)
Rabu, 07 Agustus 2019 19:38 WIB
JAKARTA - Calon anggota pengibar bendera pusaka (Paskibraka) tingkat Kota Tangerang Selatan, Aurellia Qurratuaini (AQA) meninggal dunia pada masa pelatihan, Kamis (1/8/2019) lalu. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendapati fakta, terjadi sejumlah kekerasan terhadap korban.

Dikutip dari merdeka.com, dalam laporan yang diterima KPAI, berbagai bentuk kekerasan diterima gadis berusia 16 tahun itu selama menjalani pelatihan dari tanggal 9 hingga 31 Juli 2019.

''Kekerasan dalam bentuk apapun dan dengan tujuan apapun tidak dibenarkan. Kekerasan tidak diperkenankan juga meski dengan alasan untuk mendidik dan mendisiplinkan,'' tegas Komisioner KPAI Bidang pendidikan, Retno Listyarti.

Menurut Retno, kekerasan fisik juga tidak berhubungan dengan ketahanan fisik. ''Jadi sulit dipahami akal sehat ketika pasukan pengibar bendera dilatih dengan pendekatan kekerasan dan bahkan dilatih ketahanan fisik dengan berlari membawa beban berat di punggungnya, apalagi anggota Paskibra tersebut semuanya masih usia anak,'' ujarnya.

Pada sisi lain, meskipun orangtua AQA tidak melaporkan kasus meninggalnya ananda AQA ke kepolisian, namun polisi sudah berinisiatif mendatangi keluarga AQA.

''Bahkan tidak hanya Polres Kota Tangsel, namun pihak Polda Metro Jaya juga mendatangi pihak keluarga, guna meminta keterangan dan bahkan pada kesempatan tersebut, pihak keluarga juga menyerahkan alat bukti berupa buku diary dan ponsel ananda AQA untuk proses pemeriksaan pihak kepolisian," jelasnya.

Berdasarkan penelusuran KPAI, Retno mengungkap catatan kekerasan yang dialami Aurel selama pelatihan. Berikut daftarnya:

(a) AQA mengaku pernah ditampar seniornya saat menjalani pelatihan paskibra di kota Tangsel.

(b) AQA mengaku pernah diperintahkan makan jeruk dengan kulitnya, saat mengikuti pelatihan paskibra di kota Tangsel, hal ini tentu berpotensi membahayakan kesehatan pencernaan seorang anak.

(c) AQA mengaku pernah diperintahkan melakukan push up dengan mengepal tangan saat dihukum akibat timnya melakukan kesalahan saat pelatihan, sehingga menimbulkan luka pada tangannya.

(d) AQA mengaku diminta mengisi buku diary setiap hari, ditulis tangan, dijadikan PR yang harus dikumpulkan setiap pagi, harus ditulis berlembar-lembar.

(e) AQA mengaku ada 4 temannya yang tidak mengumpulkan buku diary, kemudian berimbas pada perobekan buku diary satu tim AQA, lalu diperintahkan untuk menulis kembali dari awal dengan tulisan tangan, hal ini sempat dikeluhkan AQA karena dia sangat kelelahan menulis kembali diary yang disobek oleh seniornya tersebut.

(f) AQA mengaku diperintah berlari keliling lapangan dengan membawa tas ransel berat yang berisi 3 kg pasir, 3 liter air mineral dan 600 ml teh manis.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:Ragam

wwwwww