Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO 'Boneka' China
Internasional
16 jam yang lalu
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO Boneka China
2
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
Internasional
17 jam yang lalu
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
3
Minta Polri Tidak Terlalu Parno, IPW: Segera Bebaskan Ruslan Buton
Peristiwa
16 jam yang lalu
Minta Polri Tidak Terlalu Parno, IPW: Segera Bebaskan Ruslan Buton
4
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong
Politik
17 jam yang lalu
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong
5
Sekolah Kembali Dibuka, F-PKS: Jangan Terburu-buru
Politik
18 jam yang lalu
Sekolah Kembali Dibuka, F-PKS: Jangan Terburu-buru
6
HNW Desak Polisi Usut Aksi Teror ke Wartawan, Narasumber dan Panitia Diskusi UGM
Politik
17 jam yang lalu
HNW Desak Polisi Usut Aksi Teror ke Wartawan, Narasumber dan Panitia Diskusi UGM

Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar Jadi Tersangka TPPU

Mantan Dirut Garuda Emirsyah Satar Jadi Tersangka TPPU
Wakil Ketua KPK Laode M Syarif (kanan) didampingi juru bicara KPK Febri Diansyah. (poskotanews.com)
Rabu, 07 Agustus 2019 20:05 WIB
JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menetapkan mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Dikutip dari poskotanews.com, selain Emirsyah, KPK juga menetapkan bekas Dirut PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo sebagai tersangka TPPU.

Wakil Ketua KPK, Laode M Syarif mengungkapkan, penetapan tersangka terhadap kedua orang tersebut setelah dilakukan pengembangan dan ditemukannya fakta baru terkait adanya program peremajaan di empat pabrikan pada periode 2008-2013, atau ketika Emirsyah Satar menjabat Dirut.

''Dari hasil penyelidikan, KPK menetapkan ESA (Emirsyah Satar) dan SS (Soetikno Soedarjo) dalam tindak pidana pencucian uang,'' kata Laode saat konferensi pers di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (7/8/2019).

Syarif memaparkan, dari hasil pengembangan penyidikan terhadap Direktur Teknik Pengelolaan Armada PT Garuda Indonesia, Hadinoto Soedigno (HDS) pun terungkap adanya transaksi suap.

''Uang itu diperoleh SS karena berhasil menggolkan kontrak antara empat pabrikan itu dengan PT Garuda Indonesia. SS kemudian membagikan komisi itu ke ESA dan Direktur Teknik Garuda HDS (Hadinoto Soedigdo),'' ucap Laode.

Sebelumnya, KPK menetapkan Emirsyah Satar sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus milik Garuda Indonesia pada periode 2005-2014. Sedangkan, Soetikno ditetapkan sebagai tersangka setelah diduga menjadi perantara suap dari Rolls-Royce kepada Emir.

Diketahui, Soetikno yang juga beneficial owner pada Connaught International Pte Ltd, perusahaan di Singapura, juga memberikan komisi senilai Rp5,9 miliar, 680 ribu dolar AS dan 1,02 juta dolar AS. Suap tersebut, menurut KPK, berwujud uang dan barang yang tersebar di Singapura dan Indonesia.

''Suap tersebut diduga berkaitan dengan pengadaan mesin Rolls-Royce untuk pesawat Airbus yang dipesan sepanjang dirinya (Emirsyah) menjabat sebagai Dirut (Garuda Indonesia). Jadi, ada tambahan pasal TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) bagi ESA dan SS,'' ujar Laode.

Emirsyah Satar dan Soetikno Soedarjo diduga melanggar Pasal 3 atau Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.***

Editor:hasan b
Sumber:poskotanews.com
Kategori:Ragam

wwwwww