Kisah Pilu Para Korban Tsunami di Pandeglang, Dapat Daging Kurban Tapi Tak Punya Beras untuk Dimasak

Kisah Pilu Para Korban Tsunami di Pandeglang, Dapat Daging Kurban Tapi Tak Punya Beras untuk Dimasak
Ratusan pengungsi korban tsunami Selat Sunda menggelar zikir dan berdoa bersama di Masjid As-Salafiyah Caringin, Labuan, Pandeglang, Rabu (9/1/2019). (republika.co.id)
Senin, 12 Agustus 2019 15:05 WIB
PANDEGLANG - Para korban tsunami di Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten, merayakan Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah, Ahad (11/8), dalam keadaan memilukan. Mereka serba kekurangan, bahkan ada yang tidak memiliki beras untuk dimasak.

Dikutip dari republika.co.id, seperti warga lainnya, Ahad kemarin, mereka juga mendapatkan daging kurban, namun itu membuat mereka makin sedih dan bingung.

''Malam kemarin banyak warga yang laporan ke saya kalau mereka punya daging tapi tidak punya beras untuk dimakan. Jadi kami sebenarnya butuh bantuan dalam bentuk apapun. Mau makanan, uang, sampai banyak juga anak-anak yang mengeluh nggak punya baju Pramuka,'' terang panitia penerima bantuan hewan kurban bagi warga terdampak bencana tsunami di Desa Citanggok, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Liliswati, Senin (12/8).

Menurutnya, saat ini ada 248 Keluarga yang tercatat telah menempati hunian sementara (huntara) korban tsunami di Kecamatan Labuan. Namun, kondisi perekonomian warga di sana belum kunjung membaik pascabencana tsunami yang melanda daerahnya.

Bahkan, gempa bermagnitudo 6,9 di Banten baru-baru ini semakin membuat kondisi warga sulit. Warga Labuan yang menurutnya sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan laut karena banyak yang berprofesi sebagai nelayan, merasa takut untuk pergi melaut lagi.

''Banyak warga yang takut melaut lagi. Padahal cuma sedikit nelayan di sana yang masih jadi nelayan karena mayoritas kapal di sana rusak karena tsunami. Kondisi sekarang lebih banyak mengandalkan bantuan. Ada yang sekarang jadi mengemis, ada juga yang usaha cilok atau ngojek,'' terang Liliswati.

Cerita warga Labuan yang tidak memiliki beras untuk makan saat Idul Adha menurut Lilis banyak terjadi di daerahnya. Penyaluran hewan kurban berupa tiga ekor sapi yang dijadikan 600 besek daging untuk dibagikan dari Dharma Wanita Unit Disdikbud menurutnya cukup membantu. Namun, masyarakat di sana memerlukan bantuan di banyak aspek.

Lilis yang berprofesi sebagai guru ini juga menyebut banyak siswa di sana yang masih kekurangan seragam sekolah. Bantuan dari pemerintah kabupaten maupun kecamatan saat ini menurutnya sudah berhenti. Padahal kebanyakan warga bergantung dari bantuan.

''Ketika ada gempa Palu itu bantuan sudah mulai berkurang. Sebelumnya itu makan saja dikasih tiga kali sehari, bantuan dari mana-mana cukup bahkan lebih. Setelah warga pindah ke huntara, sudah stop bantuan buat makan,'' terangnya.

Sektor pariwisata di Labuan juga menurutnya seakan telah mati, dampak bencana tsunami masih terasa dalam mengurangi minat wisatawan datang ke daerahnya. Terlebih gempa yang terjadi dua pekan lalu menambah keterpurukan itu.

Kepala Seksi (Kasi) Damkar, Kedaruratan, dan Logistik BPBD Pandeglang Endan Permana membenarkan bahwa bantuan kepada korban tsunami saat ini sudah berhenti. Menurutnya, usai masa tanggap darurat dan pembangunan hunian untuk para korban saat ini sudah tidak ada lagi bantuan yang bisa disalurkan.

''Kalau sekarang memang sudah tidak ada lagi bantuan, kan sudah selesai masa tanggap daruratnya. Di BPBD juga sudah tidak ada lagi yang bisa disalurkan,'' jelas Kasi Damkar, Kedaruratan, dan Logistik BPBD Pandeglang, Endan Permana.

Dirinya juga sempat mendapat laporan dari warga Labuan yang meminta bantuan beras saat hari pertama Idul Adha kemarin. Namun, karena tidak adanya pasokan sembako yang bisa disalurkan BPBD, pihaknya tidak bisa memberikan bantuan tersebut.

''Kemarin ada warga Labuan yang minta bantuan beras sama air selesai memotong hewan kurban. Tapi kita memang tidak punya barangnya. Kalau air masih ada, jadi air bisa kita kirim ke mereka,'' terang Endan. ***

Editor:hsan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:SerbaSerbi

GoNews Sri Mulyani Sebut Anggaran untuk Pendidikan Rp 505,8 Triliun Naik dari 2014 yang Hanya Rp 250 Triliun
GoNews Ikan Lele Diejek-ejek oleh Buzzer-buzzer Nakal, Menteri Susi: Padahal Hasilnya Luar Biasa
GoNews Ternyata Perdana Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew Belajar GBHN dari Pak Harto
GoNews Mitsubishi Fokus Kembangkan Model SUV dengan Teknologi Listrik
GoNews Kemenperin Bangun Ekosistem Industri Otomotif Dalam Rangka Produksi Mobil Listrik
GoNews KM Mina Sejati Dibajak 3 ABK-nya, 2 Penumpang Tewas karena Mencebur ke Laut, 18 Belum Diketahui Nasibnya
GoNews Bom Meledak di Pesta Pernikahan, 63 Orang Tewas, Sebagian Korban Wanita dan Anak-anak
GoNews Kakinya Tertusuk Paku Berkarat, Gadis Paskibraka Pembawa Baki Ini Tetap Jalankan Tugasnya Sambil Meringis
GoNews Pejabat Badan Kesbangpol Ini Keterlaluan, Mahasiswa Urus Izin Penelitian Pun Dipungli, Begini Akibatnya
GoNews Ustaz Abdul Somad Dilaporkan Brigade Meo, Begini Kata Kabid Humas Polda NTT
GoNews Batal Jadi Paskibraka karena Digantikan Anak Bupati, Koko Bisa Hadir di Istana dan Bersalaman dengan Jokowi
GoNews Digagalkan Jadi Paskibraka Labuhanbatu, Koko Malah Jadi Petugas Upacara HUT RI di Jakarta dan Hadir di Istana
GoNews Setelah Gas Air Mata Ditembakkan ke Asrama, 43 Mahasiswa Papua Menyerah dan Diangkut ke Mapolrestabes Surabaya
GoNews Kapal Bermuatan 80 Penumpang Terbakar di Perairan Tapulaga, 7 Orang Tewas dan Puluhan Hilang
GoNews Veteran Duduk Paling Belakang Saat Upacara HUT RI di Istana Negara, Cucu Jenderal Sudirman Mengaku Sedih
GoNews 12 Prajurit TNI Dihadang Kelompok Bersenjata di Trans Wamena-Habema, 2 Tertembak
GoNews Diledek Gemuk Ketika Ingin Makan Es Krim, Gadis 14 Tahun Tusuk Pacarnya Hingga Tewas
GoNews Upacara HUT ke-74 RI di Pulau Reklamasi, Anies Baswedan: Ini Tanah Air Kita
wwwwww