Kesaksian Bocah Asal Sumbar Tentang Rusuh di Wamena, Perusuh Merangsek Masuk Kelas Saat Siswa Belajar

Kesaksian Bocah Asal Sumbar Tentang Rusuh di Wamena, Perusuh Merangsek Masuk Kelas Saat Siswa Belajar
Rumah-rumah warga dibakar massa saat kerusuhan di Wamena pada 23 September lalu. (dok)
Jum'at, 04 Oktober 2019 14:32 WIB
PADANG - Salah satu SMP di Wamena, Jayawijaya, Papua, turut menjadi sasaran massa perusuh saat pecahnya kerusuhan di Wamena pada 23 September 2019 lalu.

Salah seorang siswa menceritakan, perusuh mencoba merangsek masuk ke dalam kelas, saat para siswa sedang belajar. ''Saat itu, hari Senin sekitar pukul 08.00 WIT, setelah upacara saya mau ujian Agama, tiba-tiba kerusuhan itu terjadi,'' kata bocah asal Sumbar Barat (Sumbar) itu, di Padang, seperti dikutip dari merdeka.com yang melansir dari antara.

Bocah yang duduk di kelas II SMP itu bercerita, perusuh yang masuk ke halaman sekolah melempari kaca-kaca ruang kelas. Para perusuh bahkan berusaha merangsek masuk ke kelas, padahal saat itu kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

''Untuk mengamankan diri, saya bersama teman-teman lain bertahan dalam kelas, kemudian menyusun meja serta bangku-bangku untuk menghalang pintu,'' katanya menambahkan.

Dia bersama dengan 40 teman sekelasnya berusaha menahan pintu supaya perusuh tidak masuk ke ruang kelas. Untungnya, perusuh kemudian meninggalkan sekolah.

''Kami bertahan di dalam kelas sekitar setengah jam, hingga kemudian ada kerabat yang datang menjemput,'' katanya.

Jafri (60), orang tua anak laki-laki itu, mengaku panik saat kerusuhan meletus karena anaknya masih berada di sekolah dan saat menelepon ke sekolah tidak ada yang menjawab.

''Ibunya sudah menangis, hingga salah satu kerabat menelepon dan mengatakan anaknya sudah dijemput dari sekolah, dan sudah aman bersamanya,'' kata Jafri.

Anak laki-laki itu bertemu kembali dengan orangtuanya di tempat pengungsian di Markas Kodim 1702 Jayawijaya di Wamena. Pada Kamis (3/10), keluarga itu tiba di Ranah Minang.

Keluarga Jafri merupakan perantau asal Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan. Mereka merantau ke Wamena sejak tahun 2000.

Anak lelaki Jafri mengatakan bahwa dia terakhir pulang ke kampung orangtuanya saat kelas dua Sekolah Dasar. Kerusuhan di Wamena membuat dia memilih melanjutkan sekolah di kampung halaman.

''Karena kejadian ini, saya lebih memilih sekolah di kampung saja,'' katanya.

Kerusuhan di Wamena pada 23 September lalu menyebabkan lebih dari 30 orang meninggal dunia.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww