Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Remaja 13 Tahun Ini Lulus dengan Empat Gelar Sarjana Hanya Dalam Waktu Dua Tahun
Internasional
14 jam yang lalu
Remaja 13 Tahun Ini Lulus dengan Empat Gelar Sarjana Hanya Dalam Waktu Dua Tahun
2
Syarief Hasan: Tap MPRS RI XXV/1966 harus Masuk di RUU HIP
Politik
11 jam yang lalu
Syarief Hasan: Tap MPRS RI XXV/1966 harus Masuk di RUU HIP
3
RSO Ikut Kecam Soal Logo Olimpiade Digabungkan Gambar Covid 19
Olahraga
24 jam yang lalu
RSO Ikut Kecam Soal Logo Olimpiade Digabungkan Gambar Covid 19
4
Demokrat Tugaskan Denny Indrayana Tetapkan Pasangan di Pilgub Kalsel
Politik
23 jam yang lalu
Demokrat Tugaskan Denny Indrayana Tetapkan Pasangan di Pilgub Kalsel
5
Aplikasi Android Edit Video yang Populer Ini Ternyata Sangat Berbahaya, Ayo Hapus Segera
Umum
8 jam yang lalu
Aplikasi Android Edit Video yang Populer Ini Ternyata Sangat Berbahaya, Ayo Hapus Segera
6
76,7 Persen Pasien Covid-19 di Indonesia Alami Gejala Ini
Kesehatan
13 jam yang lalu
76,7 Persen Pasien Covid-19 di Indonesia Alami Gejala Ini

Muhammadiyah Ingatkan Menteri Agama, Jangan Sembarangan Tuduh Seseorang Radikal

Muhammadiyah Ingatkan Menteri Agama, Jangan Sembarangan Tuduh Seseorang Radikal
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (sinarharapan.co))
Jum'at, 25 Oktober 2019 07:12 WIB
YOGYAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk mantan jenderal Fachrul Razi sebagai Menteri Agama dalam Kabinet Indonesia Maju. Jokowi memberikan tugas utama kepada Fachrul Razi mengatasi radikalisme.

Dikutip dari republika.co.id, Muhammadiyah mengingatkan Menag Fachrul Razi bisa melakukan tindakan terukur dalam menangani isu radikalisme, sehingga tidak sembarangan menuduh seseorang radikal.

''Harus tetap terukur jangan 'gebyah uyah' (menyamaratakan). Artinya jangan sembarangan untuk menyimpulkan ini radikal, ini bukan radikal,'' kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, di kediamannya di Kasihan, Bantul, Yogyakarta, Rabu (23/10).

Menurut Haedar, dalam konteks apa pun, baik agama maupun dalam konteks umum, perlu ada pemahaman yang komprehensif, agar tidak gebyah uyah dalam melakukan penanganan. Sebab, bukan hanya agama, perilaku berbangsa dan sosial juga memiliki bagian-bagian yang berpotensi ekstrem dan radikal.

Karena itu, ia berharap radikalisme tidak dilekatkan pada agama, apalagi tertuju pada agama tertentu. ''Beragama, bernegara, beridiologi, bersosial itu juga ada kecenderungan ekstrem dan radikal yang mengarah pada kekerasan. Kita banyak contoh kejadian-kejadian di tanah air kita ini bahwa korban dari tindakan-tindakan yang ekstrem bukan hanya karena agama. Oleh karena itu harus terukur,'' kata dia.

Agama dan institusi keagamaan, kata Haedar, harus menjadi kekuatan yang mencerdaskan, mendamaikan, memajukan, serta menyatukan. Bahkan berperan membela nilai-nilai rohani dan keadaban yang baik.

''Saya pikir semua agama kan begitu komitmennya,'' kata dia.

Selain itu, ia juga menitipkan pesan agar Menag dapat memosisikan diri sebagai menteri untuk semua golongan. Meski memiliki latar belakang militer, Menag harus berdiri untuk semua rakyat Indonesia, bukan hanya untuk golongan militer.

''Nanti kalau hanya mengurus golongannya, mengurus kepentingannya nanti malah timbul ketidakadilan,'' kata dia.***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Ragam

wwwwww