Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO 'Boneka' China
Internasional
15 jam yang lalu
Umumkan Amerika Keluar dari Keanggotaan, Donald Trump Sebut WHO Boneka China
2
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
Internasional
15 jam yang lalu
Aksi Ricuh Demonstrasi Merebak di 30 Kota di Amerika
3
Minta Polri Tidak Terlalu Parno, IPW: Segera Bebaskan Ruslan Buton
Peristiwa
14 jam yang lalu
Minta Polri Tidak Terlalu Parno, IPW: Segera Bebaskan Ruslan Buton
4
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong
Politik
16 jam yang lalu
Lawan Covid -19, Aziz Syamsudin Ajak Warga Budayakan Gotong Royong
5
Sekolah Kembali Dibuka, F-PKS: Jangan Terburu-buru
Politik
16 jam yang lalu
Sekolah Kembali Dibuka, F-PKS: Jangan Terburu-buru
6
HNW Desak Polisi Usut Aksi Teror ke Wartawan, Narasumber dan Panitia Diskusi UGM
Politik
15 jam yang lalu
HNW Desak Polisi Usut Aksi Teror ke Wartawan, Narasumber dan Panitia Diskusi UGM

Berlindung dalam Masjid, Ratusan Warga 2 Kampung di Lebak Selamat dari Terjangan Banjir Bandang

Berlindung dalam Masjid, Ratusan Warga 2 Kampung di Lebak Selamat dari Terjangan Banjir Bandang
Kerusakan akibat banjir bandang di Lebak. (kompas.com)
Minggu, 05 Januari 2020 10:05 WIB
LEBAK - Ratusan warga Kampung Cinyiru dan Jaha, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebak Gedong, Kabupaten Lebak, Banten, berlindung ke dalam masjid saat banjir bandang melanda kampung mereka, Rabu (1/1/2020) pagi.

Beruntung, semua yang berlindung di masjid tersebut selamat, termasuk Enah dan keluarganya.

''Kita bersama ratusan warga lainnya berlindung di masjid,'' kata Enah di Posko Pengungsian Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Lebak Gedong, Sabtu (4/1), seperti dikutip dari merdeka.com.

Erna menceritakan, bencana alam itu terjadi Rabu pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, setelah hujan lebat turun sepanjang Selasa (31/12) sore hingga Rabu (1/1) pagi.

Saat itu, Erna bersama keluarga tengah berada di rumah hendak bersiap pergi ke sawah. Namun tiba-tiba dari atas perbukitan kaki Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) terdengar suara keras bagaikan bom meledak dan bergemuruh ke perkampungan.

Mendengar suara ledakan keras dan bergemuruh itu, warga Kampung Jaha yang terdapat sekitar 50 rumah berlarian dan berlindung di masjid setempat.

Dia melihat material bebatuan dan lumpur serta air keluar dari tanah menerjang permukiman dan aliran Sungai Ciberang. Bahkan, puluhan rumah di wilayahnya rusak berat hingga rata dengan tanah.

''Kami beruntung berlindung di masjid dan selamat hingga dievakuasi ke pengungsian di sini,'' kata Enah.

Munasih, warga Kampung Cinyiru, Desa Banjarsari, Kecamatan Lebak Gedong, mengaku bencana alam itu menimbulkan ketakutan, karena air dan material bebatuan serta lumpur dalam tanah menyapu pemukiman warga.

Sebagian besar rumah warga mengalami rusak berat dan rusak sedang serta ringan.

Banjir bandang dan longsor, kata dia, datang dengan suara gemuruh sehingga warga berlarian untuk mencari tempat perlindungan.

Warga kebanyakan berlindung di masjid setempat dan selamat dari terjangan banjir dan tanah longsor.

Ia menyatakan beruntung karena di kampungnya itu tidak ada korban jiwa, karena berlindung di masjid tersebut.

''Kami saat mendengar orang-orang teriak secara langsung berlari ke masjid bersama anggota keluarga,'' katanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi mengatakan, berdasarkan data sementara korban bencana banjir dan longsor ditampung di pengungsian ada 677 kepala keluarga atau 2.000 jiwa, sedangkan korban jiwa delapan orang, enam tertimbun dan satu hanyut.

Saat ini, warga yang terdampak bencana alam tersebar di tujuh posko pengungsian, antara lain Posko Pengungsian Gedung PGRI Kecamatan Sajira 50 KK, Posko Pengungsian Nangela, Desa Calungbungur Kecamatan Sajira, dan Posko Pengungsian Desa Tambak Kecamatan Cimarga 31 KK.

Posko Pengungsian Kantor Kecamatan Cipanas 100 KK, Posko Pengungsian Kecamatan Curugbitung 150 KK, dan Posko Pengungsian Gedung Serba Guna Kecamatan Lebak Gedong 100 KK.

Mereka tinggal di posko pengungsian karena sebagian besar kondisi rumah rusak berat hingga rata dengan tanah setelah diterjang banjir bandang.

Kebanyakan para korban banjir bandang karena lokasi perkampungan warga berada di tepi bantaran aliran Sungai Ciberang.

''Kami memfokuskan penangan bencana banjir itu pelayanan dasar, seperti kesehatan, bantuan makanan sehari-hari dan tinggal di tempat yang layak,'' katanya.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:Ragam

wwwwww