Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Klaster Baru Covid-19 di Gontor 2, Gus Jazil: Harusnya Rapid Test Santri Digaritaskan
MPR RI
24 jam yang lalu
Klaster Baru Covid-19 di Gontor 2, Gus Jazil: Harusnya Rapid Test Santri Digaritaskan
2
Kuasa Hukum Wahyu Setiawan Desak KPK Hadirkan Gubernur Papua Barat ke Persidangan
Hukum
24 jam yang lalu
Kuasa Hukum Wahyu Setiawan Desak KPK Hadirkan Gubernur Papua Barat ke Persidangan
3
Jadi Ambasador University Leipzig, Nurul Sa'adah: Ayo Dapatkan Beasiswa di Luar Negeri
Olahraga
22 jam yang lalu
Jadi Ambasador University Leipzig, Nurul Saadah: Ayo Dapatkan Beasiswa di Luar Negeri
4
Jangan Kalah oleh Pandemi, Pemerintah Dorong Koperasi 'Go Digital'
Pemerintahan
7 jam yang lalu
Jangan Kalah oleh Pandemi, Pemerintah Dorong Koperasi Go Digital
5
Pembukaan Kembali Sekolah, Orang Tua Bisa Pilih Anak Belajar di Rumah
Pemerintahan
7 jam yang lalu
Pembukaan Kembali Sekolah, Orang Tua Bisa Pilih Anak Belajar di Rumah
6
Jokowi Bersikukuh Lanjutkan Kartu Prakerja Lewat Perpres, Sukamta: Harusnya Dihentikan
Peristiwa
17 jam yang lalu
Jokowi Bersikukuh Lanjutkan Kartu Prakerja Lewat Perpres, Sukamta: Harusnya Dihentikan

Ikut Terinfeksi, Dokter Pertama yang Ingatkan Akan Muncul Wabah Virus Corona Meninggal Dunia

Ikut Terinfeksi, Dokter Pertama yang Ingatkan Akan Muncul Wabah Virus Corona Meninggal Dunia
Dokter Li Wenliang saat dirawat di rumah sakit di Wuhan. (sindonews.com)
Jum'at, 07 Februari 2020 09:50 WIB
BEIJING - Li Wenliang, dokter pertama yang mengingatkan akan munculnya wabah virus corona, meninggal dunia pada Kamis (6/2/2020).

Dikutip dari sindonews, Li Wenliang sempat ditegur polisi setelah memperingatkan rekan-rekannya tentang penyakit pernapasan misterius yang muncul di Wuhan.

Ia telah dirawat di rumah sakit pada awal Januari dan kemudian dikonfirmasi terinfeksi virus corona, menurut sebuah postingan di akun media sosialnya. Meski begitu penyebab pasti kematiannya belum diketahui seperti dikutip dari Strait Times, Kamis (6/2/2020).

Li pada 30 Desember lalu memosting di sebuah grup media sosial tentang penyakit mirip SARS yang dalam beberapa minggu akan meledak menjadi epidemi virus corona.

Beberapa hari setelah peringatannya, ia ditegur oleh polisi karena dituduh menyebarkan desas-desus secara online, dan kemudian diberi pengampunan, menurut akun media sosialnya.

Kabar meninggalnya Li Wenliang dilaporkan oleh Global Times, media yang dikelola pemerintah China, dan sejumlah media lain di negara itu. Seseorang yang akrab dengannya kemudian mengkonfirmasi hal itu kepada Bloomberg.

Penanganan awal pemerintah China terhadap epidemi ini memungkinkan virus untuk memperoleh daya tahan yang kuat.

Pada saat-saat kritis, para pejabat memilih untuk mengedepankan kerahasiaan dan ketertiban daripada secara terbuka menghadapi krisis yang sedang tumbuh untuk menghindari kekhawatiran publik dan rasa malu politik.

Dr Li Wenliang yang berusia 34 tahun meninggalkan seorang anak dan isteri yang sedang mengandung anak kedua.

''Kami sangat menyesal mendengar kehilangan siapa pun di garis depan,'' kata Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia, pada konferensi pers di Jenewa.

''Kami akan meratapi kematiannya dengan rekan-rekan kami,'' tukasnya.

Sudah Tewaskan 638 Orang

Jumlah korban tewas akibat virus corona hingga Jumat (7/2/2020) mencapai 638 orang. Korban terbanyak di Provinsi Hubei, China, yakni 636 orang.

Dikutip dari Republika.co.id yang melansir laman Channel News Asia, dalam laporan hariannya, Komisi Kesehatan Hubei telah mengonfirmasikan 2.447 kasus baru di provinsi tempat wabah itu bermula. South China Morning Post melaporkan, hingga kini ada 28.985 orang yang terpapar virus corona tipe baru. Sementara itu, dua kematian dilaporkan sudah terjadi di luar China.

Mayoritas korban meninggal berasal dari Hubei dengan 69 kematian baru dari epidemi dilaporkan pada Kamis. Angka kematian ini terpaut satu kasus lebih sedikit dibandingkan dengan hari sebelumnya.

''Total korban tewas di Hubei naik menjadi 618 jiwa,'' kata komisi kesehatan provinsi itu.

Di Provinsi Hubei, jumlah kasus menjadi 22.112. Jumlah kasus baru yang dikonfirmasi di provinsi ini turun dari sehari sebelumnya, ketika 2.987 dilaporkan.

Sebelumnya, pada Kamis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan agar tidak terlalu banyak membaca data yang menunjukkan penurunan infeksi 2019-novel coronavirus (2019-nCov) baru setiap hari di China setelah angka itu telah meningkat selama berminggu-minggu.

Michael Ryan, Kepala Program Kedaruratan Kesehatan WHO, mengatakan masih terlalu dini untuk membuat prediksi apakah wabah telah memuncak atau belum. Pada Rabu lalu, Komisi Kesehatan Nasional di Beijing melaporkan sedikit penurunan dalam kasus yang baru dikonfirmasi sebanyak 3.694 di seluruh negeri, dari 3.887 yang dilaporkan pada Selasa.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:Ragam

wwwwww