Tentara Thailand Bantai 30 Orang karena Dendam Setelah Ditipu

Tentara Thailand Bantai 30 Orang karena Dendam Setelah Ditipu
Suasana kepanikan usai penembakan brutal yang dilakukan Sersan Jakraphanth Thomma di pusat perbelanjaan Terminal 21, Korat, Thailand, Ahad (9/2). (sindonews.com)
Senin, 10 Februari 2020 10:21 WIB
KORAT - Seorang tentara Thailand melakukan penembakan secara brutal di beberbagai tempat di Korat, sejak Sabtu (8/2/2020) hingga Ahad pagi. Sebanyak 30 orang dilaporkan tewas akibat penembakan tersebut.

Dikutip dari sindonews.com, Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha mengatakan, pelaku melakukan tindakan brutal itu karena dendam setelah ditipu dalam penjualan tanah.

Tentara bernama Sersan Jakraphanth Thomma itu telah ditembak mati oleh pasukan khusus dari detasemen khusus anti-teror Thailand setelah dikepung di mal di Korat, Provinsi Nakhon Ratchasima.

''Tersangka dimotivasi oleh perasaan dendam atas kesepakatan penjualan tanah,'' kata PM Prayuth Chan-ocha pada hari Ahad, seperti dilansir Russia Today, Senin (10/2/2020).

Thomma awalnya membunuh komandannya dan dua rekannya sesama tentara, sebelum mencuri senjata, amunisi dan Humvee dari pangkalan militernya.

Dia kemudian pergi ke sebuah kuil Buddha dan selanjutnya beraksi di pusat perbelanjaan yang sibuk, Terminal 21, di Korat, timur laut Thailand.

Di mal itulah, dia menembaki pembeli dan pejalan kaki sebelum menyandera banyak orang. Aksinya memicu ketegangan 17 jam dengan pasukan keamanan sebelum ditembak mati pasukan khusus.

Selama mengamuk, tersangka mem-posting berbagai tulisan di halaman Facebook-nya, seperti: ''Tidak ada yang bisa lolos dari kematian,'' dan ''Haruskah saya menyerah?''. Namun, beberapa posting itu kemudian dihapus.

Sersan Jakkrapanth Thomma mencuri senjata kelas militer dari markasnya di Nakhon Ratchasima pada hari Sabtu sebelum mengamuk di pusat perbelanjaan Terminal 21 dan menghabiskan berjam-jam bersembunyi di dalamnya.

Wakil PM Anutin Charnvirakul juga mengonfirmasi bahwa tentara nakal itu telah tewas dibunuh pasukan khusus. Aksinya tercatat sebagai penembakan massal terburuk dalam sejarah Thailand modern.

Gubernur Nakhon Ratchasima menyatakan 42 orang lainnya terluka dalam penembakan massal. Pembantaian itu terjadi pada akhir pekan yang menandai liburan Buddha, Makha Bucha.

Dalam konferensi pers, PM Prayut Chan-o-cha mengatakan dia telah memerintahkan semua lembaga terkait untuk membantu para korban dan keluarga mereka yang menderita dari apa yang disebutnya ''ledakan kekerasan'' yang belum pernah terjadi sebelumnya.

''Saya harus mengakui bahwa situasi seperti ini tidak pernah terjadi di Thailand sebelumnya,'' kata Prayut di Korat. ''Dan itu tidak boleh terjadi lagi,'' katanya lagi.

Dia mengatakan, penyelidikan atas insiden itu sedang berlangsung. Pemimpin Thailand ini berterima kasih kepada anggota masyarakat karena telah menyumbangkan darah sebagai respons atas pembantaian itu.

Kematian terakhir adalah seorang anggota tim komando polisi yang ditembak mati ketika terlibat baku tembak dengan pelaku di dalam pusat perbelanjaan Terminal 21 sekitar pukul 04.00 pagi kemarin.

Sumber-sumber kepolisian mengatakan pelaku terbunuh sekitar pukul 09.00 pagi di area ''Foodland'' di lantai dasar pusat perbelanjaan.

Menurut petugas, pelaku penembakan massal ditemukan bersembunyi di dalam supermarket dan menembaki polisi, yang memaksa para petugas membalas tembakan.***

Editor:hasan b
Sumber:sindonews.com
Kategori:SerbaSerbi

wwwwww