Home > Berita > Umum

Restorasi Gambut Makin Elitis dan Tak Sentuh Inti Permasalahan, Elviriadi: BRG Harus Perkuat Koordinasi

Restorasi Gambut Makin Elitis dan Tak Sentuh Inti Permasalahan, Elviriadi: BRG Harus Perkuat Koordinasi
Pakar Lingkungan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Pekanbaru, DR Elviriadi MSi
Sabtu, 11 Agustus 2018 14:06 WIB
Penulis: Safrizal
PEKANBARU - Kehadiran Badan Restorasi Gambut (BRG) belum menyentuh inti permasalahan. Hal itu terbukti dengan tak kunjung padamnya api di sepanjang tahun.

Pakar Lingkungan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Pekanbaru, DR Elviriadi MSi mengatakan, upaya restorasi gambut sekarang ini makin elitis dan teralienasi (terasingkan) dari pelibatan kelompok masyarakat yg mengerti soal kerusakan gambut.

Kelompok masyarakat yang dimaksud Elviriadi itu antara lain LSM lingkungan seperti Yayasan Mitra Insani, Kaliptra, Jikalahari, dan, terutama masyarakat adat yg sudah establish (berpengalaman) di lahan gambut.

"Seharusnya yang dilakukan (BRG-red) itu menginventarisir dan memastikan desa-desa rawan bencana berlahan gambut. Dari situ baru bisa dibuat apa tindakan yang cocok," kata Ketua Departemen Perubahan Iklim Majelis Nasional KAHMI itu kepada GoRiau, Sabtu (11/8/2018).

Dikatakan Elv lagi, setidaknya ada 4 langkah yang perlu dilakukan untuk mengoptimalkan perbaikan lahan gambut.

Pertama, BRG hendaknya memperkuat koordinasi dengan LSM, masyarakat adat yang mengetahui persis keadaan gambut. Komunikasi itu usahakan secair mungkin, gali sejarah kawasan, kenapa rusak ekosistem gambut, sejak kapan,  kedalaman dan luas hamparan gambut, dan pandangan orang kampung.

Kedua, di pemerintah Provinsi Riau ini ada Tim Restorasi Gambut Daerah (TRGD) tetapi belum jelas kegiatannya. Hal ini karena pejabat yang ditunjuk adalah Sekda, asisten, dan orang-orang yang sudah padat dan super sibuk di birokrasi.

"Kasihlah pada orang yang bisa fokus, ngerti persoalan, dan bisa menggerakkan potensi. Duit dah dianggarkan puluhan miliar tapi tak efektif, kan sayang," kata mantan aktivis mahasiswa itu lagi.

Ketiga, restorasi itu artinya perubahan mendasar, radikal dan besar-besaran. Karena lingkungan hidup sangat krisis dan di ambang kehancuran. Jadi restorasi ini harusnya gegap gempita, dibawa dengan spirit kaum pergerakan dan perlawanan massif.

"Kok makin hari makin sayup, nyaris tak terdengar. Ada apa? pihak BRG kan dah buat personalia yang komplit sampai ada dinamisator dan merekrut aktivis LSM, tapi nyatanya koordinasi macet," kritik anak watan Kepulauan Meranti itu lagi.

Sedangkan yang keempat adalah idealisme yang terpatri, itu sangat penting. Kata Elv, orang yang bertugas menjaga hutan, kalau tak idealis, lama kelamaan dia jadi orang utan. Disuruh restorasi, sibuk ngeles sampai isu gambut jadi basi. Apabila ada program dari KLHK, World Bank, Unesco, forest for people, UNDP,  maka ini dianggap rejeki datang.

"Hatinya tak lagi peka terhadap penderitaan masyarakat dan punahnya cadangan generasi anak cucu," ungkap Kepala Laboratorium Sosial Ekonomi Fapertapet UIN Suska itu di akhir bincang-bincang. ***

Kategori:Umum, Riau
wwwwww