Sulap Arsik Ikan Mas Menjadi Oleh-Oleh Khas Medan

Sulap Arsik Ikan Mas Menjadi Oleh-Oleh Khas Medan
Hidir Dongoran dan isterinya Deliyana Siagian, pemilik Defrood
Sabtu, 15 September 2018 09:42 WIB
MEDAN- Di Medan arsik ikan mas memang gampang diperoleh. Selain di rumah tangga, rumah makan yang menyediakan arsik ikan mas juga tidak seperti mencari jejak jarum dalam jerami. Tapi ikan mas arsik yang cocok dijadikan oleh-oleh boleh dibilang masih langka.


Pertama sekali alasannya adalah, ikan mas arsik itu adalah lauk dan yang tak kalah bikin berat beban di kepala adalah berduri. “Duri ikan mas bisa menjadi ranjau bagi orang yang belum terbiasa makan ikan mas. Sudah durinya banyak, halus lagi,”imbuh Hidir Dongoran yang  ditemani isterinya Deliyana Siagian, penggagas oleh-oleh arsik ikan mas saat berkunjung ke tempat usahanya Jalan  Bersama Gang Perintis Sabtu (15/9/2018)

Tapi pasangan ini tidak kehilangan akal. Dan menjadi gampang karena sebelumnya ia sudah menjalankan usaha sejenis, yaitu bandeng presto khas Medan. Bandeng juga jenis ikan yang menyimpan duri banyak dalam tubuhnya.

Soal presto mempresto memang sudah menjadi keseharian pasangan ini sejak tahun 2016 yang melabeli nama usahanya dengan nama Defrood. “Kala itu kami juga sudah menjalankan usaha ikan bandeng presto. Tapi seorang teman menyarankan saya untuk menambah varian ikan mas arsik. Karena hal itu salah satu masakan khas Sumatera Utara,”imbuhnya. Si teman berkilah, Bandeng Presto terkenal sebagai oleh-oleh di Jawa, nah, coba olah arsik, pasti unik dan pasarnya lebih terarah. Pesan si teman di jalankannya. Dan sebelum pindah, rekannya itu sering memesan ikan mas arsik buatannya.

Dalam menjalankan usaha arsik ikan mas, Hidir mengungkapkan modal utama yang harus dimilikinya adalah   tempat masak presto. Selanjutnya ikan mas dan bumbu. “Bumbu saya olah sendiri. Urusan masak isteri saya yang menyiapkan. Saya lebih bergerak ke pemasaran,”jelasnya.

Dalam sekali produksi ia memakai 20 kilo ikan mas dan biasanya akan habis dalam satu minggu. Meski banyak jenis ikan mas di pasaran, ia tidak sembarang beli. “Saya harus pastikan ikan mas nya tidak bau lumpur. Jadi saya menjalan hubungan dengan pedagang ikan mas yang sudah bisa menjaga mutunya,”imbuhnya. Menurut pedagang, ikan mas yang digunakannya adalah asal Haranggaol Kabupaten Simalungun.

Tidak menggunakan bahan pengawet

Hidir mengakui tidak gampang menjalankan bisnis ikan mas arsik, karena memiliki dilema pada daya tahan. “Dalam suhu  biasa, biasanya tahan dua hari. Makanya ikan mas arsik ini difrozenkan. Jadi tahan lama. Ia disimpan dalam kulkas, tinggal dipanaskan saat akan digunakan.

Meskipun beresiko besar dalam daya tahan, Hidir tidak terniat sedikitpun untuk memberi bahan pengawet. “Karena kita ingin masyarakat sehat menyantapnya,”imbuhnya.

Dalam mendongkrak penjualan, Hidir mengakui harus rajin promosi. “Kadang saya ikut seminar. Ya aktif promo di medsos seperti facebook dan instagram,”tuturnya.

Pasangan ini mengakui optimis usahanya akan berprosepek ke depan. “Untuk masyarakat  lokal saja seperti ibu rumah tangga yang memiliki kesibukan yang padat di luar, bisa beralih ke makanan kami.  Tetap sehat dan tidak terancam oleh duri ikan,”ucapnya mengakhiri perbincangan. 

Editor:Sisie
Kategori:GoNews Group, Umum, Ekonomi, Sumatera Utara
wwwwww