Gunung Anak Krakatau Retak, BMKG: Kami Minta Warga Waspada Tsunami

Gunung Anak Krakatau Retak, BMKG: Kami Minta Warga Waspada Tsunami
Ilustrasi.
Rabu, 02 Januari 2019 23:04 WIB
JAKARTA - Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami dua keretakan baru dengan pola satu garis luru di salah satu sisi badan gunung.

Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG ), retakan itu diduga akibat adanya getaran tinggi saat GAK mengalami erupsi.

Kepala BMKG Prof Dwikorita Karnawati menyampaikan ada celah dari retakannya gunung yang terus mengeluarkan asap tebal.

"Pantauan terbaru kami lewat udara, gunung sudah landai, asap mengepul dari bawah air laut. Tapi di badan gunung yang tersisa di permukaan, ada celah yang mengepul terus mengeluarkan asap, celah itu pastinya dalam, bukan celah biasa," kata Dwikorita.

Menurutnya, retakan itu muncul setelah gunung mengalami penyusutan dari sebelumnya yang 338 meter di atas permukaan laut (mdpl) menjadi hanya 110 mdpl.

Dia juga menkhawatirkan kalau di bawah dinding yang curam itu berupa laut dalam sementara di atas landai tetapi retak. Jika ada getaran dinding gunung itu bisa ambrol ke laut. Kondisi terakhir bawah laut Gunung Anak Krakatau terdapat jurang yang membentang di sisi Barat hingga Selatan.

Dinding gunung yang dikhawatirkan ambrol oleh retakan tersebut volume 67 juta m3 dengan panjang sekitar 1 kilometer. Volume tersebut memang lebih kecil dibanding longsoran yang menyebabkan tsunami pada 22 Desember 2018 lalu yang mencapai sekitar 90 juta m3.

Terkait hal ini, dia juga mengimbau agar masyarakat yang tinggal di dekat GAK untuk tetap waspada.

"Jika ada potensi tsunami, tentu harapan kita semua tidak seperti yang kemarin (22/12/2018) itu. Tapi kami meminta masyarakat untuk tetap waspada saat berada di zona 500 meter di sekitar pantai," kata Dwikorita.

Dalam memantau aktivitas GAK, BMKG juga sudah memasang alat sensor pemantau gelombang dan iklim. Sensor tersebut dipasang di pulau Sebesi yang jaraknya cukup dekat dengan GAK.

Diketahui, alat tersebut akan memantau pergerakan gelombang dan cuaca yang disebabkan oleh aktivitas GAK. Jika ada gelombang mengalami fluktuasi yang tinggi. Maka sensor akan mengirim sinyal ke pusat data yang terhubung.

"Secara pararel alat ini akan mengabarkan BMKG Jakarta, BPBD, dan Polda. Sehingga akan diketahui lebih cepat jika ada gelombang tinggi seperti tsunami karena ambrolnya dinding Gunung Anak Krakatau itu. Jadi ada peringatan dini lebih cepat untuk masyarakat," tandasnya. ***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:suara.com
Kategori:Banten, Lampung, DKI Jakarta, Pemerintahan, Peristiwa, GoNews Group

wwwwww