Kasihan, Akibat Luka Membusuk, Wahidun Sudah 8 Tahun Terbaring dan Susah Bergerak

Kasihan, Akibat Luka Membusuk, Wahidun Sudah 8 Tahun Terbaring dan Susah Bergerak
Kondisi Wahidun saat terbaring dikediamannya
Sabtu, 05 Januari 2019 07:45 WIB
Penulis: Gunawan
SELATPANJANG - Wahidun (42 th) warga Gang Al Histianah, Jalan Simpati, Desa Alahair, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, sudah 8 (delapan) tahun terbaring dan susah bergerak.

Penyakit yang dialami Wahidun berawal dari luka kecil yang menyebabkan terjadinya infeksi dan membusuk sehingga memakan sebagian saraf yang hampir menyebabkan kelumpuhan.

Ketika wartawan GoRiau.com, Jumat (4/1/2019) sore menyambangi kediamannya, tampak kesedihan terpancar diraut wajah Wahidun yang terbaring lemas tanpa beralaskan kasur itu.

"Silahkan duduk, beginilah kondisi saya yang semakin hari semakin memburuk," ujar Wahidun dengan kondisi terbaring.

Diceritakan laki-laki yang akrab disapa Adun itu, penyakit yang dialaminya berawal dari luka kecil dibagian punggung yang semakin lama semakin besar dan membusuk.

"Saat itu saya sebagai kuli bangunan merobohkan tembok, namun tembok depan yang saya pukul malah tembok dibelakang pula yang roboh dan menimpa tubuh saya. Sepertinya saat itu tidak terjadi apa-apa, namun luka yang ada semakin lama semakin besar dan membusuk sehingga sempat dilakukan operasi," cerita Adun.

Kemudian, Situ Zemah selaku kakak Adun melanjutkan cerita bahwa Adun sempat dibawa ke Pekanbaru bahkan hingga ke Jawa untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik, namun tidak membuahkan hasil karena bukan mendapatkan penanganan yang intensif tapi malah sebaliknya.

"Ke Pekanbaru sudah, kemarin di rumah sakit Santa Maria sekitar 12 hari dan rumah sakit Arifin Ahmad sekitar 6 hari, bahkan berobatnya sampai ke jawa sekitar 8 bulan disana, namun tidak ada hasilnya," cerita si Kakak.

Si Kakak juga mengatakan bahwa penyakit yang dialami adiknya itu semakin memburuk, hal itu dirasakan si adik dengan mulai susahnya untuk bergerak.

"Katanya bagian punggung kebawah sudah mulai hilang rasa atau tidak terasa lagi saat disentuh, ini membuat saya semakin kwatir," ucapnya.

Kemudian, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari si kakak hanya mengandalkan hasil penjualan pakis sayur yang diambil 2 hari sekali.

Sementara itu, Joko Sucahyo salah seorang warga setempat sangat prihatin dengan kondisi yang dialami kedua kakak beradik tersebut.

"Kita sangat prihatin melihat kondisi mereka karena sudahlah adiknya sakit, si kakaknya pula harus memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya dengan penghasilan menjual pakis," tutur Joko.

Untuk itu, Joko berharap agar pihak pemerintah setidaknya bisa memberi solusi dan meringankan beban kakak beradik tersebut.

"Kita berharap kepada pihak pemerintah Desa, Kecamatan maupun Kabupaten untuk tersentuh dan bisa meringankan beban mereka ini," harapnya. ***

Kategori:Peristiwa, Riau, Umum

wwwwww