Home > Berita > Umum

Pabrik Gula di Dumai Rugi, Anggota DPRD Sarankan Ditutup Saja

Pabrik Gula di Dumai Rugi, Anggota DPRD Sarankan Ditutup Saja
Para perwakilan pekerja pabrik gula Dumai terlihat berdiri memprotes pernyataan pihak menajemen PT SMIP yang diduga bertolak belakang dengan apa yang diterima pekerja
Rabu, 09 Januari 2019 20:38 WIB
Penulis: Muhammad Ridduwan
DUMAI - Menajemen PT Sumber Mutiara Indah Permata menyebutkan pihaknya mengalami kerugian ratusan juta di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Dumai. Mendengar itu, anggota DPRD Dumai, Edison minta pabrik gula di Dumai itu segera ditutup.

Dalam pertemuan antara pekerja dengan pihak PT SMIP, Ema salah seorang menajemen pabrik gula mengatakan, pemotongan gaji yang dilakukan pihaknya dikarenakan adanya temuan oleh pemeriksa keuangan terkait absensi kehadiran.

"Pabrik terjadi kerugian ratusan juta rupiah dikarenakan banyak pekerja yang tidak masuk dengan alasan sakit dengan membawa surat dokter yang tidak bertanda tanggan," kata Ema, Rabu (9/1/2019).

Terkait pernyataan pihak menajemen yang diutus dengan surat mandat tersebut, Edison menyebutkan pabrik gula yang berada di Kecamatan Medang Kampai tersebut tidak kali ini saja bermasalah.

"Setahu saya ini yang ketiga kalinya permasalahan PT SMIP dengan pekerja, jika perusahaan terus merugi ratusan juga, lebih bagus tutup saja," kata Edison dalam pertemuan tersebut.

Dikatakannya juga, pihak menajemen PT SMIP diharapkan segera menyelesaikan permasalahan terkait hak para pekerja, agar permasalahan tersebut tidak berlarut-larut.

"Meskipun nantinya pabrik gula ini tutup, PT SMIP tetap harus membayar seluruh hak pekerja," kata Edison dengan tegas.

Selain itu, pihak pekerja juga membantah dengan adanya pernyataan menajemen yang menyebutkan bahwa para pekerja yang bolos.

"Buk Ema mana tahu dengan apa yang terjadi, datang ke Dumai saja sekali sebulan, kami semua bukan tidak hadir atau tidak bekerja, mesin pabrik rusak jadi mana bisa kami bekerja," kata salah seorang pekerja dengan nada keras.

Pekerja sendiri mengaku, bahwa mereka belum menerima gaji selama dua bulan, dan juga mereka dinyatakan perusahaan terhutang dimana ada yang sebesar Rp 4 juta.

"kami ada yang menerima gaji sebesar Rp 16 ribu, dan ada juga yang terhutang kepada perusahaan hingga Rp 4 juta," kata Umar Hadi yang merupakan salah seorang pekerja Pabrik Gula Dumai. ***

Kategori:Umum, Riau

wwwwww