Home > Berita > Riau

Alhamdulillah, Ditengah Pesatnya Perkembangan Mode, Kain Tenun Melayu Riau Masih Banyak Peminat

Alhamdulillah, Ditengah Pesatnya Perkembangan Mode, Kain Tenun Melayu Riau Masih Banyak Peminat
Kamis, 10 Januari 2019 21:04 WIB
Penulis: Astri Jasiana Nindy
PEKANBARU - Sebagai salah satu hasil kreativitas seni budaya tradisi masyarakat Melayu, tenunan khas songket melayu sudah ada sejak lama.

Guna melestarikan salah satu warisan budaya, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang terletak di Kampung Bandar, Pekanbaru, Riau, sampai saat ini konsisten dalam melestarikan salah satu jenis kain tradisional Indonesia yaitu tenun dan songket.

KSM ini merupakan salah satu dari beberapa kelompok di Riau yang melestarikan kain tradisional tenun dan songket ini. Berdiri sejak tahun 2012, saat ini di Rumah Tenun milik KSM ini telah memiliki 6 alat tenun bukan mesin (ATBM).

Ketika di wawancarai, Ketua KSM Wawa Edini menceritakan awal mula ketika memulai KSM ini. Kegiatan bertenun ini sudah ada sejak tahun 2012. Berawal dari Program Nasional Pemberdaya Masyarakat (PNPM) mandiri pedesaan yang ada di Kampung Bandar. Ketika itu seluruh ibu-ibu yang ada disana dikumpulkan dari RT/RW dan bergabung di kelurahan Kampung Bandar, kemudian berdiskusi bersama tentang apa yang dibutuhkan.

Setelah berdiskusi, akhirnya ia bersama teman-teman mengusulkan gagasan dan kemudian mendapatkan bantuan dana dari PNPM pariwisata. Dari dana tersebut digunakan untuk uang instruktur, serta membeli alat dan bahan yang digunakan untuk membuat kain tenun dan songket.

Untuk pengajarnya sendiri, saat itu ada yang dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Provinsi Riau, dan waktu pembelajaran menenun dimulai dari teknik dan cara membuat dengan waktu selama satu bulan. Selebihnya, untuk memahirkan, KSM menjalankan sendiri dan terus dilakukan secara rutin kurang lebih selama satu tahun.

Ia juga menceritakan bahwa, awalnya, anggota KSM ini berjumlah 20 orang namun saat ini hanya ada  2 orang yang aktif, serta beberapa anggota lainnya. Selain itu juga ada beberapa anggota yang berada di Jalan Teropong, sekitar 8 orang. 

Dalam pembuatan kain tenun dan songket ini paling lama 13 hari, dan itu bisa dilihat dari kepadatan pola yang digunakan sehingga tingkat kesulitannya pun berbeda - beda. Dan untuk bahan dasar, dan aneka benang warna yang digunakan saat ini berasal dari Bandung.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/10012019/tenun2jpg-7755.jpg

Untuk harga yang ditawarkan di Rumah Tenun, kisarannya dari Rp500.000 sampai Rp1.500.000, sedangkan untuk tanjak dibandrol dengan harga Rp100.000 sampai Rp250.000,  selain itu disini juga menerima pesanan sesuai dengan harganya. Tergantung bagaimana permintaan pemesan.

Untuk pemesanan tanjak, paling banyak bisa memproduksi 20 buah per hari yang dibuat dari kain meteran yang sudah ada, namun untuk tanjak tenun sendiri belum bisa dipastikan. 

Selain itu, ia juga menyebutkan ada beberapa jenis motif tenunan yang dibuat di Rumah Tenun Kampung Bandar ini yaitu, motif Siku Kaluang, Siku Awan atau Awan Bergerak, Pucuk Rebung Kaluk Pakis bertingkat, Pucuk Rebung Bertabur Bunga Ceremai, Siku Tunggal, Daun Tunggal Mata Panah Tabir Bintang, Wajik Sempurna, dan Pucuk Rebung Penuh bBertali.

Dari beberapa jenis motif tersebut, menurut Wawa yang paling banyak disukai yaitu motif pucuk rebung dan siku kaluang.

Ia juga mengatakan, jika masyarakat ingin belajar serta melihat bagaimana proses pembuatan kain tenun dan songket ini, serta ingin belajar, bisa langsung datang ke Rumah Tenun yang terletak di Jalan Perdagangan, Kampung Bandar Senapelan,  Kota Pekanbaru, dan tempat ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya apapun.

Tidak hanya itu, hasil produksi Rumah Tenun ini sudah sampai ke mancanegara negara seperti Perancis,  Singapura,  Malaysia, Jerman.  Selain itu, ada juga beberapa turis mancanegara yang datang untuk melihat proses pembuatannya. Tidak hanya itu, Wawa juga menyebutkan bahwa saat ini KSM sudah menjadi binaan Bank Indonesia (BI).

Terakhir,  Wawa mengatakan, walaupun saat ini begitu pesatnya perkembangan mode, ditambah banyaknya jenis kain yang ada, kain tenun tetap banyak diminati oleh masyarakat. Ia juga berharap semoga kain tenun khas melayu Riau ini terus dilestarikan.

"Ditengah banyaknya kain-kain yang bagus namun, saat ini kain tenun khas Melayu Riau ini masih banyak diminati, dan kain tenun ini tak kan lekang oleh waktu," kata Wawa, di Rumah Tenun, Kamis (10/01/2018). ***

Kategori:Riau, Ekonomi

wwwwww