Dinilai Penyiksaan Satwa Langka, Siswi SMP Dumai Protes Lumba-lumba Dijadikan Bahan Atraksi di Purna MTQ Pekanbaru

Dinilai Penyiksaan Satwa Langka, Siswi SMP Dumai Protes Lumba-lumba Dijadikan Bahan Atraksi di Purna MTQ Pekanbaru
Ilustrasi (int)
Senin, 14 Januari 2019 10:23 WIB
Penulis: Muhammad Ridduwan
DUMAI - Siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Dumai mengecam pentas Lumba-lumba yang dilaksanakan di lapangan Purna MTQ Pekanbaru. Menurutnya ini penyiksaan terhadap satwa langka.

Syahira Regusti Desasy, siswi kelas 3 SMP Islam Terpadu Muslimin Dumai, menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak melihat pentas lumba-lumba tersebut, karena menurutnya penyelenggara sirkus lumba-lumba melakukan penyiksaan terhadap hewan langka.

"Lumba-lumba stres ketika mendengar tepuk tangan penonton, bahkan mereka dikasi makanan busuk oleh pelatihnya," kata Syahira Regusti Desasy, Minggu (13/1/2019).

Dikatakan gadis kecil kelahiran 2004 tersebut, bahwa mamalia jenis Lumba-lumba seharusnya tidak boleh memakan ikan yang sudah lama disimpan, dan seharusnya satwa tersebut harus memakan ikan segar.

"Seharusnya lumba-lumba memakan ikan-ikan kecil yang hidup dan tengah berenang didekatnya, ini tidak, lumba-lumba baru dikasih makan ketika menjalankan perintah dari pelatih, ini merupakan penyiksaan terhadap lumba-lumba." katanya menegaskan.

Dijelaskannya, pada tahun 2016, dirinya juga pernah menyuarakan penolakan pertunjukan pentas lumba-lumba yang dilakukan oleh PT Wersut Seguni Indonesia (WSI) yang dilaksanakan di kelurahan Bagan Besar, Kecamatan Bukit Kayu Kapur.

Disebutkannya kembali, jika pihak PT WSI yang mengaku sebagai pihak konservasi satwa langka tersebut harus membuat penangkaran bukan menjadikan lumba-lumba dan satwa langka lainnya menjadi ajang pertunjukan.

"Mereka itu jahat, menjadikan lumba-lumba untuk mencari duit, sirkus satwa langka tidak boleh lagi ditonton," katanya menegaskan.

Syahira yang merupakan atlet Panjat Tebing Rumah Penjelajah Dumai juga mengatakan, yang namanya konservasi tersebut adanya tempat perkembangbiakan bukan melakukan atraksi.

"Kalau lumba-lumba terus melakukan atraksi, kapan mereka akan berkembang biak," katanya menjelaskan

Pelajar yang dibesarkan oleh orang tua yang pecinta alam ini juga memaparkan, bahwa sonar yang dipancarkan oleh lumba-lumba tersebut merupakan terapi yang bagus buat manusia dengan catatan lumba-lumba tersebut tidak boleh memancarkan sonar dalam kolam yang sempit.

"Ketika lumba-lumba mengeluarkan sonar dikolam akan membuat dia stress, dikarenakan sonar yang kembali kepadanya cepat sehingga pemancar sonarnya rusak, dan seharusnya sonar itu dikeluarkannya dilautan lepas,"katanya menerangkan.

Ditegaskannya kembali, akibat pentas lumba-lumba keliling tersebut, umur lumba-lumba paling lama bertahan hingga 8 tahun, yang seharusnya mamalia tersebut hidup hingga 40 tahun.

"Kami meminta lumba-lumba segera dilepaskan karena habitatnya dilautan lepas bukan didalam kolam pertunjukan, mereka hanya tau duit dan tidak pingin peduli dengan satwa liar, mereka penjahat," katanya mengakhiri. ***

Kategori:Peristiwa, Riau, Umum

wwwwww