Pangi Syarwi Chaniago: Golput Jalan Pikiran Sesat

Pangi Syarwi Chaniago: Golput Jalan Pikiran Sesat
Minggu, 10 Februari 2019 15:46 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago menilai, Golput sebagai fenomena kealpaan politik sosial masyarakat. Golput, mesti dirangkul dan disadarkan.

"Golput bukan jalan pikiran yang lurus namun sesat," kata Pangi kepada GoNews.co, Minggu (10/02/2019).

Pernyataan Pangi ini, merujuk pada Golput yang bersifat ideologis. Pangi menilai, barisan Golput Ideologis ini penting untuk diberi logika yang melahirkan kesadaran baru.

"(Karena-red) naiknya sembako, pajak, BBM dan tarif listrik, gas, subsidi, pangan dll, adalah hasil dari produk politik" kata Pangi.

Bayangkan, lanjut Pangi, kalau yang mengambil keputusan tidak punya sentuhan dengan penderitaan dan nasib rakyat, "Apakah nasib kita ini kita serahkan pada orang preman dan nggak kompeten? Karena kita Golput sehingga preman yang terpilih, salah orang,".

"Dari bangun tidur sampai tidur lagi, semua (yang) berurusan dengan nasibnya itu, semua berhubungan dengan dengan pilihan politik; memilih dan tidak," papar penulis buku "Demokrasi Konsensus Kontentasi Suara Voting Vs Suara Permusyawaratan" itu.

Sebelumnya, Ketua Bappilu DPP Partai NasDem, Effendy Choirie atau Gus Choi mengatakan, golput dalam pemilu menunjukkan pribadi yang sombong dan tidak bertanggungjawab kepada bangsa dan negara.

"Wah pilihan saya enggak ada yang cocok, kan sombong sekali, seolah-olah dia orang paling sempurna," kata Gus Choi di Pedopo Trunojoyo, Madura, Jawa Timur, Sabtu (09/02/2019).

"Kenapa dia enggak turun langsung kalau memang dia hebat? Jadi menurut saya Golput itu memang boleh, enggak ada larangan, tetapi itu orang yang tidak bertanggung jawab," lanjut Gus Choi.

Pernyataan Gus Choi tersebut kemudian ditanggapi Tokoh Aktivis Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus pendiri Lokataru, Haris Azhar. Haris menilai, semestinya partai politik dan tim sukses lebih melakukan introspeksi diri ketimbang menginsinuasi masyarakat yang golput dengan sebutan "sombong" dan "tidak bertanggungjawab".

"Kenapa ada golput? Apa calonnya tidak menarik? Apakah programnya tidak menjawab ekspektasi sebagian masyarakat? Apakah gaya mereka kacangan tidak menyakinkan?" kata Haris.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta

wwwwww