Buntut dari Penolakan Sandi di Tabanan, Ferdinand Teringat Pidato Prabowo soal Indonesia Bubar

Buntut dari Penolakan Sandi di Tabanan, Ferdinand Teringat Pidato Prabowo soal Indonesia Bubar
Minggu, 24 Februari 2019 15:35 WIB
Penulis: Muhammad Dzulfiqar
JAKARTA - Politisi partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menilai, penolakan kampanye calon Wakil Presiden (Cawapres) Sandiaga Uno yang di Tabanan, Bali sebagai bibit disintegrasi sosial masyarakat yang semakin membuktikan bahwa pidato Prabowo terkait "Indonesia Bubar" bukan omong kosong.

Kepada GoNews.co, Minggu (24/02/2019), Ferdinand mengatakan, penolakan Sandi di Tabanan, menggambarkan demokrasi yang betul-betul mati di zaman presiden Jokowi karena tidak bisa berjalan secara normal dan wajar. "Ini bibit perpecahan bangsa yang tumbuh subur di era Jokowi,".

Ferdinand pun menilai, penolakan terhadap kampanye Sandi tersebut, sebagai bentuk radikalisme yang sesunggguhnya. "Dimana ada sekelompok masyarakat yang karena berbeda secara politik kemudian menolak kehadiran calon pemimpinnya yang sedang berkontestasi dalam Pemilu," ujarnya.

"Ini tidak patut dan tidak boleh terjadi di negara demokrasi. Ini pendukung Jokowi yang radikal dan merupakan bibit konflik serta bibit disintegrasi bangsa," kata Ferdinand.

Ia lantas mengaitkan situasi tersebut dengan pidato Prabowo Soebianto di Bogor, Jawa Barat, Oktober tahun 2017 yang menyinggung soal potensi bubarnya Indonesia sebagai negara.

"Betul yang Prabowo bilang Indonesi bisa bubar. Dan saya nyatakan memang Indonesia bisa bubar jika Presidennya masih Jokowi. Jokowi tidak mampu menjaga demokrasi dan menjaga persatuan," tukas Ferdinand.

Sebelumnya, Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno ditolak di Tabanan dalam safari politiknya di Bali baru-baru ini. Melalui akun twitternya, @Sandiaga Salahuddin Uno, Sandi meminta maaf kepada masyarakat Tabanan.

"Untuk masyarakat di Kabupaten Tabanan, saya meminta maaf sebesar-besarnya karena saya harus membatalkan kunjungan ke sana demi menjaga situasi tetap kondusif. Persatuan dan Kerukunan antar masyarakat harus tetap menjadi yang utama. Semoga kita dapat dipertemukan setelah 17 April nanti," cuit Sandi yang meski batal ke Tebanan, Ia tetap berkampanye di Sanur, Gianyar, Klungkung, Karangasem, Denpasar dan Teluk Benoa.

Penolakan terhadap kedatangan Sandi, ditegaskan melalui surat berkop DESA PAKRAMAN PAGI, DESA SENGANAN, DESA PENEBEL, KABUPATEN TABANAN dengan nomor surat 40/DPP/11/2019 tertanggal 18 Februari 2019.

Surat itu ditandatangani oleh I Nyoman Subagan, I Wayan Sukawijaya dan I Wayan Yastera dengan tembusan kepada Perbekel Senganan dan Kapolsek Penebel.

"Sepakat Menolak Kunjungan/Kedatangan Bapak Sandiaga Uno dalam kapasitas apapun," demikian kutipan surat yang beredar di media sosial tersebut.

Dalam surat itu, masyarakat menyebut PDIP sebagai partai pilihan mereka. "Karena kami telah sepakat untuk mendukung, kandidat/Caleg maupun Capres dari PDIP,".

Hingga berita ini dibuat, belum ada perwakilan dari PDIP yang bersedia memberi peryataan. (ZUL)

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta, Bali

wwwwww