Gelorakan Semangat Rakyat, Prabowo Baca Sajak Karawang-Bekasi

Gelorakan Semangat Rakyat, Prabowo Baca Sajak Karawang-Bekasi
Jum'at, 29 Maret 2019 14:18 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
KARAWANG - Calon presiden Prabowo Subianto terharu melihat gelombang semangat perubahan yang ditunjukkan masyarakat di penjuru Tanah Air. Dalam berbagai kunjungan yang dilakukan capres nomor urut 02 itu, ribuan masyarakat menyambut.

Dalam acara Prabowo menyapa masyarakat di Lapangan Galuh Mas, Karawang, Jawa Barat, Jumat, 29 Maret 2019, gelombang perubahan itu tampak semakin membesar.

Puluhan ribu masyarakat datang dari berbagai penjuru Jawa Barat tanpa dimobilisasi. Mereka rela menunggu, berdiri di bawah terik matahari sejak pagi, lalu berebut untuk bersalaman, berswafoto, hingga menyimak pidato Prabowo.

Dalam pidatonya, Prabowo berpesan aga masyarakat terus menjaga semangatnya mengawal perubahan di Indonesia. Prabowo meminta masyarakat bahu-membahu jaga TPS, mengamankan suara di Pilpres 17 April 2019.

"Saya yakin, rakyat Indonesia adalah pejuang pemberani. Dulu kita usir penjajah, sekarang kalau ada yang suka menjajah bangsa sendiri, kita lawan," kata Prabowo.

"Saya hanya ingin ucapkan terima kasih. Mari kita bekerja keras dalam 16 hari ke depan. Dekati orang-orang di sekitarmu, periksa DPT, kalau ada yang tidak wajar tolong laporkan," imbuh Prabowo.

Prabowo lantas bercerita, di jaman revolusi kemerdekaan, jalan antara Karawang dan Bekasi dipenuhi jasad para pejuang yang gugur demi merebut kemerdekaan. Jasad para pejuang yang berjuang tanpa pamrih demi mewujudkan Indonesia adil makmur.

Kepada masyarakat yang tengah menyongsong datangnya perubahan, Prabowo persembahkan sajak Karawang-Bekasi karya Chairil Anwar.

"Dulu jalan antara Karawang Bekasi penuh korban jiwa. Sajak ini karya Chairil Anwar berjudul Karawang-Bekasi," kata Prabowo.

Karawang - Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi, tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami, terbayang kami maju dan mendegap hati

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 
Kami mati muda, Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami 

Kami sudah coba apa yang kami bisa 
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa 

Kami cuma tulang-tulang berserakan 
Tapi adalah kepunyaanmu 
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan 

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan 
atau tidak untuk apa-apa, 
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata 
Kaulah sekarang yang berkata 

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi 
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak 

Kenang, kenanglah kami 
Teruskan, teruskan jiwa kami 
Menjaga Bung Karno 
menjaga Bung Hatta 
menjaga Bung Sjahrir 

Kami sekarang mayat 
Berikan kami arti 
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian 

Kenang, kenanglah kami 
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu 
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi.***


wwwwww