Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Diduga Berasal dari Pekanbaru, Siapa Gerangan Pria Pemesan 'Jasa' Prostitusi Hana Hanifah
Hukum
23 jam yang lalu
Diduga Berasal dari Pekanbaru, Siapa Gerangan Pria Pemesan Jasa Prostitusi Hana Hanifah
2
BAZNAS Laporkan Pengelolaan Zakat Nasional di DPR
Ekonomi
17 jam yang lalu
BAZNAS Laporkan Pengelolaan Zakat Nasional di DPR
3
Heboh Masuk Pantai Indah Kapuk Harus Pakai Paspor, Netizen: Apakah Sebagian RI Sudah Dijual ke Asing?
Peristiwa
22 jam yang lalu
Heboh Masuk Pantai Indah Kapuk Harus Pakai Paspor, Netizen: Apakah Sebagian RI Sudah Dijual ke Asing?
4
Peluang Sandiaga Uno Nyapres Terbuka Jika Berani Menjauhi Prabowo
Politik
22 jam yang lalu
Peluang Sandiaga Uno Nyapres Terbuka Jika Berani Menjauhi Prabowo
5
WNA Boleh Urus Keuangan dan Teknik di Lembaga Penyiaran, PPP Kritisi Omnibuslaw Ciptaker
DPR RI
23 jam yang lalu
WNA Boleh Urus Keuangan dan Teknik di Lembaga Penyiaran, PPP Kritisi Omnibuslaw Ciptaker
6
Formappi Desak Anggota DPR Tak Malas Ngantor di Tengah Pandemi
Politik
23 jam yang lalu
Formappi Desak Anggota DPR Tak Malas Ngantor di Tengah Pandemi
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Mabes Polri: Polisi Tidak Boleh Halangi dan Intervensi Wartawan

Mabes Polri: Polisi Tidak Boleh Halangi dan Intervensi Wartawan
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo. (Istimewa)
Kamis, 26 September 2019 18:07 WIB
JAKARTA - Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo, menegaskan anggota Polri tidak boleh menghalangi tugas wartawan. Hal ini menanggapi beberapa kekerasan yang di menyoroti kekerasan yang menimpa jurnalis saat meliput aksi demonstrasi di beberapa daerah.

Salah satu wartawan Kantor Berita Antara, Darwin Fatih, menjadi korban pemukulan polisi saat meliput unjuk rasa yang terjadi di depan Gedung DPRD Sulawesi Selatan. Juga Vany Fitria, wartawan Narasi Tv yang diduga dipukul dengan tameng polisi dan telepon genggamnya dirampas serta dihancurkan.

"Saya langsung komunikasi dengan pimpinan redaksi Kantor Berita Antara. Saya perintahkan Kabid Humas menemui yang bersangkutan dan meminta maaf. Dan anggota yang terbukti melakukan perbuatan itu saya minta ditindak tegas oleh propam setempat," kata Dedi di Mabes Polri, Kamis (26/9/2019).

Menurut Dedi, para pewarta yang sedang bertugas itu dilindungi undang-undang. Tak boleh ada siapapun yang mengintervensi.

"Tidak boleh intervensi media," ujar dia

Ke depan, Dedi mengatakan, pihaknya mengusulkan agar wartawan yang meliput di areal kerusuhan dibekali rompi bertuliskan pers.

"Sudah saya sampaikan berulang kali ke Pemred, IJTI, Dewan Pers agar ketika temen media meliput kerusuhan pakai rompi," ujar dia.

Dedi juga meminta teman-teman media yang meliput area kerusuhan harus cermat dalam mencari tempat.

"Di mana tempat yang aman dari massa dan aparat. Kejadian selama ini terjadi saya lihat rekan media di depan dan gabung dengan massa. Kemudian identitas kecil gak keliatan dari jauh," ujar dia.

Kabareskrim Akan Sanksi Tegas Anggotanya

Sementara itu, Kabareskrim Polri Komjen Idham Aziz mengaku menyesal dengan adanya kekerasan yang diduga dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap awak media saat meliput aksi.

"Kejadian di Sulsel, saya langsung komunikasi dengan Pemred Antara. Secara pribadi saya menyesalkan kejadian tersebut dan saya perintahkan kabid humas menemui yang bersangkutan dan meminta maaf," kata Idham di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Kamis (26/9).

Mantan Kapolda Metro Jaya ini menegaskan, Kabid Propam akan menindak tegas anggotanya yang terbukti menganiaya wartawan.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Liputan6.com
Kategori:Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Politik, Pemerintahan, Hukum, Peristiwa, GoNews Group

wwwwww