Everything Indonesia: Solusi Agar Produk Tekstil Indonesia Jadi Ikon Dunia

Everything Indonesia: Solusi Agar Produk Tekstil Indonesia Jadi Ikon Dunia
Doc. Istimewa
Sabtu, 26 Oktober 2019 20:26 WIB
PEKANBARU - Belum lama ini, isu tak sedap kembali menimpa industri tekstil dalam negeri. Di tengah lesunya permintaan tekstil nasional, diduga terjadi kebocoran impor tekstil dan produk tekstil (TPT) lewat Pusat Logistik Berikat (PLB) di kawasan Jawa Barat.

Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan kompak membantah kabar ini. Pemerintah berargumen hanya sekitar 4,1 persen barang impor TPT yang masuk melalui pintu berikat itu.

Kisruhnya tata kelola industri TPT dalam negeri berkebalikan dengan mimpi pemerintah untuk menjadikan TPT sebagai industri manufaktur prioritas Indonesia dalam mewujudkan Making Indonesia 4.0. Padahal, Indonesia tidak pernah kekurangan sumber daya dalam negeri untuk bisa membuat industri ini bersaing di kancah internasional.

Indonesia punya bahan baku tekstil yang bisa diproduksi di dalam negeri, seperti rayon. Indonesia punya rantai investasi tekstil yang komplit, mulai dari upstream (serat), midstream (pemintalan benang, pewarnaan, pencetakan), sampai downstream (pakaian jadi dan tekstil lainnya). Indonesia pun memiliki sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Artinya, Indonesia sebetulnya punya seluruh modal untuk bisa kuat dan mandiri di industri tekstil nasional sekaligus mensejahterakan masyarakat Indonesia.

Menyikapi hal tersebut, semangat “Everything Indonesia” disosialisasikan untuk menggerakkan penggunaan produk Indonesia. Artinya, seluruh pihak diajak untuk mengoptimalisasikan penggunaan bahan baku produk yang berasal dari Indonesia, diproduksi di Indonesia dan akan kembali untuk kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.

Perusahaan tekstil yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) juga mendukung semangat “Everything Indonesia”, salah satunya dengan mengoptimalisasikan penggunaan bahan baku tekstil buatan dalam negeri. Dengan begitu, Indonesia nantinya dapat diperhitungkan menjadi salah satu pemain besar tekstil dan fesyen terbesar di dunia.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) sekaligus pengusaha di bidang tersebut Anne Patricia Sutanto mengatakan diperlukan kerja sama dan saling pengertian antarsektor tekstil, dari hulu ke hilir untuk menggerakan penggunaan bahan baku rayon sebagai implementasi everything Indonesia.

“Inovasi dari kegiatan ini [pengembangan sustainable fashion] bukan hanya untuk ekspor bisnis saja, namun juga untuk domestic business dalam skala besar,” ujar Anne usai gelaran gala dinner everything Indonesia, Rabu (16/10/2019).

Masa Depan Tekstil Indonesia Adanya serat rayon yang diproduksi di dalam negeri membuat masa depan industri fashion di Indonesia semakin cerah. Soalnya, bahan baku tekstil yang dikelola berkelanjutan (sustainable) dan ramah lingkungan tengah naik daun dan disebut-sebut akan menjadi the future fashion di kalangan penikmat mode dunia. Dengan sejumlah keunggulan seperti berasal dari sumber terbarukan, dapat terlacak dan dikelola secara berkelanjutan, serat rayon yang dihasilkan APR dinilai dapat memenuhi permintaan dunia saat ini.

Hadirnya APR juga membuat pasokan rayon domestik menjadi lebih kuat, yang artinya mampu mengurangi ketergantungan impor bahan baku tekstil yang trennya terus meningkat. Berdasarkan data APSyFI yang diolah dari BPS, rata-rata pertumbuhan impor TPT nasional dalam 10 tahun terakhir meroket hingga 10,4 persen, mencapai US$10,02 miliar pada 2018.

Menggaungkan sustainable fashion tak ada artinya apabila anak Indonesia tidak ikut ambil peluang dalam menggerakan penggunaan produk yang berasal dari Indonesia. Padahal, sumber daya di dalam negeri tidak pernah habis dan bisa terus dimanfaatkan untuk kebaikan seluruh masyarakat Indonesia.

“Yang saya percayai, satu perusahaan besar dapat memberikan dampak yang juga besar. Namun, apabila Asia Pacific Rayon [APR] bisa menginspirasi seluruh perusahaan di Indonesia, saya percaya dapat bersama-sama membawa dampak yang jauh lebih besar kepada komunitas,” ujar Anne.

Direktur Asia Pacific Rayon (APR) Basrie Kamba mengatakan semangat Everything Indonesia di sektor tekstil dapat memperkuat peluang bisnis asal Indonesia untuk bisa bersaing di kancah dunia. Dengan begitu, target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar pada 2030 semakin dekat.

Seperti diketahui, sektor tekstil menjadi satu dari lima industri manufaktur prioritas yang ditetapkan pemerintah dalam peta jalan Making Indonesia 4.0. Peta jalan tersebut diharapkan mampu merevitalisasi industri manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global di era digital.

“Sehingga “Everything Indonesia” tidak hanya kita bawa untuk kejayaan industri dalam negeri, namun penggunaan bahan baku lokal yang sustainable juga bisa menjadi stimulus untuk pengembangan industri TPT Indonesia sebagai industri masa depan," tutupnya.

Dalam gelaran gala Dinner “Everything Indonesia”, sebanyak 11 desainer yang tergabung dalam Indonesia Fashion Chamber (IFC) memamerkan kreasi batik menggunakan bahan baku 100 persen rayon yang diproduksi oleh APR. Muse dalam sesi fashion show yaitu si kembar Valerie dan Veronika, peserta Asia Next Top Model (AsNTM) musim kelima.

Selepas acara, keduanya memuji kualitas pakaian batik yang berasal dari bahan baku kayu terbarukan yang dikelola secara berkelanjutan tersebut. “Kami senang sekali suatu desain yang dibuat di Indonesia, berasal dari bahan baku yang ditanam Indonesia, dan dapat menggerakan ekonomi untuk kebaikan masyarakat Indonesia, tapi tetap stylish dan lebih ramah lingkungan. Kami bangga dengan Everything Indonesia (semuanya dari Indonesia),” ujar Veronica. (rls)

Editor:Ratna
Kategori:Ekonomi, Riau, Pemerintahan, GoNews Group

       
        Loading...    
           
wwwwww