Jika Terpilih Ketua Umum PSSI, Bernhard Limbong: Stop Pemain Naturalisasi

Jika Terpilih Ketua Umum PSSI, Bernhard Limbong: Stop Pemain Naturalisasi
Rabu, 30 Oktober 2019 22:17 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - Calon ketua umum PSSI, Bernhard Limbong Bernhard Limbong tampil beda dalam acara Diskusi Olahraga Mencari Ketua PSSI Ideal yang digelar SIWO PWI Pusat dan PSSI Pers di Aula Wisma Karsa Pemuda Kemenpora Jakarta, Rabu (30/10/2019). Mantan Ketua Komisi Disiplin PSSI ini menyoroti banyaknya pemain naturalisasi untuk Timnas Indonesia.

Limbong menjanjikan jika terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2019-2023 dalam Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI di Jakarta, 2 November nanti, akan menghentikan kebijakan naturalisasi pemain asing tersebut.

"Indonesia memiliki stok pemain yang melimpah karena kita memiliki jumlah penduduk yang banyak. Saya tidak mau menggunakan naturalisasi. Orang kita 270 juta penduduk kok. Jangan disamakan dengan Singapura atau Filipina," kata Limbong.

Menurutnya, langkah memperkuat Timnas Indonesia dengan pemain naturalisasi tidak tepat. Sebagai bukti, dia menyebut Timnas Indonesia yang diperkuat beberapa pemain naturalisasi mengalami kekalahan telak lima gol tanpa balas dari Uni Emirat Arab pada Kualifikasi Piala Dunia 2022. “Saya tidak suka (pemain) naturalisasi. Untuk apa, sudah ada naturalisasi tetap kalah 0-5,” tegasnya.

Limbong mengatakan, dirinya lebih mengutamakan bakal dari tanah Papua, khususnya di Wamena. Sosok yang pernah menjabat sebagai Ketua Komdis PSSI di zaman Djohar Arifin itu menilai ada banyak kebanggaan dari tanah Wamena. Bahkan, dia bertekad akan membangunpusat latihan serta pembinaan di Tanah Papua.

"Saya bercita-cita bikin chandradimuka sepak bola di Papua. Mulai pembinaan dan pusat latihan beda. Misalnya di Papua itu sarana, prasarana, infrasktruktur dibikin. Sarana dan prasarana sepak bola harus juga dibikin bareng, paralel," papar Limbong.

"Papua banyak lahan tapi tempat latihan tidak ada, hanya ada tempat pertandingan, itu pun paling di Mandala Krida di Jayapura. Saya menginginkan suatu saat kelak harus ada seperti di Jepang. Lapangannya itu ada yang khusus pertandingan, ada yang khusus TC, ada yang latihan biasa. Dia mempunyai 12 lapangan latihan, dua lapangan pra pertandingan dan stadion untuk pertandingan. Nah kita, Persija saja tidak punya lapangan latihan, ke sana kemari," tambahnya.

Dia juga berkeinginan memperbaiki mental para pemain sepak bola Indonesia, Limbong ingin memperbaiki gizi. “Kita harus pikir yang cerdas, menerapkan gizi yang bagus. Tidak bisa main bola yang benar jika gizinya tidak baik. Kita harus memulainya dari usia minim,” katanya.

Lebih jauh Limbong menilai proses penjaringan para kandidat yang akan maju pada KLB PSSI, tidak profesional. Pasalnya, dalam proses penjaringan kandidat pada KLB kali ini, satu orang kandidat bisa mencalonkan diri di beberapa bidang pemilihan.

"Menurut saya proses penjaringan bakal calon yang akan maju pada KLB PSSI 2 November mendatang tidak profesional. Karena satu kandidat bisa mencalonkan diri sebagai ketua umum, wakil ketua umum dan komite eksekutif. Masa iya ibaratnya orang bisa mencalonkan diri sebagai presiden, gubernur dan camat. Kan rancu jadinya," kritik Limbong.

"Harusnya ada pembatasan. Satu kandidat hanya boleh mencalonkan diri untuk satu bidang pemilihan," tambah pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Disiplin PSSI ini.

Diskusi ini dihadiri sembilan dari 9 caketum PSSI. Mereka adalah Fary Djemi Francis, Yasayas Oktavianus, Benhard Limbong, Aven Hinelo, Arif Putra Wicaksono, Sarman El Hakom, Vijaya Fitriyasa, Benny Erwin, dan Rahim Soekasah. Sementara dua caketum lainnya yaitu La Nyalla Mattalitti dan Komjen Pol Mochamad Iriawan (Iwan Bule) tidak hadir. ***


       
        Loading...    
           
wwwwww