Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Pernah Keluar Rumah Tapi Dinyatakan Positif Corona, Ibu Hamil Menangis Histeris
Kesehatan
11 jam yang lalu
Tak Pernah Keluar Rumah Tapi Dinyatakan Positif Corona, Ibu Hamil Menangis Histeris
2
Ledakan di Lebanon Sebuah Serangan di Tengah Sulitnya Ekonomi?
Internasional
20 jam yang lalu
Ledakan di Lebanon Sebuah Serangan di Tengah Sulitnya Ekonomi?
3
Indonesia Terbilang Masuk Resesi Ekonomi karena...
Ekonomi
19 jam yang lalu
Indonesia Terbilang Masuk Resesi Ekonomi karena...
4
Penderita Corona, Penjaga Makam, Security dan Kaum Duafa Dapat Daging Qurban
MPR RI
11 jam yang lalu
Penderita Corona, Penjaga Makam, Security dan Kaum Duafa Dapat Daging Qurban
5
Tahan Impor, Partai Gelora Indonesia: Perlu Ada Kemandirian
Pemerintahan
11 jam yang lalu
Tahan Impor, Partai Gelora Indonesia: Perlu Ada Kemandirian
6
ISYF Kampanyekan Gerakan Milenial Bermasker Cegah Covid-19
Umum
11 jam yang lalu
ISYF Kampanyekan Gerakan Milenial Bermasker Cegah Covid-19
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Kerap Dibanjiri Granat dan Peluru dari Luar Negeri, Jokowi ke Prabowo: Kurangi Impor!

Kerap Dibanjiri Granat dan Peluru dari Luar Negeri, Jokowi ke Prabowo: Kurangi Impor!
Kamis, 31 Oktober 2019 18:01 WIB
JAKARTA - Indonesia saat ini memiliki stok granat yang lumayan banyak. Bahkan granat. Untuk itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan tugas khusus pertama kepada Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Kantor Presiden.

Tugas pertama yang diberikan Jokowi secara resmi untuk Prabowo adalah memacu industri pertahanan strategis Indonesia, terlebih dengan alokasi anggaran yang sudah berlipat.

"Untuk memenuhi minimum essentials force, jangan sampai kita impor semuanya, tetapi harus di anggaran yang ada harus dimanfaatkan untuk pengembangan industri strategis," kata Jokowi, Kamis (31/10/2019).

Kementerian Pertahanan merupakan instansi yang ternyata memiliki anggaran belanja terbesar dari seluruh Kementerian. Kemenhan mendapatkan 'jatah' belanja hingga Rp 127,35 triliun.

Jokowi pun ingin alokasi dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan industri pertahanan strategis, agar seluruh alat persenjataan Indonesia tak lagi impor.

"Kerja sama dengan BUMN, kerja sama dengan swasta terus dilakukan, bahkan kita ingin agar produk yang ada itu bisa kita ekspor," jelasnya.

Terpisah, Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono tak memungkiri bahwa kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) belum bisa dipenuhi sepenuhnya dari industri dalam negeri. Angkanya pun kurang dari 50%.

"Kalau 50% bisa mah top, kalau pesawat tempur belum bisa bikin," kata Trenggono di kompleks Istana Kepresidenan.

Sebagai informasi, Indonesia memang kerap dibanjiri oleh impor persenjataan mulai dari granat, torpedo, hingga peluru. Sepanjang 2018 total impor senjata mencapai US$ 313 juta atau 0,20% dari total keseluruhan impor.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:cnbcindonesia.com
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Pemerintahan, Politik, DKI Jakarta

wwwwww