BKSDA Pasang Perangkap untuk Menangkap Harimau yang Serang Ternak Warga di Pasaman

BKSDA Pasang Perangkap untuk Menangkap Harimau yang Serang Ternak Warga di Pasaman
Tim BKSDA memasang perangkap di Pasaman. (foto: BKSDA Sumbar/Langgam.id)
Senin, 11 November 2019 11:25 WIB
PASAMAN- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) memasang perangkap untuk menangkap satwa liar yang menyerang ternak warga di Jorong Kampung Padang, Nagari Aia Manggih Barat, Kecamatan Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Minggu (10/11/2019).
 

Satwa liar yang menyerang sekitar seminggu terakhir membuat resah warga dengan keselamatan hewan ternaknya. Tercatat 4 ekor ternak kambing warga dilaporkan diserang oleh satwa liar yang diduga jenis harimau Sumatera.

Dikutip dari Langgam.id, petugas Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Sumbar Resor Agam, Ade Putra mengatakan, tim BKSDA mengerahkan 7 personil dari Resor Pasaman. Petugas tersebut sudah melakukan pemantauan dan patroli sejak Rabu (6/11/2019) lalu.

“Setelah beberapa hari dipantau, akhirnya petugas memutuskan untuk memasang perangkap guna mengevakuasi satwa langka tersebut,” katanya kepada Langgam.id, Minggu, (10/11/2019).

Tindakan ini diambil mengingat kejadian yang telah berulang kali. Pengusiran yang telah dilakukan tidak membuahkan hasil dan lokasi kejadian juga tidak berada jauh dari pemukiman warga.

Terakhir serangan satwa terjadi Sabtu (9/11/2019) lalu sekitar pukul 17.00 WIB. Dalam serangan itu satu ekor kambing milik Anton, warga Jorong Kampung Padang, Nagari Aia Manggih Barat mati akibat diterkam satwa tersebut.

Namun satwa tidak berhasil membawa lari ternak karena melihat pemilik mendekati. Sebelumnya pada bulan Juli, di dekat lokasi yang sama juga terjadi konflik antara manusia dan satwa liar. Sebanyak 14 ekor ternak warga dimangsa oleh satwa liar yang diduga jenis harimau Sumatera.

Pada saat itu BKSDA melaksanakan pemasangan kamera penjebak (camera trap) sebanyak 4 unit untuk memantau keberadaan dan pergeralan satwa. Selain itu pengusiran juga dilakukan dengan menggunakan bunyi-bunyian selama hampir satu Minggu.

Berdasarkan hasil pengamatan pada saat itu, satwa tersebut diketahui telah kembali ke habitatnya di hutan lindung Tonang Talu.

Menurut Ade, salah satu penyebab terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar adalah disebabkan menyempitnya habitat satwa akibat alih fungsi lahan. (rahmadi/HM/Lgm)

Editor:arie rh
Sumber:Langgam.id
Kategori:GoNews Group, Peristiwa, Lingkungan, Sumatera Barat

wwwwww