Navigasi Penerbangan Padang Disatukan dengan Sistem Radar dari Pekanbaru, Hemat Operasional Rp10 Miliar

Navigasi Penerbangan Padang Disatukan dengan Sistem Radar dari Pekanbaru, Hemat Operasional Rp10 Miliar
Kamis, 28 November 2019 14:18 WIB
PEKANBARU - Untuk meningkatkan keselamatan penerbangan dan mendongkrak trafik penerbangan yang sedang lesu akibat tarif bagasi dan kenaikan harga tiket pesawat, sejak setahun terakhir, akhirnya sistem navigasi wilayah Padang disatukan dengan Pekanbaru.

Penyatuan sistem navigasi penerbangan Padang dengan sistem radar dari Pekanbaru ini sudah dilakukan sejak 10 Oktober 2019.

Tidak hanya mengatur penerbangan pesawat dari dan ke Pekanbaru dan Padang, radar ini juga mengatur lalu lintas penerbangan pesawat tempur yang latihan perang di Siabu.

Corporate Secretary Airnav Indonesia Novy Pantaryanto mengatakan, penyatuan sistem radar ini merupakan yang pertama di Indonesia dan masih tahap uji coba selama setahun dimulai sejak 10 Oktober 2019.

"Jadi, teknisnya nanti radar di Pekanbaru ini yang akan mengambil pengontrolan atau pemanduan terhadap navigasi Padang," kata Novy, di AirNav cabang Pekanbaru, Kamis (28/11/2019) pagi.

Melalui penyatuan navigasi ini, pengaturan penerbangan antarpesawat di wilayah Padang, diharap bisa lebih akurat karena tidak lagi berdasarkan pada laporan pilot saja, tetapi juga pantauan satelit langsung. Tidak hanya itu, efisiensi ruang udara pun bisa lebih tinggi lagi dari saat ini. Sehingga, berdampak pada semakin meningkatnya slot penerbangan yang diberikan kepada maskapai penerbangan di wilayah tersebut.

''Setelah ini, selanjutnya di Palembang dan daerah-daerah lain seperti Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Balikpapan, Denpasar, Makassar, Sentani, Tanjung Pinang, Pontianak, dan Pekanbaru," sambungnya.

Novy menambahkan, melalui sistem pengaturan radar ini, pihaknya berharap, pergerakan penerbangan yang tengah lesu dapat naik hingga 4%, dan kepercayaan masyarakat untuk naik pesawat menjadi semakin tinggi.

Pertumbuhan yang kita prediksikan tahun depan itu rata-rata 4%. Jadi kalau dilihat cukup tinggi kedepannya. Dari 470 lebih jarak tempuh pesawat, target tahun depan 485 juta lebih. Itu untuk kenaikan 4%," jelasnya.

Penggabungan sistem navigasi radar di Pekanbaru ini juga dinilai lebih murah, sekitar Rp10 Miliar, ketimbang memasang radar di Padang yang bisa mencapai Rp80 miliar.

General Manager Kantor Cabang Pekanbaru AirNav Indonesia Posler Manihuruk menambahkan, sistem radar yang digunakan untuk penerbangan di Padang dan Pekanbaru ini banyak digunakan negara-negara maju.

Dalam pengoperasiannya pun, para operator dari AirNav Cabang Pekanbaru pun harus mengikuti pendidikan di Spanyol dan negeri dingin Norwegia, selama beberapa pekan.

"Teknologinya dari Spanyol dan Norwegia. Jadi, operator kita dikirim ke Spanyol unuk belajar ke sana. Kita masih ujicoba selama 1 tahun ini. Selama ini berjalan baik, sistem berjalan dengan lancar," sambung Posler.

Jangkauan radar ini, jelas Posler, juga cukup jauh, bisa sampai 200-250 mil atau 360 kilo meter lebih, mencapai wilayah udara Kuala Lumpur, Malaysia, hingga negeri Singapura.

"Sebelum memakai radar, penerbangan di Padang dilayani secara prosedural nonradar atau manual. Jadi, petugas ATC Airnav dan pilot pesawat berhubungan secara manual. Pilot memberi laporan ke ATC," ungkapnya.

Sistem navigasi seperti ini, punya kelemahan separasi atau jarak pesawatnya. Sehingga, membuat jarak cukup jauh, yakni 10 menit penerbangan atau 80 nautical mile (nm).

"Sedangkan kalau menggunakan radar, jarak atau separasinya menjadi lebih dekat, yaitu sekitar 5 nm saja. Jadi nantinya pesawat yang dilayani bisa lebih banyak dan tingkat keselamatannya juga meningkat," paparnya.

Meski sistem navigasi radar Padang telah dikendalikan dari Pekanbaru, bukan berarti tower navigasi nonradar di Padang tidak terpakai. Navigasi nonradar tetap dibutuhkan.

"Di Padang masih ada tower. Tapi sekarang fungsinya untuk mengatur pesawat yang mau mendarat, hanya 5 menit saat pesawat mau mendarat dan berangkat. Jadi begitu take off, langsung menghubungi kita," ungkapnya.

Jika radar di Pekanbaru melihat ancaman penerbangan, dan pesawat tidak boleh mendarat, maka tower yang di Padang akan langsung menghubungi pilot bersangkutan.

"Kalau di sini bilang jangan berangkatkan dulu, tower Padang akan bilang ke pilotnya. Tentu, dengan alasan trafic atau keselamatan penerbangan. Jadi tidak bisa semena-mena juga. Harus ada alasannya," tambah Posler.

Namun, ada yang lemah dari sistem navigasi radar ini. Radar tidak bisa membaca pergerakan cuaca yang banyak menyebabkan pesawat mengalami kecelakaan di udara.

"Jadi kita gak punya radar cuaca, yang punya itu BMKG. Makanya kita tiap jam dikirimi sama BMKG laporan cuaca. Kita juga pakai waktu Inggris. Jadi setiap jam, BMKG wajib memberikan gambaran cuaca," sambungnya.

Selain tidak bisa membaca cuaca, radar juga tidak aman terhadap gangguan petir. Sehingga, rawan tersambar dan mengalami gangguan teknis. Namun, sistem backup akan langsung bekerja, sehingga tetap aman.

"Radar itu memancarkan ke ruang udara, tercapture baru balik lagi. Lalu ada juga yang berbasis satelit. Jadi ketika satu filed, yang satu masih ada. Itu pola yang dipakai untuk menjaga jika salah satunya mati," tukasnya. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:sindonews.com
Kategori:Sumatera Barat, Umum, GoNews Group

wwwwww