Buya Yunahar Ilyas, Sang Penerus Eksistensi Ulama Minangkabau di Kancah Dakwah Internasional

Buya Yunahar Ilyas, Sang Penerus Eksistensi Ulama Minangkabau di Kancah Dakwah Internasional
Buya Yunahar Ilyas. (foto: suaramuhammadiyah.or.id)
Jum'at, 03 Januari 2020 18:25 WIB
PADANG - Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Yunahar Ilyas meninggal dunia. Almarhum yang juga tokoh Muhammadiyah itu menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Sarjito Yogyakarta, Kamis (2/1/2020) pukul 23.47 WIB.

Kepergian Almarhum Yunahar Ilyas di usia 63 tahun itu, tak hanya menyisakan duka bagi keluarga besar Muhammadiyah, tapi juga umat Islam di Ranah Minang.

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Sumatera Barat (Sumbar), Shofwan Karim mengatakan, ia melihat sosok Almarhum Yunahar Ilyas semasa hidup telah menjadi penjaga eksistensi ulama asal Minangkabau atau Sumatra Barat di kancah dakwah nasional dan internasional.

Shofwan menyebut, setelah generasi Buya Hamka, Haji Agus Salim dan ulama-ulama besar asal Sumbar lainnya, sangat sedikit ulama Sumbar yang terkenal di pentas internasional.

"Saya tak bermaksud membeda-bedakan. Tapi memang saya melihat beliau (Yunahar) sedikitnya ulama besar dari Minangakabu yang dikenal dunia," kata Shofwan seperti dilansir Republika.co.id, Jumat (3/1/2020).

Salah satu kepiawaian Yunahar dalam dunia keilmuan menurut Shofwan ialah, cerdas dalam menerjemahkan ilmu Alquran dan hadis agar mudah diterima oleh masyarakat.

Selain itu, ilmu-ilmu yang disampaikan Yunahar selama ini menurut Shofwan selalu sinkron dengan tantangan zaman saat ini.

Kemudian, almarhum Yunahar menurut Shofwan juga nyaris tidak pernah menjadi kontroversi. Walaupun selama hidup dan berkarir di kampus, di Muhammadiyah dan MUI, Yunahar adalah tokoh yang tegas dan teguh dalam memegang prinsip.

"(Yunahar) disegani ulama mana pun, meskipun berbeda pandangan," ucap Shofwan.

Shofwan mendoakan agar Yunahar husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, serta ketabahan.

Buya Yunahar Ilyas sebagai ulama dengan ilmu keagamaan mumpuni itu kini pergi meninggalkan umat untuk selamanya setelah mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sarjito Yogyakarta, pukul 23.47 WIB, Kamis (2/1).

Riwayat keilmuan putra Bukittinggi, kelahiran 22 September 1956 tersebut diakui banyak pihak sebagai ahli bidang tafsir sehingga pendapat keagamaannya kerap menjadi panduan beragama bagi sejumlah kalangan umat Islam.

Pak Yun atau Buya Yun, demikian sapaan wartawan di Majelis Ulama Indonesia kepada almarhum, memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri Taluk I di Bukittinggi lulus pada 1968. Ia kemudian melanjutkan sekolah di Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) Bukittinggi (lulus 1972) dan PGAN Padang (lulus 1974).

Di jenjang berikutnya, dia menimba ilmu di Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang (lulus 1978), Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su’ud Riyadh Arab Saudi (lulus 1983), Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang (lulus 1984).

Gelar master (S-2) dia dapatkan di Program Pascasarjana Aqidah dan Filsafat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (lulus 1996). Untuk titel doktor masih di kampus yang sama untuk kajian Ilmu Agama Islam (lulus 2004).

Kiprahnya sebagai tokoh puncak ormas Islam, Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak lepas dari keilmuannya. Guru besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu adalah tokoh sentral Muhammadiyah di Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) yang bertugas melakukan pengkajian, penafsiran, dan penerapan ajaran dalam agama Islam.

Di MUI, Yunahar sebagai wakil ketua umum bersama Zainut Tauhid Saadi dari Nahdlatul Ulama saling melengkapi dalam ikut membawa ormas Islam terkemuka itu membimbing umat dalam jalur Islam moderat atau rahmatan lil'alamin. Yunahar sebagai ilmuwan keagamaan Islam dan organisatoris andal, sedangkan Zainut selaku politikus mumpuni.

Di kedua ormas itu, Buya Yunahar membuktikan diri sebagai tokoh ulama yang mampu konsisten dalam ikut memandu umat Islam yang beragam latar belakang meski memiliki gen Muhammadiyah dalam denyut nadinya.

Dia membuktikan sebagai orang Muhammadiyah tulen, tidak menghalanginya berlaku adil dan independen dalam membimbing umat dengan Islam moderat, dengan salah satu cirinya toleran terhadap perbedaan pendapat keagamaan. (rep)

Editor:arie rh
Sumber:republika.co.id
Kategori:Uncategories

wwwwww