Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Menciptakan Data Kemiskinan yang Akurat Butuh Ketegasan Regulasi
DPR RI
13 jam yang lalu
Menciptakan Data Kemiskinan yang Akurat Butuh Ketegasan Regulasi
2
NasDem akan Terus Perjuangkan RUU PKS
DPR RI
11 jam yang lalu
NasDem akan Terus Perjuangkan RUU PKS
3
Urgensi RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Nasional
11 jam yang lalu
Urgensi RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
4
RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Disetujui
DPR RI
23 jam yang lalu
RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Disetujui
5
Hari Bhayangkara ke-74, Sahroni Dorong Kerja Polri atasi Kejahatan Siber
DPR RI
24 jam yang lalu
Hari Bhayangkara ke-74, Sahroni Dorong Kerja Polri atasi Kejahatan Siber
6
Bertambah 1.385, Total Kasus Covid-19 di Tanah Air 57.770 Orang
Kesehatan
23 jam yang lalu
Bertambah 1.385, Total Kasus Covid-19 di Tanah Air 57.770 Orang
Home  /  Berita  /  Lingkungan
Perayaan Imlek di Selatpanjang

Bunyikan Petasan saat Azan Berkumandang, Sejumlah Pemuda di Kepulauan Meranti Sampaikan Protes

Bunyikan Petasan saat Azan Berkumandang, Sejumlah Pemuda di Kepulauan Meranti Sampaikan Protes
Ilustrasi (Internet)
Jum'at, 31 Januari 2020 02:39 WIB
Penulis: Gunawan
SELATPANJANG - Sejumlah pemuda di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, yang mengatasnamakan Aliansi Pemuda Islam Peduli Meranti menyampaikan protes karena merasa terganggu oleh petasan yang dibunyikan saat azan dikumandangkan.

Adapun Aliansi Pemuda Islam Peduli Meranti yang terdiri dari Azimat Melayu Pesisir (AMP) Kepulauan Meranti, Taruna Merah Putih, HMI Cabang Meranti, KAMMI Meranti, Fokusmaker, IPPI, GMKIARA, dan Pemuda Nasional.

Petasan yang dibunyikan pada perayaan Imlek oleh warga Tionghoa yang dipusatkan di Jalan A Yani, Selatpanjang Kota, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, pada Kamis (30/1/2020) itu bersamaan dengan berkumandangnya azan Isya.

Saat itu, Safaat yang mengomandoi beberapa rekannya mendatangi Polsek Tebingtinggi dan langsung bertemu dengan Kapolsek Iptu Aguslan, dan saat itu Aguslan sedang memarkirkan kendaraannya di area parkir Polsek.

Safaat mengatakan, usai ia bersalaman dengan Kapolsek tanpa basa-basi disampaikannya maksud dan tujuannya itu tentang toleransi yang selama ini dikedepankan, tapi ia menyayangi dan menyesali etika yang dilakukan oknum yang membunyikan petasan saat umat muslim sedang melaksanakan shalat.

"Kami merase terganggu dengan petasan yang dimainkan oleh warga Tionghoa, kami anggap bisa menyepakati peraturan namun sedikit pun tidak ada pihak yayasan mereka maupun pihak terkait mencegah bermain petasan yang menyalahi aturan," tutur Safaat Alias Evay dalam logat melayunya.

Dijelaskan Evay, saat itu ia hendak melaksanakan shalat Isya, namun merasa terganggu oleh petasan yang dibunyikan saat azan dikumandangkan oleh muazin di Masjid Al-Falah yang tidak jauh dari lokasi tersebut.

"Kami meminta kedepannye masalah toleransi tolong betul-betul diperhatikan, mulai dari pakaian yang dikenekan disaat perang air sampai bermain petasan yang tak kene pade tempatnye," terang Evay dengan wajah kesalnya.

Dikatakannya lagi, masyarakat Tionghoa hendaklah menghargai masyarakat yang notabene muslim sangat mayoritas supaya keseimbangan yang selama ini dibangun tetap terjalin harmonis.

"Sebelum kami ke Polsek terlebih dahulu kami mencari Ketua Yayasan MAKIN namun tak kami temui sebab ramainye warga Tionghoa mengerumuni hampir setiap Jalan," jelas pria berkacamata itu.

Ia juga meminta kepada pihak kepolisian untuk tegas agar hal serupa tidak terjadi lagi di tahun-tahun mendatang.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Meranti, Dasuki SH, mengecam keras tindakan oknum yang memainkan petasan dan kembang api disaat komandang azan. Menurutnya, Yayasan Sosial Umat Beragama Budha (YSUBB) tidak mengajarkan umatnya tentang toleransi dengan baik.

"Harusnya kita saling menjaga kedamaian dan toleransi yang selama ini sudah terjalin baik dan harmonis, semua umat beragama ingin khusus menjalankan ibadahnya tanpa ada gang guna," kata Dasuki saat berbincang-bincang dengan sejumlah wartawan.

Kemudian kata Dasuki lagi, jika masih terulang lagi pihaknya tidak segan-segan melakukan sesuatu diluar kontrol.

Kemudian Ketua Demisioner Himpunan Mahasiswa Islam Dhayat A.md Kom (HMI) Cabang Meranti, juga menyesalkan kejadian tersebut, kalau mereka menghargai cara bertoleransi umat beragama tentu hal itu tidak akan terjadi.

"Kita berharap Forum Kerukunan Umat Beragama mengambil sikap sesegera mungkin atas kejadian itu," harap Dhayat.

Sementara itu, Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP Taufiq Lukman Nurhidayat SIK MH, melalui Kapolsek Tebingtinggi, Iptu Aguslan SH, membenarkan kedatangan Aliansi Pemuda Islam Peduli Meranti ke kantornya.

"Kita apresiasi dan terima atas masukan dan pengaduan oleh Aliansi ini, namun disamping itu silahkan juga temui Paguyuban Tionghoa terkait rasa protes adik-adik ini," ungkapnya.***


wwwwww