Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Seiring 'New Normal', Portal Akses 'Pemicu Konflik' Baiknya Dibuka
Lingkungan
17 jam yang lalu
Seiring New Normal, Portal Akses Pemicu Konflik Baiknya Dibuka
2
Kritik Mahfud MD, Saleh Daulay: Tak Bijak Bandingkan Kematian Covid-19 dengan Kecelakaan
Politik
24 jam yang lalu
Kritik Mahfud MD, Saleh Daulay: Tak Bijak Bandingkan Kematian Covid-19 dengan Kecelakaan
3
Tak Setuju 'New Normal'? Ini Pesan Hergun...
DPR RI
18 jam yang lalu
Tak Setuju New Normal? Ini Pesan Hergun...
4
Masih Banyak Daerah Zona Merah, Ketua DPD Desak Pemerintah Kaji Ulang Pilkada di Bulan Desember
Politik
24 jam yang lalu
Masih Banyak Daerah Zona Merah, Ketua DPD Desak Pemerintah Kaji Ulang Pilkada di Bulan Desember
5
Pilkada Desember 2020 Dinilai sebagai Pemerkosaan Politik
DPD RI
21 jam yang lalu
Pilkada Desember 2020 Dinilai sebagai Pemerkosaan Politik
6
Soal Pemurnian Virus, DPR Tegaskan Dukungan pada Penelitian menuju Vaksin
Kesehatan
23 jam yang lalu
Soal Pemurnian Virus, DPR Tegaskan Dukungan pada Penelitian menuju Vaksin
Home  /  Berita  /  Pendidikan

Sinyal Sulit, Alodia Daffa Harus Naik Turun Gunung Agar Bisa Belajar Online

Sinyal Sulit, Alodia Daffa Harus Naik Turun Gunung Agar Bisa Belajar Online
Alodia Daffa Sinanta harus mendaki bukit untuk mengirimkan tugas ke gurunya. (kompas.com)
Rabu, 06 Mei 2020 10:50 WIB
JAKARTA - Alodia Daffa Sinanta, siswi SMP yang tinggal di Dusun Petir B, Desa Petir, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, harus naik turun gunung agar bisa mengikuti pembelajaran sistem online. Sebab, di dusunnya sinyal internet sangat sulit.

Alodia tidak sendiri, puluhan siswa lainnya di dusunnya juga mengalami kesulitan serupa. Keadaan itu tentu saja membuat mereka sangat repot dan lelah.

''Ya capek, karena harus membawa buku banyak terus naik gunung. Apalagi saat puasa seperti saat ini,'' ucap Alodia, seperti dikutip dari Kompas.com.

Warisna, ayah Alodia, mengatakan, sejak wabah corona, pihak sekolah menerapkan belajar di rumah. Materi dan tugas sekolah pun disampaikan secara online.

Kebijakan belajar secara online itu membuat 21 siswa SD hingga SMA di Dusun Petir B harus mendaki Gunung Temulawak setiap kali menerima dan mengirimkan tugas ke gurunya.

''Anak-anak menaiki Gunung Temulawak yang cukup tinggi. Terletak di sebelah selatan dusun,'' kata Warisna, yang juga merupakan Kepala Dusun Petir B, saat dihubungi.

Warisna menceritakan, Alodia harus berjalan kaki sekitar 250 meter untuk sampai di kaki bukit.

Lalu, setelah beberapa temannya kumpul, mereka bersama-sama menaiki bukit.

Menurut Warisna, kondisi tersebut sudah dilakukan Alodia dan teman-temannya selama lebih dari satu bulan.

Sementara Kepala Desa Petir, Sarju, menjelaskan, desanya terletak di perbukitan karst. Hal ini diduga membuat adanya beberapa blank spot sinyal.

Salah satu wilayah yang mengalami blank spot itu adalah Dusun Petir B. Hal itu membuat buruknya sinyal seluler. Sejumlah wartawan pun sempat kesulitan saat hendak menghubungi Warisna.

Sarju menceritakan, saat ini belum semua penyedia jasa seluler beroperasi di wilayahnya.  

Akibatnya, setiap ada tugas, puluhan anak harus menyusuri jalan setapak ke atas bukit untuk mendapatkan sinyal yang bagus agar bisa tetap belajar.

''Siswa harus naik bukit yang tinggi agar memperoleh sinyal,'' katanya, saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon, Selasa (5/5/2020).***

Editor:hasan b
Sumber:kompas.com
Kategori:Pendidikan

wwwwww