Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
Politik
8 jam yang lalu
Tak Setuju hanya 95%, Komisi VIII DPR Minta BPKH Kembalikan 100% Dana Haji ke JCH
2
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
Umum
15 jam yang lalu
Petugas Kebersihan DKI Jakarta Nikahi Bule Cantik Austria, Begini Kisah Cintanya
3
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
Hukum
16 jam yang lalu
JPU KPK Sebut Imam Nahrawi Kerap Terima Uang Tidak Sah Melalui Asisten Pribadi
4
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
Ekonomi
10 jam yang lalu
Ada Lonjakan Tagihan Listrik, PLN Pusat Minta Maaf Alasan Pembayaran Dihitung Rata-rata Tiga Bulan
5
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
Kesehatan
13 jam yang lalu
RS Bantah Berikan Rp15 Juta Agar Pasien Meninggal Akibat Asam Lambung Jadi Pasien Covid-19
6
Ketua MPR Apresiasi Polri, Gagalkan Kembali Peredaran Narkotika Jenis Sabu Hampir Setengah Ton
Hukum
11 jam yang lalu
Ketua MPR Apresiasi Polri, Gagalkan Kembali Peredaran Narkotika Jenis Sabu Hampir Setengah Ton
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Kenali 3 Kelompok OTG Corona, Ketiganya Menularkan

Kenali 3 Kelompok OTG Corona, Ketiganya Menularkan
Ilustrasi virus corona. (int)
Kamis, 07 Mei 2020 13:36 WIB
JAKARTA - Orang tanpa gejala (OTG) virus corona dibagi dalam tiga kelompok. Namun ketiganya perlu diwaspadai, karena sama-sama berpotensi menularkan.

Dikutip dari Republika.co.id, dokter spesialis paru Rumah Sakit Persahabatan Andika Chandra Putra, mengingatkan, masyarakat perlu mengetahui ketiga kelompok OTG ini agar bisa melakukan tindakan pencegahan.

''Jadi secara definisi, OTG ini orang tanpa gejala berdasarkan definisi Kemenkes (Kementerian Kesehatan) atau Gugus Tugas (Gugas). (Mereka) itu berisiko terpapar dari orang-orang yang terkonfirmasi positif atau orang-orang yang punya kontak erat dengan yang positif,'' katanya, Rabu (6/5).

Yang dimaksud dengan kontak erat adalah orang yang memiliki kontak fisik dalam jarak satu meter selama sekitar 10-15 menit di dalam satu ruangan. Orang-orang yang pernah memiliki kontak erat dengan orang lain yang terkonfirmasi positif berisiko tertular dengan sebagian menunjukkan gejala dan sebagian besar lainnya tidak menunjukkan gejala.

''Bahkan kasus Covid-19 itu secara global, bukan hanya di Indonesia saja, 80-81 persennya sifatnya tanpa gejala atau keluhannya ringan,'' katanya.

Ia mengatakan ada kesalahpahaman masyarakat terkait definisi OTG tersebut. Menurut dia, masyarakat pada umumnya berpikir OTG adalah orang-orang yang sudah terkonfirmasi positif, tetapi tidak menunjukkan gejala.

''Sebenarnya kalau kita secara harfiah, dilihat dari kata-kata saja memang OTG itu (seolah) terkonfirmasi positif,'' katanya.

Namun, ia mengatakan orang tanpa gejala tersebut sebenarnya memiliki tiga klasifikasi. Klasifikasi pertama dari orang-orang tanpa gejala tersebut adalah OTG yang asimtomatik, yaitu orang yang tidak memiliki keluhan sama sekali.

''Jadi dia positif Covid-19 tapi tidak ada gejala atau keluhan,'' katanya.

Klasifikasi berikutnya adalah OTG yang presimtomatik, yaitu orang yang terinfeksi Covid-19 pada minggu-minggu pertama. 

''Jadi perlu diketahui fase infeksi Covid-19 ini ada tiga fase (yaitu awal, pertengahan, dan akhir). Nah, pada fase awal infeksi ini, sekitar 2-3 minggu, keluhannya umumnya sangat ringan atau keluhannya sifatnya lokal,'' katanya.

''Misalkan kadang sakit tenggorokan saja atau badan meriang saja atau kadang batuk-batuk sedikit. Bahkan pada fase ini bisa saja tanpa gejala,'' kata dia.

Fase presimtomatik itu disebut juga fase infeksius. Fase tersebut, menurut dia, sebenarnya adalah fase yang berbahaya bagi seseorang yang terinfeksi karena dapat menginfeksi orang lain tanpa sadar.

Klasifikasi ketiga dari orang-orang tanpa gejala tersebut adalah OTG simtomatik sangat ringan.

''(Simtomatik) sangat ringan itu dia mengeluh ada demam, meriang, batuk tetapi kita anggap seperti flu biasa. Dan masyarakat sering kali tidak waspada dengan gejala tersebut,'' katanya.

Ketiga kelompok tersebut, kata Andika, sebenarnya berisiko untuk menularkan ke orang lain. ''Jadi yang kita maksud dengan terkonfirmasi positif itu kalau sudah diperiksa (dan ada hasilnya). Tapi kalau orang-orang ini tanpa gejala dan mereka nggak sadar, jadi nggak bisa kita konfirmasi. Tapi sebenarnya orang-orang ini sudah mengandung virus yang bisa menulari ke orang lain. Ini bahaya sebenarnya,'' kata dia.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penelusuran. ''Jadi selama ini kita deteksi dininya hanya melalui gejala genesis atau melalui pengukuran suhu,'' katanya.

Ke depan, ia menyarankan surveilans yang lebih ketat berdasarkan tes PCR agar masyarakat menjadi lebih sadar. 

''Misalnya si A positif. Harusnya sekitar A ini anggota keluarganya harus ditelusur, harus diperiksa juga dengan PCR. Teman-temannya, kontak-kontaknya harus diperiksa juga. Itu yang kita sebut dengan tracing aktif. Kalau nggak, orang nggak akan tahu,'' sambungnya. ***

Editor:hasan b
Sumber:republika.co.id
Kategori:Kesehatan

wwwwww